Nekad Menjadi Tekad

Nah, ini adalah lanjutan cerita kemarin. Yang belum tahu asal mula adanya cerita part 2 ini, baca dulu part 1.

Setelah kita tidur sekain lama dan terdampar di Pom Bensin Banjaran. Kita pun terbangun karena Ayam sudah berkokok dengan merdunya, gue lihat jam, masih ada waktu buat sholat subuh, gue bangunin semua temen-temen buat sholat. Sesudah sholat, Iqbal temen seperboncengan motor gue bilang ke gue, katanya sepatu Adidas nya hilang, dan setahu gue itu adalah Adidas Original. Gue gak percaya, gue coba cari kiri-kanan mushola di Pom Bensin, dibawah mobil truk yang sedang ikut menginap, gue obrak-abrik toilet wanita yang ternyata ada wanita di dalamnya yang berujung gue dipukulin gara-gara disangka mengintip. Sepatu Iqbal bener-bener hilang pake banget, yang paling khawatir dia nanti pake apa buat ngedaki,alas kaki kah? bisa-bisa tinggal dengkul Iqbal turun dari gunung kalau cuma pake alas kaki, dan beruntungnya dia bawa sepatu dua.  

Lima menit berlalu, Fedli temen gue teriak cari jaket Adidas nya juga. Gue cek-cek, gue bongkar tas temen-temen gue dan gak ada, oke fix! Jaket Fedli juga hilang, ini maling ngerti fashion banget, semua merk Adidas diambil. Maling Adidas mungkin namanya. Hari itu kita berduka atas kehilangan 2 barang pelindung kita. Setalah kejadian itu, kita beres-beres dan akhirnya semua selesai, kita siap berangkat. Dan tiba-tiba Abah, gak-karuan-cari-sana-sini tas nya. Tas? Ah yang bener, masa enggak ada? Gue dan temen seperterong-terongan bantu cari, dan hasilnya pun nihil enggak ada juga, tas Puma Abah hilang. Dan gue tanya, ada apa aja isinya bah? Katanya sih enggak ada alat yang begitu penting, namun kolor, celana ganti, baju, dan kaos kutang itu raib! Nasib, ini apa yang terjadi? Mengapa Banjaran begitu kejam, mengapa? Ah, mereka yang hilang tak akan bisa kembali lagi. Hari itu kita bener-bener berduka sekali. Dan dengan pemikiran yang gue pelajari dari Cak Lontong bahwa semua barang yang hilang itu kebutuhan pribadi kita sehari-hari, jadi gue bisa simpulkan kalau maling ini bukan maling Adidas namun maling yang sedang mencari bahan sandang untuk kehidupannya. 

Soalnya kalau pake logika, kenapa enggak smartphone kita yang diambil, padahal malam itu smartphone begeletakan dibawah seperti diobral di pasar, aneh. Sedih, kita balik lagi sebentar ke part 1, ke belakang sedikit, ini semua gara-gara gue yang ngebuat kita nyasar. Aduh Navigator, kalau kau tidak membuat aneh semua tidak akan terjadi. Sedikit melupakan, akhirnya pun kita fix untuk tetep lanjutkan perjalanan dengan Abah meminjam seluruh bahan sandang nya ke gue. Perjalanan menuju kaki Gunung Puntang 20 km lagi. Semangat! Hari itu begitu dingin, merasuk, pedih sekali Banjaran bagi kami.

Di perjalanan menuju kaki Gunung Puntang gue buat video documenter lagi, semuanya jangan sampe terlewatkan. Setelah kita berhenti-nanya-berhenti-nanya akhirnya kita pun telah sampe di kaki Gunung Puntang. Jalan nya berliku-liku tapi naik.. Kita tak lupa mengabadikan moment ganteng ini di Smartphone, semua ini demi melupakan sedikit cerita pedih tadi di Pom Bensin. Sesudah selfie dan foto ganteng, kita pun melanjtukan perjalanan.. And finally we’re finding PGPI. FYI, PGPI adalah Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia, semacam organisasi pencinta alam dan yang pasti pendaki di Gunung Puntang, PGPI ini menyediakan jasa gratis mendaki. Sedangkan kalau masuk buper/bumi perkemeahan itu butuh bayar 20rb/10rb tapi untuk PGPI ini gratis!!! Dan juga dia peduli akan pendaki yang ingin mendaki.

