Minggu Sederhana Ruang Tengah

Selain Jum’at yang diciptakan penuh berkah, ada juga hari minggu penuh senang. Hari minggu buat saya adalah hari dimana kebahagian secara utuh tersedia. Bagaimana tidak? Bagi segelintir orang, minggu itu memberi sekolah libur, minggu itu menyediakan pekerja untuk libur, dan minggu itu menghambur-hamburkan waktu untuk tidur. Mereka berpendapat seperti itu, saya pun setuju bahkan nyaris sepakat. Maka dari itu cinta dan kasih sayang menjelma tersedia pada minggu. Oh minggu. Mari saya ceritakan tentang minggu sumber kebahagian sederhana kepada kalian.

Minggu yang baik adalah ketika pagi nan gelap datang bersama adzan subuh. Lalu sebelumnya Ibu telah bangun dari ranjang tempat tidur dan menjelma sebagai alarm otomatis untuk membangunkan Ayah dan yang lainnya. Ayah menjadi Imam Sholat dan sisanya menjadi makmum. Minggu saya dimulai dari hal itu. Dari hal yang terkadang orang anggap tak penting dan sederhana, ternyata itu adalah awal sumber dari ketenangan jiwa saya. Sesudahnya saya cepat-cepat membuat diri menuju sepatu lalu memasangnya tepat di bagian kaki untuk lari pagi, terkadang adik saya (Fadhil) sering ingin ikut untuk berlari di Bumi bersama . Maka dari itu, pagi yang masih dikurung oleh gelap dan masih hangat sautan nada ayam, kami sudah berlari dari rumah hingga ke pasar dadakan pagi di Perumahan. Di sela-sela lari, saya berbicara pada Fadhil.

“Kalau main bolamu jago, jadilah seperti Ronaldo, mau gak?” saya pesatkan pertanyaan menjebak itu padanya.

“Iya, bang. Tapi pengen lebih dari Ronaldo, biar yang terkenal aku bukan CR lagi”.

Lalu senyum simpul telah aktif dibagian pipi ini dan menjadi tertawa kecil ketika mendengar jawaban Fadhil, dia lebih baik terkenal menjadi dirinya sendiri, bahkan Ronaldo hanya patokannya. Fadhil memanglah begitu, selalu menjadi bagian dari hidup saya yang penuh dengan taburan kejutan tanpa dibuat-buat, dia telah membuat orang sekitarnya menjadi heran dan berkata “dapet omongan darimana ini anak?”. Padahal usia Fadhil barulah mengenai angka 10 tahun.

Saya dan Fadhil berlari hingga lelah menjenguk kami. Kami pun duduk dibelantaran pinggir jalan yang usang. Fadhil saya suruh untuk membeli minum di warung seberang. Dan sesudahnya dia kembali dengan membawa 2 minuman botol serta permen. Kami makan-makan dan minum-minum seadanya, maksudnya minuman aqua botol. Tubuh pun sudah menjadi stabil kembali, kami melanjutkan lari untuk pulang ke rumah.
Ini foto Fadhil.
Di rumah yang bertipe 21 ini, saya tinggal bersama sumber kebahagiaan. Di rumah, Ibu yaitu dia yang sedang mengenakan baju putih berbalut warna cokelat bintik-bintik bertebaran dibagian tengah telah menyediakan sarapan Nasi Goreng untuk kami, lekaslah kami membuka sepatu dan mencuci kaki serta tangan. Mengambil sendok dan mengayunkan makanan tepat ke mulut, ke bagian jalan asupan gizi. Rasa dari Nasi Goreng ini tak meragu-ragu, pastilah selalu lezat. Itu dia Ibu, pembuat makanan terlezat seantero dunia dan penyayang tanpa batas. Sedangkan Ayah sedang mengoprak-aprik Motor yang ia beri nama Zaki. Kata Ayah Zaki butuh dibawa ke salon dan tukang pijat untuk mempercantik diri dan pertambahan energi supaya bugar kembali. Ayah selalu libur di Minggu, jika masuk pun dia akan bekerja di malam hari. Rasanya Dia tak ingin membuat dua orang anaknya menjadi rindu serta kecewa karena tak ada waktu untuk anak. Itu dia Ayah, Ayah yang mengutamakan dirinya untuk selalu ada pada keluarga dan mengerti bahwa anaknya lebih membutuhkan ayahnya daripada uangnya.

Bahwa inilah minggu, dimana semua anggota keluarga nan harmonis ini berkumpul di ruang tengah. Untuk saling bercerita, mendengar, dan menciptkan kesenangan. Di ruang tengah yang penuh dengan kenyamanan, kami seringlah menonton teve dan menjadi bertengkar karena perbedaan selera menonton. Ayah ingin menonton berita, Ibu ingin pantengin Sinetron, Fadhil ingin ketawa dengan kartun, dan Saya ingin Ibu, Ayah, Fadhil menonton Sepak Bola. Pada akhirnya Ayah selalu menjadi juara pada sesi ini, karena Ayah adalah kepala keluarga dan dia yang membeli teve. Tetapi Ayah sering mengalah pada istri dan anak jika sedang datang iklan.

Selain itu, Ruang Tengah juga sebagai alas ketenagan tiada tara. Di ruang tengah juga kami menunaikan makan berjama’ah, maka makanan masakan Ibu. Ibu hanya diberi waktu oleh Tuan Waktu diperbolehkan masak hanya pada Minggu atau Hari libur, sisanya Ibu harus mengurus dagangan di sekolah untuk pasokan dana harian. Jadi ketika minggu, ketika itu juga saya menjadi pelahap maut makanan Ibu, saya mengharuskan diri untuk menambah makanan terus menerus hingga Ibu berkata “Sudah habis lauk dan sayurnya, tinggal untuk malam”. Maka kenyanglah sudah dan disertai Alhamdulillah.

Jika siang mengampiri, kami terbiasa untuk membaringkan diri dan menjadi tertidur karena kantuk. Di gubuk sederhana kami tersedia dua kamar. Tapi, jika sedang berada di posisi Minggu, kami seringlah tidur beramai-ramai layaknya ikan tertelentang  di ruang tengah.  Maka ketika Adzan Ashar terkumandangkan, kami bangun dan mulai bertugas masing-masing di sore. Hingga malam berkawan dengan bulan dan bintang menjemput, kami mulai membuat diri menjadi sibuk untuk hari Senin. Saya dan Fadhil mengharuskan untuk membaca buku serta belajar, Ibu menyetrika baju yang sudah tertumpuk sejak kemarin, dan Ayah mengaji hingga larut malam. Dan piaslah minggu pembawa senang untuk enam hari yang akan datang, menjadi sumber energi pada hari-hari berkelanjutan.

Dan begitulah minggu untuk kami. Yang tidak dihabiskan untuk berpergian dan menghamburkan harta hanya untuk mencari sesuap kesenagan. Yang tidak dibuat menjadi sedih dan bingung karena ingin pergi kemana, cukuplah di Rumah. Yang kebahgiaan hanya bersumber pada satu tujuan, yang telah kami ciptakan dengan Maha susah payah untuk Rumah.

Begitulah kebahagiaan. Jika koruptor sedang berfoya-foya dengan tahta dan tumpukan harta untuk mencari kesenagan, saya cukuplah berada di ruang tengah dengan bercerita serta mendengarkan lantunan kisah Ibu dan Ayah. Kebahagiaan itu sangatlah sederhana, sesederhana dua orang pemulung yang sedang berenang di sungai keruh dengan saling menyiram dan bermain perang air, dibaluti tertawa maha riang.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles