Lahirnya Amalima di Gede

Pada September 2014 yang ditemani hujan. Saya di kelas diam dan membuat diri menjadi bengong memperhatikan hujan yang turun bersama deras. Ada sedikit bayangan bersama hujan yang mengingat pada pendakian dulu, jadi banyak rindu yang mulai muncul satu persatu di dasar kenangan. Ah, seperti yang sedang saya bayangkan, jadi ingin mengwujudkan kembali. Akhirnya saya memanggil teman yang sedang duduk di pojok kanan belakang, Iqbal. Dia itu salah satu kawan sependakian dulu di Puntang, karena dia mempunyai badan yang pas untuk seorang pendaki. Saya menunjuk dia untuk menjadi ketua Regu. Namun belum ada rencana untuk berpergian ke Gunung yang ingin kami tuju. Sebelum itu, saya memulai mengajak teman-teman yang kemarin mendaki di Puntang untuk ikut kembali pada pendakian ini. Tapi sayangnya kami gagal, hanya Bahrudin sahabt karib saya yang ingin ikut kembali. Kami setuju untuk mendaki ke Gunung Gede bagian Jawa Barat yang berlokasi di Cibodas, mempunyai tiga pintu masuk: Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana.
 
Kami hanya bertiga dan dirasa kekurangan personil untuk mendaki, sebenarnya sah saja untuk mendaki sebanyak 3 orang, namun kurang rame karena rame adalah bagian terpenting dalam pendakian. Maka dari itu kami membuka open recruitment bagi yang ingin ikut ke Gede  dengan syarat mau diajak untuk patungan dan nekad. Ternyata semesta menyetujui proposal kami, dari tetangga sebelah kelas kami. Kami mendapati 6 orang yang berminat untuk bergabung ke regu. Ada Agung, Farras, Fahri, Rijal, Ilham, dan Asep. Setelah saya bertanya pada mereka, mereka pun telah merencanakan untuk mendaki. Lalu kami membuat jadwal kapan untuk keberangkatan. 23 desember menjadi tanggal yang baik untuk mendaki, walau kami tahu cuaca sedang tak senada dengan kami. Tapi nekad tetaplah menjadi tekad yang melebur pada tujuan dan penasaran tak henti-henti.

Setelah menunaikan ulangan tengah semester kami memulai membuat perencanaan yang bermula dari masuk akal sampe yang tidak masuk akal. Sesudah itu dengan secara keren kami ingin membuat sebuah nama untuk regu kerdil ini. Dan kami subtitusikan semua pendapat lalu tertujulah pada nama Amalima, arti dari makna itu adalah amatir “pendaki gunung yang amatir” jadi maklumi jika ada kenapa-kenapa. Tapi siapapun pendaki, pada dasarnya mereka selalu punya kehumorisan yang bertekad. Benar saja, setiap ada -pembahasan masalah ini-itu. Kita selalu tertawa dan bahkan melebihi dari itu.

Desember sudah datang yang disertai angka 23 didalamnya. Kami telah siap. Pada hari sebelum keberangkatan kami sengaja membuat diri menjadi menginap di sekolah untuk mempersiapkan segala alat dan packing, serta memeriksa segala data SIMAKSI. 

Pagi begitu memperpadukan warnah kuning serta merah yang terlihat menjadi jingga tak tentu, kami semua mendengar suara adzan dan kami sepakat bahwa itu adalah adzan Subuh. Lalu satu persatu bangun, wudhu dan menunaikan kewajiban. Memakai baju setelahnya langsung bersarapan ria, kami ingat jadwal keberangkatan kereta menuju Jakarta Kota itu adalah jam 6 pagi.  


Stasiun Karawang Kota


Sekarang lihatlah kami! Sembilang anak dari berbagai penjuru Kota Karawang mencoba menaklukan Gede. Di stasiun kami membuat pose untuk di foto. Banyak yang melihat kami dengan tatapan sinis tak mengangdung arti. Kereta pun datang dari jauh dan semakin dekat dengan mesin yang berderu sangat kencang dan berjalan diatas rel yang telah tersedia. Kereta itu berwarna orange dan biru jika melihat dibagian gerbong belakang. Kami terbagi tempat dikarenakan kereta hanya sementara berhenti dan tak lama karena mungkin masinisnya rindu Jakarta dan istri di rumah, jadi kami memaklumi.

Saya, Bahrudin, Rijal, Fahri, Agung, Ilham, dan Farras masih berdiri dibagian perbatasan gebong dan menunggu kereta berhenti karena ingin cepat turun di Jakarta. Mungkin Iqbal dan Asep sudah mendapati tempat duduk. Tak lama, kereta berdecit dengan sempurna, sebuah papan tua usam berwarna biru telah tertera di atas sana dengan bertuliskan Jakarta Kota. Kami lekaskan turun dengan kaki kiri karena sunnah. Berjalan menapaki sebuah ubin putih yang terjajar rapih di stasiun ini, Fahri membeli tiket untuk ke Bogor. Kami kembali menaiki kereta untuk melanjutkan perjalanan, Kereta untuk Bogor begitu bersih dan tak bersempit-sempitan bahkan di Kereta ini telah tersedia gebong khusus untuk Wanita, tapi masih saja ada lelaki yang duduk di gerbong itu, mungkin saya perlu memandang dia sebagai bukan seorang lelaki.
Didalam gerbong kereta Jakarta-Bogor

Tiketnya



Siang kami bersama Stasiun Bogor, ternyata kami kehabisan tiket untuk melanjutkan menggunakan Kereta, kami mensahkan untuk menggunakan angkot untuk sampai Cibodas. Saya dan Farras akhirnya membuat supir Bogor takluk untuk mengantar ke kaki gunung Gede daerah Cibodas dengan bayaran begitu murah. Sepanjang jalan ke Cibodas, Amang Angkot ini banyak bercerita tentang wanita dan dunianya, jadi dibuat banyak tertawa, sekali lagi bahagia itu sederhana sekalipun dengan Supir Angkot. Sesampainya kami di kaki gunung Cibodas, kami mengurus SIMAKSI untuk pendakian besok. Iya, kami memulai pendakian itu pada tanggal 24, tanggal 23 adalah tanggal keberangkatan kami dan itu sudah termasuk pendakian kecil untuk kami.
Kami mencari tempat penginapan dan Alhamdulillah diberi amanah untuk mendapatkan tempat inap di Mountana. Terimakasih Mountana, apalah jadinya malam tanpa harus beristirahat. Malam itu Cibodas berteman dengan dingin yang merusuk dan membuat tubuh menjadi  menggigil. Tanpa kesadaran mata menjadi gelap, ini saya beri nama “tidur”.

Pagi ternyata masih berkawan dengan malam, mempunyai cuaca yang sama: dingin. Tapi jika dalam melakukan pendakian, dingin akan tidak terasa jika kita sudah memulainya. Maka kami lekaskan diri untuk memulai pendakian. Dengan menyudahi sarapan cemilan dan berdo’a, bersemoga Gunung Gede menyetujui kami untuk bisa sampai pada puncaknya. 


Bismillahirrahmanirrahim, jam 6 lebih beberapa menit kami memulai perjalanan. Kaki tak punya sayap dan tak bisa terbang, maka ditakdirkan untuk melangkah. Langkah kami sudah dimulai dari jalur sendi mata kaki lalu menjulur ke nadi jantung, semua telah aktif. Tak lama kemudian kami pun sampai pada Telaga Biru yang memberi sapa pada kami. Perut pun mulai membuat gerakan lonceng, pertanda bahwa ini adalah lapar sedang menyerang.  Kami mengisi kelaparan itu dengan satu bungkus indomie untuk 3 orang. Bagaimana caranya itu cukup? itu dalah Korsa. Kami manjakan diri untuk berfoto dengan telaganya dan meminum air yang mengalir jernih disana, rasanya menakjubkan, alam tak pernah berbohong. Setelah semua ditunaikan, kami memulai perjalan kembali dengan jalan bebatuan masih menjadi kawan kaki kami, tak bisa disalahkan bahwa pendakian kali ini lebih banyak batu yang telah berbaris rapih berbentuk layaknya tangga untuk dilewati.  Salah satu hal yang saya suka jika sedang di alam adalah sapa dan senyum ikhlas dari mereka sesama pendaki dan tak pernah melihat usia ataupun fisik. Kami saling bertukar semangat dan sapa kepadannya, jika banyak waktu mungkin kami bisa bertukar nomer handphone jika pendaki itu wanita.

Lalu muncullah sebuah jembatan yang sengaja dibuat oleh pemerintah setempat agar memudahkan pendaki terus melanjutkan pendakiannya. Di kiri dan kanan telah terhampar Ciptaan Tuhan berupa cantik nan elok tebing yang dilihat dari sudut bagian manapun. Tak lupa kami memandikan diri kami dengan jepretan cahaya kamera untuk daerah disekeliling kami.


Telah berlangsung beribu-ribu detik untuk kami habiskan, lalu kami sampai pada bagian plang arah tujuan. Jika ke kanan menuju Air Terjun Cibeurum dan jika ke kiri menuju Puncak Gede& Pangrango. Dengan kejelasan kami memilih jalan kiri. Ini sudah jam 9, Sang Raja Terik sudah tak malu lagi memunculkan dirinya untuk memancarkan sinar paling cerah di dunia. Kami mulai banyak berisitirahat karena sudah dimulailah pertujukan lelah dan letih. Beberapa kawan kami sudah mulai ada yang pahit badan dan keram kaki. Sepajang jalan ke Air Panas, kami selalu bertanya pada rekan dari yang sudah turun.

“Kang, udah deket air panas belum?” Kata saya.

“Sebenetar lagi, 5 menit lagi kang, semangat ayo!” Kata dia.

Jawaban itu adalah kunci semangat yang dibuat mereka untuk gembok mengeluh kami. Walau kami tahu setelah 5 menit kami berjalan  tak sampai ke Air Panas secepat itu. Tapi dengan mindset yang handal dan tak ingin dikalahkan oleh setan. Akhirnya kami sampai pada Air Panas. Disini kami mulai berisitiraht dengan mewah karena bisa mandi-mandi bersama air yang berasal dari belerang. Sebagian dari regu berendam, sebagian lagi membuat nasi yang akan disantap dengan Teri dan Orek Tempe.



Bau nasi telah tepampang di hidung dengan 2 lubang ini. Ini tandannya telah matang, lalu kami mulai menyatap nasi itu, walau pada kenyataannya gosong di bagian sisi wadah. Tapi tak apalah, disini nasi adalah makanan termewah dan kamu akan merasakan betapa pentingnya nasi di Dunia. Setelah berhura-hura dengan nasi dan berrendam air panas, awan mulai membuat rintik dan hujan yang membuat kami harus memakai jas hujan. Untuk sebagian manusia Air Panas menjadi patokan bahwa Kandang Badak (Tempat Pendirian Tenda) telah dekat.  Dan alhasil benar kata orang-orang, cukup jauh namun tak dirasa terasa bahwa itu jauh.

Setelah mendarat di Kandang Badak, kami mulai bagi beberapa orang untuk masak dan mendirikan tenda. Dengan begitu semua akan selesai dengan tenang, namun kenyataan berkata lain. Beberapa kawan kami mulai ada yang tak kuat dan kedinginan, membuat kami untuk membangun tenda dan memasak ramai-ramai. Habis tenda terbitlah lapar, Fahri dan Asep membuat makanan dan teh hambar untuk kami semua. Semoga suka kata mereka. Malam benarlah malam, menemani suara jangkrik dan gerimis bawaan hujan masih menjadi aktivitas kami, lalu mata sayup dan menjadi kepompong karena sleeping bag.

Di malam saya membuat diri menjadi terbangun dengan tidak sengaja sebanyak 3 kali, karena udaranya cukup dingin dan hujan, ini adalah perpaduan maut untuk membuat tubuh gigil tercengkram.

Sektika pagi pun datang bersama gelap malam karena masih jam 2 pagi, hujan sudah reda dan ketika saya keluar dari hotel mikro itu, melihat bagian atas begitu sangatlah menakjubkan, karena disana telah terbentang ratusan bintang yang membuat sebuah rasio yang entah saya tahu. Kami lekas merapihkan tenda dikarenakan harus mendaki jam 3 pagi. Dan headlamp mulai dibuat menjadi bersinar, dengan mengandalkan senter di tangan kami mulai menjejaki lapisan tanah menanjak. Benar-benar, ini baru terasa yang dinamakan sebuah pendakian. Kami mulai banyak berisitirahat, 30 menit istirahat, 30 menit jalan. Karena tujuan kami pergi kesini adalah untuk pulang ke rumah, puncak hanyalah sebuah proses yang harus ditaklukkan.
Entah telah berapa lama kali kami berhenti, tapi udara dipuncak mulai terasa berbeda sudah mulai merasuk bau belerang yang berada di nun jauh dibawah. Kami hampir beberapa langkah lagi untuk menapaki puncak Gede, namun karena kawan satu tim kami ada yang kelelahan, kami pun berisitirahat sementara di jalan menuju puncak.

“Ayo ham! Sedikit lagi, malu dengan jarak yang sebelumnya telah ditempuh, atuh!” Kata saya.

“Iya, Tam, tapi bentaran, gue harus banyak istirahat”. Kata Ilham

“Oke, gue tunggu ya”

Teman-teman telah duluan, saya, Bahrudin, dan Agung harus menemani Ilham sejenak.  Lalu tiker yang tadi dibawa oleh Ilham beralih tangan ke saya dan tas Ilham dibawa oleh Agung. Ilham sekarang bertangan kosong, haruslah dia cepat mendaki.

“Ayo Ham! Udah enteng tuh”.

“Oke”.
Ternyata kawan kami yang duluan menunggu kami dibagian pinggir tebing, sekalian berisitahat kami pun tak lupa untuk berfoto bersama pemandangan yang jika diceritakan disini kamu akan ingin pergi kesana sekarang. Lalu semua anggota regu bergegeas kembali, perjalanan dari sini mulai sangatlah terjal dan hanya terdapat pembatas dibagian kiri gunung. Kami ingat kembali darimana kami berasal, darimana sebuah nekad ini diolah bertubi-tubi menjadi tekad.

 “Semangat, sedikit lagi!” Kata Iqbal.

Lalu bangkitlah sebagian nyawa kami yang tadi tertidur. Dan telah terpampang di satu langkah terakhir kami yang bertulsikan  “Puncak Gede 2958 Mdpl”. Sujud kami persembahkan untuk Tuhan atas segala perjalanan yang telah Dia beri untuk umatnya agar berikhtiar dan tetap memohon padaNya. Luarbiasa, dari sini kami melihat dbagian kiri terdapat Alun-alun Suryakencana dan kanannya terdapat bebatuan belerang. Dari sini kami pun melihat awan dan kabut yang sedang menyelimuti kami, begitu tak terasa dingin disini, begitu tersebar luas Mahakarya Tuhan.  Marilah kesini! Darimanapun dirimu akan bisa memperhatikan takjub sudut manapun yang luarbiasa disini.


Inilah Kami.
Dan dengan ini resmilah sebuah “AMALIMA” lahir di Bumi tercinta ini pada tanggal 25 Desember 2014, Puncak Gede. Amalima lahir bukan dibagian muka Bumi melainkan lahir diperbatasan langit dan Bumi, hampir dekat langit. Oh, betapa Indahnya kelahiran sebuah persahabatan pendaki gunung ini yang ketika mereka sudah tua nanti akan bercerita betapa gagahnya dulu Ayah menjadi seorang Pendaki.
Salam Amalima, Nekad Menjadi Tekad.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?