Inilah kita.



Sebelum kita mendaki, semua barang diperiksa kembali sama PGPI, apa aja barang-barang yang kita bawa, mereka gerepe-gerep. Dan, drama pun terjadi. Barang yang kita bawa terlalu banyak! PGPI menyarankan untuk menyewakan tas Carrier (Tas untuk para pendaki gunung), berhubung di antara kita enggak ada yang punya Carrier, kita akhirnya nyewa ke PGPI untuk 2 hari. Akang PGPI ngajarin kita cara packing yang baik dan romantis… Sedikit tapi berguna, bawalah barang-barang yang dibutuhkan saja, jika ingin bawa barang yang diinginkan jangan terlalu banyak, nanti ngerepotin… Setelah 2 jam lebih persiapan packing akhirnya PGPI menyatakan kita halal untuk mendaki, Alhamdulillah! Tas Carrier nya berat banget, kita sepakat buat bergantian nanti disaat mendaki. Lalu akang PGPI berpesan.

“Jangan main-main diatas! Yang bener, watak kalian akan kelihatan jika sudah diatas, jaga terus kekompakannya, cemungudhhh!” Kata terakhir itu sudah gue modifikasi kok :D

Dengan pesan yang begitu menggelora, akhirnya pun kita mulai pendakian, jalurnya begitu samar-samar, tanah dan juga banyak ilalang. Semangat mendaki dibagian awal…. 10 menit kemudian kita istirahat, si Iqbal keberatan bawa Carrier nya… Rasanya pengin gue cabut lagi kata-kata, planning gue untuk naik gunung, dan mainset kalau naik gunung itu gampang. Duh, capeknya setengah hati. 30 menit kita mendaki, belum sama sekali ketemu marka penunjuk jalan. 

Gila, ini gila, segila-gilanya orang gila!! Capek nya sudah terasa, Iqbal terasa berat untuk membawa Carrier dan akhirnya bergantian tas. Giliran Abah yang ngebawa, kita lanjutkan perjalanan, “man jadda wajadda!” teriakan Fadlil temen gue dari belakang, semangat! Semua tangan di genggam ke atas, keringat mulai mengucur dengan deras nya, kupluk topi yang gue pake telah basah oleh keringat di kepala, mungkin karena otak yang harus bekerja lebih keras memikirkan plan sampai ke puncak! Seluruh baju telah kotor terkena benturan-benturan tanah yang ada dikiri dan samping kanan jalur mendaki. Kalau ada iklan bilang berani kotor itu baik, mungkin semesta menyatakan kita adalah orang baik.

Sebelum masuk belantara hutan

Marka pertama! Yea! Baru marka pertama, selama seluruh pengorbanan dikeluarkan baru marka pertama? Asudahlah… Sedangkan ada 4 marka dan 4 pos. Ini ibarat FIFA World Cup baru fase group dan baru melawan 1 tim. Masih jauh perjalanan kita. Jauh, diatas awan sana, telunjuk gue menunjuk ke arah yang berkabut itu. Lalu kita berlima, membuat motto untuk selalu berpegang teguh untuk sampai puncak agar tidak sedikit-sedikit istirahat, istirahat sedikit-sedikit. Motto kita yaitu jadikan nekad menjadi tekad, lalu nikmatilah alam ini! Bismillah!

Saling bantu membangunkan teman, lalu melanjutkan lagi perjalanan, seperti next up, hati-hati lantai licin, terjang, selow, stop itu menjadi kode dari pemimpin untuk yang paling belakang. Next up untuk melanjutkan perjalanan jika ada yang berhenti sebelumnya, hati-hati lantai licin untuk tanah yang licin, terjang untuk jalan yang terjal, selow untuk perlahan jalannya, stop untuk berhenti menunggu teman paling belakang. Pendakian mulai masuk ke arah hutan belantara, benar-benar hutan, dan hanya ada satu jalan, yaitu jalan pendakian. 

Akar sebagai pegangan kita, tongkat kayu yang kita ambil dibawah tadi sebagai penompang jalan kita, dan motto yang telah kita buat tadi sebagai dasar gagasan kekuatan kita. Backsound suara elang dan lagu Nidji-5cm berdenyut kecang di nadi gue.. Pendakian ini sama seperti hidup, penuh masalah dan cobaan, tapi lihat saja nanti setelah kita melewati ini semua.. siapa yang akan tersenyum lebih dulu akan indahnya alam ini..
Hampir 2 jam lebih kita mendaki, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat di marka ke 2, di marka 2 ada tulisan SELTER DZUHUR, tandanya untuk sholat dzuhur, berhubung waktu itu belum dzuhur jadi perjalanan kita lanjutkan setelah kita nyemil sedikit makanan yang kita bawa. 

Selfie ditengah hutan

Dan peralihan tas Carrier berada di gue, berat. Lalu gue berbicara dengan tulang-belulang gue “tulang mohonlah, jangan kropos!” untung gue sudah berlatih lari waktu itu jadi enggak bakal koma lagi…. Sesampai disuatu pemberhentian yang lumayan menurut kita bagus tempatnya dan juga sudah masuk waktu dzuhur, akhirnya kita berhenti untuk sholat dzuhur dan yang buat gue terheran-heran ada suara adzan dari bawah yang terdengar sampai posisi gue, padahal waktu itu posisinya kita sudah jauh sekali dari dasar… Allah memang Maha Besar. Gue pun Adzan dan iqomah, rasanya itu deket sekali dengan sang maha pecipta, Allah SWT. Hanya suara alun angin dan gemercik air yang menemani kita sholat. Allahuakbar.

Alhamdulillah masih bisa Adzan dan Iqomah. Mari bersyukur.

Setelah sholat, kita lanjutkan lagi perjalnan, sekarang jalur pendakian semakin terjal sudah sampai 110-140 derajat sangat gawat. Gue dan temen seperhutanan gue selalu saling mengingatkan untuk focus pada jalur dan berhati-hati! Luarbiasa….  Dan benar saja Teamwork yang sangat dibutuhkan dikala itu. Saling bantu itu perlu, saling peduli akan hal sekitar itu harus, dan saling menunggu itu penting. Semua bener, semua terpakai. Betis kita seraya pura-pura menguat, bahu ini terasa berat namun selalu terkalahkan indahnya jika terpikir sudah sampai puncak nanti, dan mata ini yang harus selalu jeli akan hal sekitar. Gue sempet nanya ke Akang PGPI kalau di atas itu biasanya ada hewan buas enggak? Katanya “ah paling Cuma babi hutan, ular, anjing, dan harimau doang” doang? Gingsulmu terbang? Harimau dibilang doang, lalu diperjels lagi, Harimau itu adanya di Gunung Malabar kok, kalau daerah Puntang suka enggak ada kok, jadi santai aja. 

Yang penting positive thinking aja bahwa kalian bisa sampai puncak dengan selamat, tidak bepikiran apa-apa. Nafas tersenggol-senggol, kabut mulai menyatu dengan tubuh ceking gue, rasanya benar-benar sepi, pantas saja banyak orang yang ingin ke gunung itu untuk refresing dan mencari kesunyian yang damai. Ternyata keadaannya benar, benar damai dan sunyi. Lalu mulut kita keluar asap, semacam di film-film biru luar negeri, karena efek suhu badan yang kedinginnan. Ini tandanya Kabut telah bersama kita….. to be continued

Comments

  1. Tami.. Tidakkah kau sayang pada pembacamu? Udah tanggal 31 dan masih belum ada kelanjuan? Fix. Kita putuss!

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan putus dong, aku bs jelasin semuanya...... itu squelnya udh komplit man :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles