Mengenang Kenangan dalam Taman Kerinduan

Izinkan hari ini aku mengingatmu, untuk hanya sebentar, karena rindu ini telah membubung hingga langit ketujuh. 

Jauh dari itu, kamu kini tetap hidup dalam satu dimensi dimana kita tak bisa bertemu. Karena entah jarak atau apa namanya tengah memisahkan kita dengan menjuru, dengan terkaman yang sangat sakit. Karawang adalah tempat yang baik, tempat yang meriuhkan segala perasaan serta merta berkolaborasi dalam pusaran kebahagiaan. Karena banyak keindahan di dalamnya, dengan keluarga, dan tentunya kau yang paling kurindu. Dulu, kita adalah sepasang anak kecil yang lugu, lupa akan situasi hanya bisa menikmati hirup-pikuk kesenangan.


Kau masih ingat? Ketika motorku melintas di atas jalan aspal yang penuh debu itu, kau duduk tepat dibelakangku. Katamu

“Kamu mau ajak aku kemana?”

“Ke bumi aja yuk, udah tahu belum bumi kayak gimana?”

“Jeh, ihhhh yang bener atuh” tuturmu.

Kamu lebih banyak diam kala itu, mulutmu seperti melafalkan sesuatu yang ku tak tahu, mungkin karena hujan sedang datang sangat deras atau mungkin karena kamu sedang ingin minum, aku lupa bahwa kita belum minum sejak kau menaiki motor. Ah, tak apa. Karena cinta bisa menghanyutkan segalanya, cinta bisa mengalahkan apapun itu. Bahkan sekalipun kata-kata tak bermutu yang dicetuskan oleh siapapun. Cinta adalah hal terhebat yang pernah kita kenal.

Kerudungmu masih hangat kuterka sebab warna putih kemilau itu tak akan luntur dalam ingatan, senyummu masih jelas terang-benderang, dan jika kau tertawa seakan dunia ikut tertawa denganmu seperti tidak ada masalah dalam dunia ini. Jam telah mengarah ke angka 4, menitnya membantu jarum jam untuk tetap bangun, dan detik berlari sangat kencang. Sore itu, kita sudah pulang sekolah dan aku berjanji akan menjemputmu di dekat kelas RPL atau tidak aku menunggu di gerbang saja.

“Biar gak ada yang curiga” katamu.

Entah apa ini diberi nama, kita saling menyukai, saling memerhatikan, saling merindu tapi tidak mempunyai sebuah status yang pasti. Motorku tetap melaju bersama rintik yang tetap mengguyur dari awan, sekujur tubuh basah bergelombang, kau pun juga baju SMK telah habis dibasahi air yang tak mau disalahkan kenapa ia harus turun. Aku menepi untuk bilang “Mau pakai jas hujan gak?”. Tapi senyum dan gelengan kepalamu sudah menandakan tidak.

“Hujan kan rahmat, biar aja membasahi tubuh kita” cetusmu santai sambil kujalankan kembali motor.

Kini tanganmu meliuk-liuk keatas seperti sedang meminta kala berdo’a, dengan bantuan cermin cembung yang ada di motorku, kulihat lagi kini matamu sedang terpejam merasakan apapun yang terjadi disekitar, tak ingin diganggu dan tak ingin menganggu, itu yang bisa kubaca dari bahasa tubuh anggunmu itu. Mulutmu yang sedari tadi kedinginan meletup-letup kini berubah menjadi sebuah pengobat rindu di kala kita jauh, berubah menjadi senyum yang tak bisa terkalahkan, menjelma menjadi sebuah kebahagiaan di dunia fana ini. Sepertinya jika engkau tersenyum, malaikat Raqib juga ikut tersenyum. Senyum itu bertahan tidak lama tatkala hujan semakin deras membanjur lalu berubah menjadi perkasa, sangat deras.

“Yakin gak mau neduh?” Kataku sudah kedinginan tak karuan.

“Enggak, udah ayoo kita pulang”

Kamu tertawa terus-menerus, hujan turun tak habis-habis, kau menikmati segala yang ada, nikmat Tuhan. Sebuah truk berbadan perkasa sedang melaju dibelakang kami, kulihat dari spion, supirnya berkumis tebal tak tertata, kepalanya gundul pelontos mengilat, dan giginya ompong bagian tengah. Ia melaju kencang truk dan sampai disisi samping kami. Lalu sebuah genangan air telah terdiam disitu sejak hujan datang, truk itu melewati dengan tanpa ada salah, dan dengan cepat. Menyiram tubuh mungil kami dengan genangan air, tapi entah kenapa kami malah tertawa terbahak-bahak.

“Makasih ya mi hehe udah ajak aku hujan-hujanan” katamu pelan.

“Kan kamu yang ajak, bukan aku, aku mah cuma ngikutin”

“huu dasar, pengikut, pengikut aku di twitter ya?”

“Heheh iya dooongg” tutupku.

Kini sebuah gerbang tegak berdiri menjulang melewati batas-batas rumah yang ada disitu, merah marun menjadi warna ciri khas gerbang itu dengan sedikit putih tertera di sisi kiri dan kanan, dibagian paling atas nampak jelas sebuah tulisan berhuruf kapital DUREN. Ini memang daerahmu, ini memang dekat rumahmu, tapi ini juga kenangan kita. Maka biar aku menambahkan rindu lagi dan lagi, jika boleh tambah, aku ingin satu piring rindu lagi. Ah sinting aku ini.

Motor tetap melaju mendekati gerbang itu, sebelum sampai gang aku bertanya padamu

“Mau aku antar sampai mana?”

“Sampai sini aja”

“Jeh, kenapa?”

“Aku lagi mau jalan”

“Yaudah biar motorku taruh disini saja”

“Terus?”

“Akunya jalan bareng kamu sampai rumah”

Sebuah senyum manis kini tercipta deras di antara pipi tambunmu. Tetapi kamu tetap menggeleng-gelengkan kepala menandakan bahwa tidak ingin, aku bukan pemaksa karena sebuah saran dan ajuan tak bisa dipaksa, aku mengiyakan saja katamu dan membiarkan kamu jalan sendiri sampai gang, gang Arjuna yang penuh aroma kasih sayang itu. Sementara aku tetap saja di motor menunggu kamu membalikan kepalamu kepadaku, dengan berharap sebuah senyum penghatar tidur terlontar ke arahku. Ah nyatanya tidak, kamu tetap jalan, meninggalkanku yang sedang menunggu senyum, kau tetap jalan sehingga membuat diriku cemas dan khawatir yang berkepanjangan.


Hari itu, adalah hari kita. Entah sampai aku sejauh ini, sebuah kenangan tak pernah mati dalam pikiran, tersimpan rapi dalam rak hati yang sangat suci, ia malah menjelema menjadi pertanyaan-pertanyaan yang menukik terjal dalam pikiran, rindu pun telah menghunus tajam dalam dada mengartikan ini sungguh pilu dan kuyakin tak  ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini , kecuali dirimu.

Dari sini hujan sedang rintik pelan-pelan, udara dingin menusuk hingga hulu hati terdalam, mengenai tulang sum-sum, 10 derajat celcius dinginnya, bahkan sebuah jaket yang kupakai tak bisa menahan itu. Disini sebuah awan sedang berarak-arak kembali ke rumah mereka, menunggu sebuah hal yang pasti untuk mereka kembali cerah, atau pelangi indah akan segera turun dengan lunglai menghadap bumi seperti melihatkan sosok dirinya yang cantik nan rupawan.


Tapi dirimu tetaplah dirimu, mengaduk-ngaduk pikiranku. Dan rindu ini semakin ganas, stadium empat, sudah gawat. Dan hari ini aku mau kamu! 

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles