Manusia Telah Di Puncak Mega.

Kabut telah bersama kita... Gue lihat pantat Fadlil keluar asap, gue kelabakan gue takut pantatnya kebakaran gak menentu, gue akhirnya mengeluarkan air lalu menyiramkan ke pantat Fadlil, langsung mankhluk itu berkata "semprul, lo kenapa nyiram air ke pantat terganteng gue ini!?" dengan muka berantakan Fadlil teriak. Gue diem, angin diem, lalu mulut menyaut "gue kira pantat lo kebakaran". Fadlil menatap gue, dengan tatapan homo "ndak, ini tuh emang begini tam, kalau lagi di gunung, apalagi udah ada kabut, tubuh dan pantat suka keluar asep sendiri!" Pantes, gue kira lo bakal kebakar lalu menjadi abu. Setelah kita berjalan lebih jauh dan sudah melewati beberapa marka, akhirnya gue dan teman seperterong-terongan mendapati pos 4. 

Iya, setelah gue melewati daerah Batu kereta, disana banyak banget pengunjung yang secara sengaja membuat coretan patah hati atau menulis nama pacar gaibnya itu di batu. Mulai dari kata "ijem synkxx supra" sampai "11-12 akoeh cinta kmoeh smpei matiee". Beraneka ragam tulisan. Setelah beberapa menit beristirahat, kita melanjutkan perjalanan lagi, dengan peralihan tas Carrier di Fedli, ternyata makin keatas jalannya makin sempit, sesempit hatimu yang tak pernah membuka sedikit untukku. Dan juga makin sedikit akar, kebanyakan rumput, gue semakin ragu kita akan sampai ke puncak kalau jalannya begini mulu, gue sudah membayangkan kita terjatuh, terpental lalu menjadi jomblo hingga akhir hayat. Pedih sekali, lalu gue inget kembali dengan motto kita, dan tatapan temen-temen gue begitu tajam seperti orang yang meyakinkan pacarnya kalau kita bisa melewati ini semua.. Lalu kita melanjutkan lagi, dengan kepala, hidung dan pantat mulai sempoyongan. Kita butuh sedikit motivasi, ya setidaknya seperti iklan sabun di TV yang dibintangi oleh Luna Maya, tapi Ariel nya diganti sama diri kita sendiri.... ah tapi itu hanya khayalan semata.. lalu temen gue, Fadlil, mulai ngacok untuk berbicara, sewaktu kita melihat burung terbang dengan indahnya, Fadlil langsung menyeltuk "itu elang kan? Elang, bawa kami ke atas puncak sana!?" Mungkin dalam pikiran joroknya itu, dia sedang membayangkan film Indosiar yang ada Elangnya. Lalu kita semua ketawa-kelabakan-tak-menentu. Kita pun mendaki lagi, dan akhirnya kita menemukan Pos 2. Dan, kita memutuskan diri untuk membuat tenda di Pos 2.

FYI buat kalian semua, yang nantinya bakal mendaki gunung, tepatnya ke gunung Puntang, lebih baik buat tenda di pos 2, karena pemandangannya langsung nyorot banget ke arah bawah, jadi kita bisa lihat indahnya malam di Banjaran dari atas. Jika sudah malam, lampu-lampu dibawah semua menyala dan membentuk sebuah garis dan juga rasi bintang yang gak tahu berbentuk apa. Tapi, bener-bener indah. Pas malam gue membuat nasi, dengan beras yang kita bawa seadanya dan juga air yang seadanya, kita gak nyuci beras dulu, karena takut gak cukup buat minum, jadinya kita langsung masak itu beras tanpa dicuci. Dan akhirnya kita bener-bener sok tahu, beras itu seharusnya dicuci!. Alhasil beras gak jadi dan kita hanya bisa makan mie yang belum matang dan sudah di retak-rertak, ini mirip sama anak kos yang kehabisan uang belanja di akhir bulan.

Lalu kita tetidur pulas, malamnya gue bangun sebanyak 3 kali karena kedinginan, lalu gue teriak sama temen untuk saling pelukan, akhirnya kita pun saling berpelukan, mirip sama teletubis yang sedang bepelukan, emang sih jijik, mungkin kalau temen sekelas gue tahu kalau gue pelukan digunung bersama mereka dengan mesra, mungkin mereka telah mengira gue maho, karena sudah kehabisan cewek diatas gunung. Tapi apadaya malam itu bener-bener dingin.


Pagi pun datang dengan dingin, gigi gue gak berhenti-hentinya nyeletuk kedinginan, gemeteran. Lalu kita sholat subuh, dan kita bertemu dengan pendaki lainnya di jam 5 pagi, gue sebenernya rada heran, mereka manusia atau makhluk absurd, soalnya mereka mendaki sebelum jam 5 pagi. Ini kan serem banget, belum lagi dinginnya.. Ah tapi gue harus tetep postive thinking kalau mereka itu manusia. Lalu kita bereskan alat, dan kita mendaki lagi demi mengejar yang namanya sunrise, selama 30 menit mendaki lagi ternyata kita sudah beberapa langkah lagi sampai puncak, bendera kebanggaan merah putih telah terlihat dari kejauhan pos 1 (ini pos terakhir). Dan akhirnya, Iqbal lah yang pertama kali sampai Puncak Mega puncaknya di gunung puntang.

Fedliva Yenovardi
Mohammad Aburizal Khatami

Muhamad Bahrudin

Iqbal Maulana

Fadlil Arsor

iya tahu, ini kegirangan yang berujung kegilaan.


Waktu dijalan.

Tenda yang dipake buat peluk-pelukan.


Diatas sana kita ketemu sama rombongan tadi juga, ternyata mereka manusia, mereka juga mengejar sunrise. Lalu kita berfoto dengan anggunnya, walau gak bawa dslr, tapi tetep saja narsis dengan hebohnya, selfie, foto ganteng, dan yang.paling gak lupa membuat video untuk dokumenter, kita membuat video sambil menyanyikan lagu hymne SMKN 1 Karawang, walau kita tahu suara kita lebih pas buat nakutin tikus salah gaul di rumah-rumah tapi kita tetep bernyanyi, 2 menit kita bernyanyi, rombongan yang tadi bareng kita koma... Ah begitu indahnya rahmat dari Allah SWT. Satu ucapan yang gak bakal gue berhenti-henti untuk diucapkan yaitu: nikmat tuhanmu mana lagi yang ingin kau dustakan?. Pas gue lihat Fadlil, Fadlil kok diem aja, apa dia pengin ee atau kenapa, pas gue tanya ternyata dia takut sama kiri-kanan kita: jurang, kalau salah injek aja dikit pas lagi mendaki tadi, pasti deh kita udah tinggal nama saja sewaktu pulang yang dibarengi dengan kata almarhum didepan nama kita. Serem.
Inilah kita dipuncak

Setelah 1 jam lebih kita foto-foto anggun, akhirnya kita pun turun kembali, dan ternyata baru kita sadari, turun itu lebih susah daripada naik, bener! ini susah banget, susahnya tuh kayak kita punya pacar, kita tahu bagaimana menjalani hubungannya bareng si doi, pas kita sudah bosen, bingung mutusinnya gimana dan harus tetep dijalani dengan seikhlasnya, susah banget. Lalu dengan bekal kesoktahuan gue, gue yang mimpin jalan pulang, sesampai di pos 2, kita rapihkan tenda, barang, kolor-kolor, baju dan semuanya. Sesudah itu kita berdo'a, dalam do'a gue hanya satu, semoga diperlancarkan turun dan terimakasih tuhan telah mewujudkan ini menjadi nyata. Amin.

Lalu gue berteriak: KETIKA NEKAD MENJADI TEKAD! SUKSES! setelah itu kita pulang, bawaan jadi ringan, karena telah kita habiskan, tersisa air saja, tas Carrier pun jadi ringan. Jalur didaerah menuju puncak untuk turun masih aman, sewaktu kita sampai di jalur hutan belantara, sungguh, ini gue jujur gak berani tipu-tipu. Susah sekali, ternyata pas tadi kita ketemu dengan pendaki lainnya dan kita bertanya ke mereka kalau tadi itu hujan. Jalur pun jadi licin, bener-bener kudu hati-hati. Lalu lutut pun mengalami keram, kesemutan, letih, lebih capek turunnya. Gue malah lebih kotor, sekotornya orang belum akil balig, dan sepatu gue juga malah lebih banyak tanahnya. Tapi satu persatu kita lewati sampe suatu ketika kejadian menghampiri gue. Sewaktu gue megang akar, dan gue coba untuk meluncur seperti di perosotan anak tk. Tiba-tiba gue kesandung dan terjatuh, lalu pantat kesayangan gue yang berguna mengeluarkan ee terkena batu, dan muka gue layak orang yang sehabis disunat tapi jaitannya robek. Sakit.... Gue gak teriak, gue hanya bisa menahan sakit ini. Lalu temen gue yang tadinya pengin nolong gue, malah berbalik ketawa lihat ekspresi muka gue dikala itu.....

Ini adalah penampakan batu yang tak berdosa.
Kamvret emang temen, tulang ekor gue seraya ingin patah, tetatih patah pantat ini namanya. Gue pun meminum air, lalu melakukan pergantian tas Carrier ke Abah. Kita pun melanjutkan perjalanan lagi, di perjalanan, temen-temen enggak berhenti ketawa melihat kelakukan gue tadi. Kata mereka lucu, bagi gue atittt.. Tapi turunnya ternyata lebih cepat daripada naiknya, kita naik butuh 6-7 jam, pas turun hanya butuh 3-4 jam... Dan seketika sinar cahaya putih terlihat dari kejauhan, kita sudah sampai marka 1 ternyata. Yea! 30 menit jalan lagi, akhirnya sampai dibawah! Alhamdulillah!

Setelah 30 menit berlari karena ingin cepat-cepat turun, akhirnya kita pun sampai dibawah, semuanya telah terlihat! PGPI juga sudah terlihat! YEAAA! Kita berhasil. Semuanya berhasil, setelah sekian lama kita telatih dengan sakit kaki.

Sedikit yang bisa gue rangkum dari cerita aneh gue diatas. Kalau mimpi sudah ditulis, tinggal kita action untuk mewujudkan itu semua. Dan yang terpenting adalah mari keluar, mari berpetualangan, jangan dirumah mulu nanti kamu akan jadi patung yang membatu dan hilang akan karya dan ide, karena semuanya terletak jika kita keluar dan mencarinya. Out Of The Box!


VIDEO DOKUMENTERNYA NYUSUL YA!

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles