Posts

Keroh

Image
Gelap tak mengambil mereka berdua malam ini. Saat mereka saling mendekap mesra di sela kedua tubuh yang berhimpitan, mereka melihat terang yang baru. Kemudian, helai pakaian terlepas berjatuhan ke lantai. Si lelaki merasa dirinya Adam yang baru saja diciptakan dan si perempuan menjelma Hawa yang telah lama ditunggu. Pasangan pasutri itu saling mendorong tubuh. Menabrak, menjatuhkan, bahkan memecahkan benda yang tak bertuan di sana. Mencari-cari tombol lampu di tepian tembok kamar. Sesudahnya adalah ibadah panjang tak tertangguhkan. ***** Ia bisa melihat sinar matahari menciumi kulitnya yang langsat. Kokok ayam berderai-derai lebih dini dari biasanya. Dan satu pesan baru saja masuk ke gawainya “Aku akan pulang lusa, sudah dapat tiketnya”. Hampir   26 bulan suaminya bekerja di Vietnam, menjadi buruh sortir surat- menyurat pemerintahan di KBRI. Setelah 2 tahun dikontrak oleh instansi dan tak diizikan pulang. Akhirnya, ia diangkat menjadi karyawan tetap di sana. Setelah perayaan besar bers

Awal & Kamboja

Image
Saat anak itu berkunjung ke pemakaman, pohon kamboja belum juga berbunga, menggelayut bertangkai dahan kosong dan sedikit meringkuk, seperti sedang melindungi siapapun dibawahnya meski gembur dicium sinar matahari. Si anak menenteng kumpulan bunga dan air siraman. Seorang diri. Anak ini baru saja resmi lulus sekolah menengah. Kelak ia akan menjumpai sesuatu yang lebih nyata dari sekedar buku pelajaran, meja belajar, dan papan tulis;  hidup . Kunjungan ini, sebagai sambutan ramadhan yang hampir tiba. Cepat sekali, batinnya. Serasa baru kemarin jumpanya. Mungkin semua akan mengira seperti itu. Bulan itu seakan merayap, berjalan, atau melompat dari pantulan ke pantulan lain, dan inilah dia, datang penuh kebaikan. Tepat di Blad 16, anak itu berhenti. Lalu membelok menyusuri nisan-nisan disana, setapak gumpalan tanah dijejaki. Ia menghitung langkahnya sebanyak 30 atau barangkali 32 tapakan. Agar sampai di sana. Di patok makam sang ibu. Sampai sudah sergahnya. Ia lihat patok kuburan itu, kin

Usaha Menulis Jakarta Cantik

Image
Kalau kamu punya uang lima puluh ribu, kamu bisa membeli hasis di pertigaan jalan itu. Sebelumnya, tentu harus berhati-hati, banyak yang mengawasi. Tapi, daerah kampus tak perlulah dicurigakan. Dengan jumlah uang sekian, kamu sudah mendapatkan dua linting, kalau pintar melinting tentu bisa dapat tiga. Jangan lupa membeli kertas papir sebagai pembungkusnya. Dan bakarlah.  Lima depa di sebrang jalan, kamu juga bisa membeli minuman keras: Bintang, Heineken, Anggur Merah, dan pelbagi merek lainnya. Salah satu resep favorit kesukaanmu adalah Abidin (Anggu Merah campur bir dingin). Itu pula kesukaan rakyat sekitar sini untuk teler berantakan. Tapi, janganlah kau melakukan itu semua kalau belum cukup umur. Kamu pun dapat membawa batang kayu dan melemparnya, disana ada seekor anjing menggonggong kilafah berlalu, bukan itu harfiahnya. Anjing itu akan sudi mendekatimu. Jangan lupa, kau beri anjing itu makan, mungkin kaldu tulang atau jeroan. Dengan begitu, kamu sudah bersedekah. Sesederhana it

Dipan Terakhir

Image
Mengapa Begitu Bahagia? Jika Sedih Lebih Manusia Kita tertawa terbahak-bahak menghabiskan waktu di ujung jalan dekat danau. Pernah aku tanya padamu, apakah yang sedang kita lakukan ini adalah bentuk bahagia? Kamu mengangguk dengan yakin. Lalu, kembali tertawa setelah menghitung berapa kali orang yang memakai baju biru di seberang sana akan lompat saat ia dikejutkan oleh temanya sebab ia latah. Tebakanku selalu salah, begitu pula dengan tebakanmu. Namun, tentu kau selalu bisa memberi alasan bahwa tadinya aku menebak sekian tapi dalam hati, setelah itu aku pasti mengacak-acak rambutmu sambil kesal. Kita dua remaja yang saling melengkapi hari itu, juga mengiyakan teori tentang bumi yang berhenti sebentar ketika sedang bahagia, terutama jatuh cinta. Tapi, pertanyaannya apa ini akan selamanya?  Gelap resmi turun, merayap dari sisi-sisi langit bagian tengah menjalar dan menyeluruh. Kau mengajaku untuk pulang, seharusnya aku dapat menolaknya. Aku dapat bahagia sampai besok pagi atau lusa, ata

Menemui Si Tukang Onar Dalam Bentuk Masygul

Image
Saya berjumpa dengan Si Tukang Onar saat mas Eka Kurniawan mengunggah foto ucapan selamat Hari Buku Internasional. Saat itu beliau unggah dua buku yang diterjemahkannya dari penulis John Steinbeck berjudul Cannery Row dan Si Tukang Onar karya Marxim Gorky. Dua-duanya langsung saya beli di layanan perdagangan elektronik terbaik saya: Tokopedia. Seharusnya saya terkesima tak habis-habis dengan Cannery Row karena merupakan salah satu buku peraih Nobel Sastra. Tapi, Si Tukang Onar atau judul aslinya Tales of Italy lebih mematil saya, kumpulan cerita pendek di dalamnya lebih licin, mungkin karena banyaknya percakapan antar satu tokoh ke tokoh lainnya. Mas Eka juga berhasil mengalihbahasakan dengan apik, tanpa mengubah makna kata — yang menurut saya, kalau tidak disesuaikan oleh bahasa Indonesia yang baik dan benar bakal tidak ngena artinya.      Lompatan dari cerita satu ke cerita lain, memilik alur yang mencekam, dominan gelak tawa, menuai pertanyaan-pertanyaan usil setelah membaca, atau