Kenangan Teguran Ramadhan

Bulan Ramadhan kala itu datang dengan hawa serta ditahanya nafsu dan menjadi bulan kembalinya para santri dari pondoknya untuk berlibur di rumah masing-masing. Saya setuju akan hal itu, karena saat itu saya akan bisa melihat Bilal yaitu kawan lama yang menjadi seorang santri di Pondok daerah Magelang. Ramadhan adalah bulan yang selalu menjanjikan sebuah keberkahan bersama rahmat dan di dalamnya telah tertera malam Laytul Qadr.  Pada Ramdhan yang bersama tahanan hawa nafsu dan terpenjaranya setan, saya selalu senang bahkan menikmati dengan tenang.

Pada hari-hari itu sekolah disengajakan menjadi libur dan ini membuat saya untuk menghamburkan waktu berlama-lama di Rumah. Tatkala waktu malam adalah hal paling menyenangkan, yaitu setelah Sholat Tarawih, sehabis melaksanakan kewajiban itu saya membiasakan diri untuk membaca lafal Allah di Mushola dan sesudahnya mencari sebuah kesenangan dengan cara menginap di Mushola dengan beramai-ramai.


 
Kami adalah manusia yang ketika malam biasanya membicarakan hal ini-itu mulai yang sejalur dengan hal yang tempat kami inapkan hingga membahas hal tak penting, ngalor-ngidul. Sepertinya  Malam telah dijadwalkan untuk manusia tertidur namun kami malah bangun tergiat karena hasrat tak terelekan ingin mengelilingi Perumahan di malam hari. Waktu itu adalah minggu malam kedua di bulan Juli, masih banyak orang yang giat menyetorkan diri kepada Tuhan untuk tetap membaca Quran hingga larut malam.
 
“Mau kemana ini, kawan?”  kata saya  pada mereka.
 
“Jalan aja lah kemana aja, pokoknya jalan-jalan, mau lihat ckm malam-malam” kata Wildan, CKM itu adalah nama perumahan kami.
 
Ya begitu, kami berenam membawa sehelai sarung di bagian lengan dan pinggang dengan modal tak tahu mau kemana mengiyakan untuk pergi kemana-mana. Tanpa perlu khawatir bahwa esok akan sekolah karena sekolah diliburkan dengan sengaja untuk membuat siswa senang. Kami menembus gelap malam dan menghujat  dedebuan  yang bertebar di jalan oleh sandal. Telah sampailah kami di bagian tengah-tengah Perumahan CKM, disini telah terpampang aneka toko yang telah tertutup karena takut tak ada yang beli jika larut malam, padahal kami ingin beli minuman. Kami sengaja membuat diri diam dan ngobrol hal tak penting, lalu Wildan melayangkan pernyataan untuk berjalan-jalan ke sawah. Kami mengutarakan untuk tidak setuju namun sekali lagi karena tak ada pusing untuk bersekolah jadi kami setuju untuk ikut ke sawah. Saya mengira sawah menjadi tak terlihat di malam hari namun kenyataan berlawanan. Sawah yang baru saja diurus oleh para petani karena sedang panen besar-besaran menjadi takjub dengan tumbuhnya bibit padi yang baru ditaruh tadi siang. Sementara nun jauh diatas sana Bulan sedang bersendiri ria dengan ditemani para bintang yang sedang berusaha membentuk rasio sedangkan gelap tetaplah menjadi hitam yang berhamburan di semesta kala itu. Kami duduk di semapai sawah untuk bercerita hal-hal aneh dan nyanyi dengan tidak jelas, itulah kebahagiaan kami, kebahagiaan yang sederhana.
 
Tak terasa waktu hampir menunjukan jam 1 pagi maka dengan itu kami bergegaslah pulang dengan cara lari dengan cepat. Sesampainya di Mushola, saya telah bersatu dengan rasa kantuk maka denga ini saya mewajibkan mata untuk terpejam dan tidur. Ada beberapa kawan yang biasanya tidak tidur karena mereka bilang “tanggung tidur jam segini mah”. Mereka itu sangatlah diperlukan jika sedang inap di Mushola untuk membangunkan kami yang tertidur. Tapi terkadang mereka pun berkelakuan jahil  dengan cara membawa air yang berkolaborasi dengan kopi  lalu diteteskan ke mulut kami. Itu membuat kami menjadi bermimpi  bahwa sedang merasakan pahitnya  patah hati atau memakai balsem lalu dioleskan ke bagian pipi dan mulut, tak lama dari itu kami bangun merasakan panas seperti dirasukin setan padahal setan sedang dipenjara. 
 
“Woy bangun, udah pengin sahur nih!”

“Eh bangun-bangun atuh!”

Suara sama-samar itu terngiang di kuping dan semakin dekat karena mereka berteriak tepat di hadapan kuping. 

“Iya-iya, tong kitu atuh lah” reaksi Yono seperti biasa.

Dan yang paling membuat aneh adalah reaksi Fahmi adik dari Wildan. Ketika Fahmi diperlakukan hal yang sama seperti Yono, dia langsung berdiri dengan tak membuka mata dan merengek-rengek minta uang dengan tiba-tiba dia berjalan keluar Mushola serta membuat dirinya pulang ke rumah, aneh.

Sesudah itu kami menyaksikan detik waktu yang terus bergulir dan memastikan diri untuk mencari kaleng dan pemukul. Ketika waktu sahur, kami membangunkan manusia-manusia untuk sahur di Mushola dengan cara menyalakan speaker dan berteriak-teriak tak jelas lalu berujung peringatan untuk bangun. Lalu kami membawa berbagai macam kaleng dan pemukul dari penjuru Perumahan untuk berkeliling membangunkan sahur.

“Sahur-sahur atuh pake sayur! Ayo pak, bu udah sahur bangun woy!”

“Pak bangun ih! Malu atuh sama ikan yang gak tidur-tidur! Udah sahur nih, pak!”
 
“Pak RT bangun pak! Kalau gak bangun saya teriak maling nih”.
 
Itulah cara kami membangunkan sahur dengan diiringi kaleng yang dipukul gaduh dan keras, mungkin kalau ditulis akan jadi seperti “saahuur saahuur jeg jeg jeg”. Dan akhirnya para enam anak-anak manusia itu pulang ke rumah masing-masing begitu pun saya. Besoknya saya melihat seorang Bilal dengan pakaian santri, saya menyapa dia dengan berkata “Bil, woy!” lalu dia membalikkan badan dan mengarah ke saya. Saya bercakap tak henti-henti tentang Islam dan bagaimana rasanya mondok, hingga adzan Isya dikumandangkan, saya sholat persis disamping Bilal. Setelah berdo’a, Bilal dengan sengaja membuat dirinya maju dan berubah menjadi penceramah di Mimbar Mushola. Setelah itu, dia memimpin kami untuk sholat Tarawih.
Oh, Bilal. Masih saya tak bisa terka dirimu yang kini, tatkala bagaimana dirimu di masa lalu. Dulu, masih saya ingat betapa beringasnya dirimu untuk mengajak saya membatalkan puasa bareng-bareng di Warnet dan sengaja untuk absen bersekolah hanya untuk bermain Games. Lalu sekarang lihatlah dirimu menjadi Imam Sholat kami dan bahkan menegur kami bahwa kapan mau kamu selesaikan masa lalu burukmu itu  untuk menjadi lebih baik di masa sekarang? Malu saya, Bil. Padahal Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sumber gambar: urdunews.wordpress.com

Comments

  1. Satu tamparan telak saat tau teman seperbengalan masa kecil kini terasa jauh lebih baik dari diri sendiri, ya.. Btw, cara ngebangunin sahurnya sialan banget tam-_-

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles