Jomblo Mendaki

Kalau mendaki jangan main-main. Gunung itu serius. Jika kau main-main maka gunung akan memainkanmu lalu menelanmu - Pesan PGPI
Ganteng kan?


Sesudah kalian lihat foto diatas. Iya, waktu gue di Puncak Mega itu kalian harus tahu dulu pengrobananya seonggok manusia ceking mendaki dan tak mengenal lelah dikala itu. Let it go.

Kita mulai dari tanggal 23. Bulannya masih Juni. Sebelum tanggal ini gue dan teman sepermainan merencanakan sesuatu hal yang aneh untuk didengar. Sebelum menyebut hal ini gue sudah siap akan konsukuensinya. Lalu kita berlima teriak "oke, fix, Gunung Puntang!" . Mendaki, iya itu hal tersulit diwaktu itu dengan melihat kondisi gue yang mempunyai badan ceking dan tak tahu arah jalan pulang. Dan teman-teman sepermainan yang tak pernah punya pengalaman mendaki gunung setinggi itu. 2223 mdpl itu menurut kita sudah tinggi, karena kita masih pemula. Kenal medan perjalanan mendaki aja enggak tahu. Ada beberapa hal yang selintas tepikir oleh gue. Nanti kita bakal ngechamp di hutan belantara, berarti kita akan menyendiri dan menjauh dari keramaian kota yang ramai akan tempat prostitusi, Doli contohnya. Eh. 

Lalu bagaimana dengan keadaan disana, bagaimana ada binatang buas menyerang kita dengan gesitnya dan kita akan berakhir sebagai seonggok kuman di perut sang binatang. Lalu bagaimana cuaca dan suhu disana, dingin, pasti! Sedangkan di Karawang itu identik dengan panasnya apalagi siang, panas dicampur dengan cabe-cabean yang bersiap bergentayangan nanti diwaktu sore. Makin panas.

Dengan keteledoran kita, kita bener-bener sepakat untuk tetap berangkat. Semua telah gue rinci di SimpleNote gue buat barang apa aja yang bakal kita bawa. Mulai dari persiapan logistik, fisik, konsumsi, peralatan hingga material kita siapkan. Gue mulai lari lari kecil di komplek perumahan gue, lari 2 kali puteran keringet udah membasahi seluruh tubuh ceking nan tak berdosa ini, hingga lari 10 puteran gue pun berujung koma. Setelah itu peralatan gue persiapkan malamnya, alat-alat penting semua gue bawa, bantal, guling, baju, kolor, celana dalam, celana training. Bokap yang ngelihat gue begitu gesit tak menentu mengambil barang akhirnya nyeletuk "kenapa enggak sekalian aja lemari kamu bawa ? Yang kamu isiin ibu sama ayah" gue pun mati rasa, apakah ini terlalu kebanyakan untuk mendaki? Lalu ibu gue nyamperin dan mengurangi barang-barang yang tidak terlalu penting untuk dibawa. Mereka mengerti dan mereka sayang.

Keesokan harinya, tepatnya hari senin gue bangun dengan lesunya dari tempat terindah gue, ya tempat tidur. Dan baru teringat kalau sekarang adalah hari pendakian. Gue langsung berlari kencang-kelabakan-kesandung untuk mandi dengan sabun dan mengganti baju untuk mendaki. Yeaaa! Kita mendaki berlima: Gue, Bahrudin, Fadlil, Iqbal dan Fedli. Iqbal message gue, katanya dia sudah berada di tempat biasa dia menunggu gue. Begitu so sweet. Dia tahu apa yang kumau. Najis.  

Setelah ke tempat yang tidak diberitahukan namanya, baru ada gue dan Iqbal. Yang lain katanya masih di Sekolah. Setelah sekian lama menunggu tukang angkot lewat dengan indahnya mengemudi akhirnya 3 makhluk itu datang dengan tanpa dosanya. Hampir 1 jam gue nunggu. Sedikit toleran lalu memaafkan dengan tidak ikhlas. Akhirnya pun kita pergi ke rumah Bahrudin untuk memeriksa segala persiapan. Sesampai di rumah Abah (panggilan Bahrudin) gue bongkar tas lagi dan memeriksa lagi barang apa saja yang tertinggal. Ternyata tidak ada, mungkin semangat yang masih tertinggal karena masih belum ada yng nyemangatin, setelah mengganti pm dan dp bbm akhirnya ada beberapa orang yang tidak sengaja menyemangati kita. 

Ini tidak meyakinkan untuk mendaki.

Prepare pun telah siap. Kita pun berdo'a semoga di perjalanan kita tidak di apa-apakan karena kita masih Jomblo masih pengin punya istri terutama malam pertamanya itu, lho. Selesai berdo'a kita langsung pergi, kita sedikit memberi salam selamat tinggal untuk Karawang, takutnya enggak pulang lagi. Dan dari suhunya Karawang serasa mengusir kita dengan merdu. Sedih.
Di perjalanan gue ngebuat video untuk dokumenter nantinya, semua video yang gue buat bakal gue satuin dan nanti bakal jadi video yang berjudul 5mm, ini adopsi dari film best seller 5cm. Selepas meninggalkan Karawang, Purwakarta menyambut kita, setiap lewat kota ini selalu kagum akan panorama dan tata kota yang rapih dan keren akan karya seni bangunannya.

Singkat cerita kita nyampe di Bandung. Gue mulai ngebuka aplikasi Navigator untuk memberi arah jalan ke tujuan kita. Navigator pun berfungsi dengan cerdas, yang buat enak diwaktu ngebuka aplikasi ini adalah suara cewek yang merdu dan mendesah. Kita sudah hampir meninggalkan Bandung Kota dan beranjak ke arah Bandung Selatan, namun perut pun berdendang dengan irama yang sangat khas "laper, kampret!" iya gue tahu kok. Kita berhenti di jalan Soekarno-Hatta dan memesan sejumlah makanan untuk tubuh kita agar terus fit sampai tujuan, beruntungnya kita berhenti di tempat yang tepat. Iya disisi jalan Kampus. Mata pun bersih kembali setelah melihat pemandangan wanita yang berjajar disisi jalan, setelah sekian lama monoton melihat yg itu itu aja di Karawang. Di Bandung banyak tipe peyeum, dan yang membuat mata tercuci adalah peyeumpuanya itu. Aneh, orang cantik disini mainstream sekali.

Gue pun membuat video kembali dan sedikit merekam wanita kampus di samping kanan meja makan. Cantik, bener.

"Makan!" sambut gue sambil menawarkan ke cewek yang disebelah. Dia hanya tersenyum seikhlasnya lalu meninggalkan uang di meja makan. Sakit, setidakgantengkah gue di tipe Cowok Bandung. Sesudah makan, Bandung Selatan diguyur hujan. Gue pun pake jas hujan. Lalu berangkat lagi. Ada satu hal yang buat gue kesel yaitu lampu merah dibagian jalan menuju kota Bandung Selatan. Sudah hujan dikala itu, lampu merahnya lama banget 180 detik. Udah gitu seperempat kita jalan ada lagi lampu merah yang kayak begini. Bukan kesel sih, tapi ngertiin atuh mpu kita sedang kehujanan, masa harus menununggu selama itu untuk melewati jalan, ini tuh sama kayak nunggu cewek yang telah lama ditunggu untuk datang, abis itu dia pergi lagi setelah seperempat jalan PDKT. Kamvret.

Setelah melewati zona lampu merah itu, kita pun sampe di sebuah daerah di Bandung Selatan. Gue terus ikutin Navigator dan pada akhirnya Navigator menyesatkan kita. Iya, ada beberapa kesalahan disin,i gue salah ngeset si Navi, Google terlalu peka akan jalan yang menyempit dan rusak. Aduh. Gue pun tersesat di belantara desa dan tak tahu arah jalan gunung, akhirnya pun cara bersosialisasi adalah paling ampuh. Gue pun bertanya arah untuk kesini kemana, kesana kemana. Puyeng lagi. Ternyata pendapat orang begitu pro dan kontra. Ada yang kesini dan kesana. Dengan kesoktahuan gue, gue sendiri pun yang harus menemukan arah jalan yang benar. Dengan melihat beberapa pentujuk, akhirnya kita kembali ke jalan yang kita anggap cukup benar. 


Ini yang membuat sesat. Tapi makasih.

FYI. Google Map hanya bisa menunjukan arah yang baik untuk kota, kalau di set ke pedesaan atau gunung, maka ia akan kacau. Perhatikan, dan berhati-hatilah! Semakin malam. Gara-gara nyasar tadi hari semakin malam, kali ini jam sudah menunjukan angka 9. Ini sudah waktunya mencari penginapan, bukan Villa melainkan Mesjid atau Pom Bensin, dan kita fix untuk melanjutkan perjalanan besok saja. Akhirnya kita sepakat untuk menginap di Pom Bensin Banjaran. Tanpa berpikir panjang kita tetidur pulas di atas ubin yang dingin dan hati yang gelisah akan esok utk mendaki... To be continued..

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Awal & Kamboja

You Must Be Strong, Brother