Tidak Bisa Dijelaskan

Get One adalah 2 kata yang didapatkan dari jargon diskon Buy One Get One, sebenernya yang buat nama itu juga gak tahu maksud dari maknanya, yang hanya kita tahu adalah bareng-bareng di semua kelas yang pernah disinggahi lalu bersenang-senang didalamnya.  Mari mulai dan kuatkan lagi memori yang terkubur dalam dasar kenangan, ingatlah kita pernah bersama selama ribuan hari dengan didampingi semiliyar perbedaan. 

Logo Kelas
 
Get One terdiri dari 32 manusia yang punya tingkat masuk akal jauh diluar pemikiran orang selayaknya. Percayalah kelas ini hanya ada 1 KM yang dari kelas 1 sampe kelas 3 gak ganti-ganti, hanya dia seorang saja dengan alasan yang sangat mulus jika terdengar di kuping: karena tidak ada yang mau menjadi Ketua Murid selain Dia. Waktu terus berlalu bergerak tak mau tahu, meninggalkan sedikit hal menjuru yang berasas pada frekuensi rindu. Yakinlah, setiap langkah dan hal yang pernah kita lakukan adalah jurnal kehidupan buat diceritakan anak dan cucu. Dan Get One telah menciptakan itu, kebersamaan yang merajut asah demi asah, memisahkan kebencian menjadi kesatuan dalam satu arah. Di setiap kelas yang pernah kita singgahi, waktu dan hewan-hewannya merekam setiap detail yang terjadi pada kita, mari mulai dari kelas satu.

Masih ingat kah Harlem Shake? Itu adalah video jogged salah gaul kejang-kejang kita yang di upload di Youtube hingga ratusan orang melihat itu. Yakinlah, pada saat itu kita sedang menumbuhkan akar kebersamaan yang akan menepis setiap detik, menit, hingga jam. Dulu, waktu kelas satu, kita mempunyai wali kelas Pak Angga yang kalau dia lewat di depan kelas jarang salim ke dia, dengan satu alasan: karena dia guru matematika. Enggak kok, ini bukan suatu keburukan kelas kami, kami hanya merubah yang terkadang buruk bagi orang menjadi baik untuk kami. Kita banyak merenovasi kelas dengan lentik jari kita, membuat variasi kelas sendiri dengan keteguhan prinsip bahwa kita ingin terlihat beda dari kelas lain. Dengan ribuan do’a khusu dengan ketenagan jiwa, kita pun di perbolehkan naik kelas oleh Guru dan Tuhan.

Lalu waktu menggandeng kami untuk terjerumus pada hal perpisahan sementara, dikarenakan Prakerin. Tiga bulan kita diasramakan pada kesuntukan kerja yang bertubi-tubi  dengan diberi upah sewajarnya orang bekerja. Kita terbawa senang oleh itu. Namun ketika 2 bulan berjalan, kita pun dihantam oleh batu yang menyuruh kita untuk rindu, iya kita satu frekuensi, pada rindu kami isyaratkan semuanya teman. Mulai dari rindu suasana kelas, rindu teman, rindu suasana sekolah, rindu kantin, rindu Pak Asep dan rindu Pake Leli, tapi gak rindu guntingnya. Rindu kita terbalas setelah kita menyelesaikan laporan dan dikembalikan ke kandang, untuk belajar lagi, namun hanya terfokus pada pelajaran bengkel. Satu per delapan hati siswa mulai bangkit menjadi teguh dan berprinsip bahwa semua yang terjadi di kelas adalah sebuah proses kekeluargaan. Lagi dan lagi, kita dipisahkan dengan pabrik dan kantor yang mengharuskan kita untuk bermimpi aneh-aneh tentang Get One, yang mengharuskan untuk menjadi repot-repot rindu (lagi).

Sesudah itu, ditahun akhir pelajaran, kita membuat kasus dan menjadi keren karena dihukum. Iya, kita pernah buat guru menjadi takut akan sikap kita, hingga kita dilarikan ke BK untuk diproses membersihkan WC, merapihkan Ruang BK, dan menyapu Taman TKJ. Satu hal yang pasti terjadi, kekeluargaan yang bermula akar, lalu mulai tumbuh menjadi akar yang berkembang menumbuhkan daun-daun di kiri dan kanannya. Kata “masing-masing” mulai hilang dari kamus kelas kami, lalu bermuncullah kata “maehan ente bos!” (matiin kamu mah). Bukan, itu bukan yang bermakna sama dengan katanya, ini hanya sedikit guyonan buat kami, jika ada salah satu siswa yang belum mengerjakan PR dan harus dikumpulkan hari itu. Kita bukan menjadi sengsara dengan kata itu, malah ada senang dan tenang didalamnya. Di kelas dua, kami mendapat wali kelas yang baiknya sampe ulu hati dan mengerti arti kondisi anak remaja SMK yang sedang labil dengan masa remajanya. Mengerti bahwa hal seperti ini-itu adalah hal yang dikangeni oleh setiap murid jika tua nanti, yaitu: Bu Andriyanti.

Lalu dengan surat izin yang baik, rapor kami di terbangkan pada paduka nilai yang menyetujui untuk naik kelas 3. Entah, kenapa? Kelas tiga, kita menjadi merasa bahwa ini adalah masa penghabisan yang perlu dihabiskan dengan hal yang mungkin tidak bisa dihabiskan jika tua nanti, yaitu: bersenang-senang. Iya, semua bermulai dari hal yang menyatakan bahwa kita mendapatkan wali kelas Pak Kusmaya yang bertanda fisik dari Kumis Kick Denimnya dan Ketawanya yang sampe saat ini kita gak ngerti bahwa itu adalah ketawa sedih atau senang. Mungkin hanya dia, Malaikat, dan Tuhan yang tahu. Namun kami percaya bahwa Pak Kusmaya adalah penyayang baik untuk kami. Ada sebuah kasus, dikala pelajaran Pak Kus.  Yaitu deadline untuk mengikuti pelajaran adalah jam 1 siang. Mungkin bagi kami, kala itu, waktu bagi sebagian guru adalah ngaret yang nyata adanya. Namun buat Pak Kus, waktu ngaret itu tidak ada untuknya. Dan mengharuskan  KM, Ketua Rohis, Wakil Ketua Padi, Ketua Futsal, dan kawan-kawan telat, telat setelat wanita datang bulan. Pada waktu itu, hari itu, telat dipimpin dengan keberanian dari Yahya: Sang Tukang Komando jika telat. Kita coba untuk masuk, namun ultimatum tetaplah ultimatum, kita disuruh diam diluar. Namun tidak ada pusing yang menggerogoti. Kita bisa membuat ini lebih menarik dan lebih senang, karena kesenangan adalah diciptakan bukan untuk dicari. Kita joged-joged dipinggir kaca, teriak-teriak, sampe akhirnya Kumis itu keluar dari celah pintu dan memanggil kita untuk masuk. Namun bukan masuk ke kelas, melainkan masuk dalam daftar nama orang telat dan digiring ke lapangan.
Kita disuruh buka baju dan lari dibawah teriknya Sang Penguasa Siang sebanyak 5 keliling. Tidak, tidak menangis, malah ini menjadi sebuah tonggak untuk senang dan teriak-teriak. Biar Pak Kus tahu bahwa kami tak gentar dengan hal ini, jika dengan ini bisa diperbolehkan untuk kami masuk ke kelas dan menikmati pelajaran bersama teman kami, kami sanggup untuk tidak berhenti pun. Lalu, lari pun diberhentikan dan dia memberi orasi dengan kepada kami, dan itu adalah nasihat pertama dari Pak Kus. Setelah kembali kita ke dalam kelas, mereka yang berada didalam kelas, menangis tanpa suara hingga tersendu-sendu. Yang kami yakin adalah pohon kekeluargaan itu sudah tumbuh menjadi pohon dewasa dengan ranting kokoh dan daun yang hijau dengan hati tulus didalamnya.

Waktu sudah kian menjauh, bergerak dengan jenuh. Itu adalah cerita yang dicatet oleh Malaikat Raqib dan Atid, bersemoga malaikat Raqib lebih banyak mencatat. Sekarang pohon kekeluargaan itu sudah tua dan berbuah dengan subur.  Kita tetaplah menjadi kita dengan beribu masalah, berjuta ancaman, namun dikalahkan dengan semiliyar perbedaan.

Ah rasanya perpisahan bukanlah hal paling menyedihkan, yang paling sedih jika kita saling melupakan sesudahnya. (Pidi Baiq)


Inilah Kami


Tetaplah peluk kebaikan dan keburukan yang kita alami dikelas, tetaplah peluk rindu yang menjadi-jadi di hembusan nafas suasana kelas, tetaplah peluk rasa sedih yang terjadi dengan sendirinya datang tanpa alasan, begitu menakjubkan. Kita disatukan dengan rasa yang tidak dapat dijelaskan oleh logika dan mungkin kita dipisahkan dengan alasan yang sama, tidak dapat dijelaskan. Terimakasih Guru yang telah membina kami untuk terus berkarya.

Comments

  1. jadi kangen kelasku mi.. kalo kelasku namanya V-Ghost :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, jadi buat ka Syifa kangen, berarti berhasil ini tulisannya. Lain kali kaka buat post ttg V-Ghost :)

      Delete
  2. Memori yang takan terlupakan buat kami GET ONE, senang dan sedih pun bareng, sampai saya kehabisan kata2 dan rasanya mau nangis :'(

    Thanks TAMI (KM GET ONE)
    dan
    Thanks Buat GET ONE

    ReplyDelete
    Replies
    1. hingga sang pohon menghasilkan buah yang paling bagus

      Makasih Tami

      Delete
    2. Yahya: Iya ya, sebenernya waktu nulis ini, saya menangis, ini tulisan diperuntukan untuk mereka yang merasakan hal bersama teman-teman di Kelas. Hatur muhun Yahya, Sang Pembuat Suasana:D

      Iqbal: Setuju bal, jangan lupa hiking lagi, ke Semeru!

      Delete
  3. sebener nya sih gue gamau pisah dgn rakyat GET ONE tapi mau gimana lagi itu urusan allah yang ga bisa kita hiraukan,dan kita tinggal menunggu hasil akir yaitu kata kata Lulus,di situ kehidupan sebenarnya akan di mulai. dan yang tadi nya kita ngerusuh di kantin,lapangan,koridor,sampe kita ngegodain ade kelas itu ga bakal bisa kita lupakan
    thank buat GET ONE YOU IS THE BEST FAMILLY
    thank juga buat TAMI udah mau jadi km :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, Dit. semua yang pernah lo katakan dan terucap di kelas kita selalu membuahkan hal terlucu yang pernah saya dengar, meski bagi orang tidak. Lo selalu mempunyai daya tarik lucu dan rese yang tak lekang oleh waktu.

      Bahkan senyum dan nyengir lo itu, sudah buat ketawa anak sekelas. Semua tak ingin berpisah dit, mungkin waktu yang harus melakukan itu. Semangat kawan! :)

      Delete
  4. Ga kerasa udah brapa tahun ga kumpul di kelas ? ��

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal