Posts

Usaha Menulis Jakarta Cantik

Image
Kalau kamu punya uang lima puluh ribu, kamu bisa membeli hasis di pertigaan jalan itu. Sebelumnya, tentu harus berhati-hati, banyak yang mengawasi. Tapi, daerah kampus tak perlulah dicurigakan. Dengan jumlah uang sekian, kamu sudah mendapatkan dua linting, kalau pintar melinting tentu bisa dapat tiga. Jangan lupa membeli kertas papir sebagai pembungkusnya. Dan bakarlah.  Lima depa di sebrang jalan, kamu juga bisa membeli minuman keras: Bintang, Heineken, Anggur Merah, dan pelbagi merek lainnya. Salah satu resep favorit kesukaanmu adalah Abidin (Anggu Merah campur bir dingin). Itu pula kesukaan rakyat sekitar sini untuk teler berantakan. Tapi, janganlah kau melakukan itu semua kalau belum cukup umur. Kamu pun dapat membawa batang kayu dan melemparnya, disana ada seekor anjing menggonggong kilafah berlalu, bukan itu harfiahnya. Anjing itu akan sudi mendekatimu. Jangan lupa, kau beri anjing itu makan, mungkin kaldu tulang atau jeroan. Dengan begitu, kamu sudah bersedekah. Sesederhana it

Dipan Terakhir

Image
Mengapa Begitu Bahagia? Jika Sedih Lebih Manusia Kita tertawa terbahak-bahak menghabiskan waktu di ujung jalan dekat danau. Pernah aku tanya padamu, apakah yang sedang kita lakukan ini adalah bentuk bahagia? Kamu mengangguk dengan yakin. Lalu, kembali tertawa setelah menghitung berapa kali orang yang memakai baju biru di seberang sana akan lompat saat ia dikejutkan oleh temanya sebab ia latah. Tebakanku selalu salah, begitu pula dengan tebakanmu. Namun, tentu kau selalu bisa memberi alasan bahwa tadinya aku menebak sekian tapi dalam hati, setelah itu aku pasti mengacak-acak rambutmu sambil kesal. Kita dua remaja yang saling melengkapi hari itu, juga mengiyakan teori tentang bumi yang berhenti sebentar ketika sedang bahagia, terutama jatuh cinta. Tapi, pertanyaannya apa ini akan selamanya?  Gelap resmi turun, merayap dari sisi-sisi langit bagian tengah menjalar dan menyeluruh. Kau mengajaku untuk pulang, seharusnya aku dapat menolaknya. Aku dapat bahagia sampai besok pagi atau lusa, ata

Menemui Si Tukang Onar Dalam Bentuk Masygul

Image
Saya berjumpa dengan Si Tukang Onar saat mas Eka Kurniawan mengunggah foto ucapan selamat Hari Buku Internasional. Saat itu beliau unggah dua buku yang diterjemahkannya dari penulis John Steinbeck berjudul Cannery Row dan Si Tukang Onar karya Marxim Gorky. Dua-duanya langsung saya beli di layanan perdagangan elektronik terbaik saya: Tokopedia. Seharusnya saya terkesima tak habis-habis dengan Cannery Row karena merupakan salah satu buku peraih Nobel Sastra. Tapi, Si Tukang Onar atau judul aslinya Tales of Italy lebih mematil saya, kumpulan cerita pendek di dalamnya lebih licin, mungkin karena banyaknya percakapan antar satu tokoh ke tokoh lainnya. Mas Eka juga berhasil mengalihbahasakan dengan apik, tanpa mengubah makna kata — yang menurut saya, kalau tidak disesuaikan oleh bahasa Indonesia yang baik dan benar bakal tidak ngena artinya.      Lompatan dari cerita satu ke cerita lain, memilik alur yang mencekam, dominan gelak tawa, menuai pertanyaan-pertanyaan usil setelah membaca, atau

Kamu Diculik Alien?

Image
Dari Afjar Subgandi,  Qorun hilang karena tenggelam oleh hartanya sebab tamak dan lupa diri. Michael C. Rockefeller hilang saat melakukan dokumentasi, perahu kanonya tenggelam saat berpapasan dengan Suku Asmat. Tapi, kamu hilang, dengan tanpa sebab. Ini apa sih tujuan kamu? Apa ada dari cita-cita masa kecilmu untuk hilang dan meninggalkan sebuah perasaan yang telah kau bangun megah pada orang diluar diri kamu? Kamu hilang setelah percakapan-percakapan panjang kita yang kukira semuanya nampak berjalan sesuai rencana. Tak ada satu katapun olehku yang melenceng dari kamus besar bahasa Indonesia dan melukai hatimu, bukan? Apa salah aku, puan? Atau tertawaku terlalu kencang setiap kali kita telfonan menuju malam, sehingga membuatmu sedikit antipati dan memilih untuk menjauh, bahkan bukan menjauh. Kamu hilang! Wiji tukul, Suyat, dan Yani Afri semuanya hilang sebab melawan rezim. Kamu hilang sebab melawan nasib ketika mengenalku. Padahal peretemuan-pertemuan kita semuanya berjalan dengan baik

Halo

Image
Inhale.  Exhale. Growl! Rasa-rasanya gak perlu lagi dijelasin apa yang terjadi di 2020. Line Today, Vice Indonesia, Kumparan ataupun media buzzer lainya sudah meringkasnya dengan baik. Hmmm, setelah 7 bulan belum berani untuk nulis blog, kali ini mari kita coba lagi. Banyak cerita yang mau disampaikan tapi semuanya kadang cuma mentok di lembar putih Ms.Word aja. Dewasa ini, aku jadi setuju kenapa Tobias Van Schenider bilang “ Routine kills creativity” . Balada harian jadi pekerja   membuat diri jadi melakukan aktivitas yang itu-itu aja dan malas coba hal baru lainnya. Mengais validasi saban hari, bangun kepagian, mandi kesiangan, sarapan kekenyangan dan pelbagai hal lainya. Harusnya aku masih punya opsi untuk tetap hidup dengan mencari value di dalamnya. Tapi, pemikiran yang barusan bisa direalisasikan kalau banyak duit, kenyataannya kita butuh pekerjaan dan keamanan finansial setiap bulannya untuk tetap hidup. Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Sedikit menyebalkan. Sejum