You Must Be Strong, Brother

Itu adalah hari dimana kamu akan melihat akhir napasmu, dekat, dekat sekali, seperti sebuah kematian. Itu adalah hari dimana bimbangmu menjadi-jadi tentang esok, apakah masih bisa Berjaya, atau terkubur dengan tanah. Hari-hari dimana cemasmu melebihi senangmu, dimana kekhawatiranmu menjadi sebuah raja didalam pikiranmu, mengagung, mengkristal. Atau kamu lihat sekelilingmu, untuk memeriksa darimana malaikat datang, pintu beranda depan atau langsung berada dihadapanmu. Atau kamu mengingat-ngingat dosamu yang luas, meminta seluas mungkin, namun mengadu di sujud selama lima kali saja kau jarang laksanakan. Hari dimana langit-langit seperti berubah arah, matahari seperti meluas, berubah hasrat, memanas, membunuh, menghilangkan rasa bahagia. Adalah hari dimana kamu hanya bisa bertumpu pada sebuah selang di atas yang menggantung, dimasukan dalam denyut-denyut nadimu, hari dimana kawan-kawanmu silih datang menengokmu, memberimu do’a, memberimu semangat, menguatkan sekuat langit memeberi berkah. Atau kamu bisa melihat kiri-kananmu yang ada hanya, buah-buahan, obat, atau sepiring nasi lengkap sayur yang rasanya sungguh pahit. Tubuhmu lemas, selemas-lemasnya, sehancur-hancurnya, seakan mimpi-mimpimu akan tertutup oleh hari itu, seakan tak ada harapan untuk memperpanjangnya.

Ya Tuhanku, aku ini adalah apa? Mengapa begini saja menjadi putus asa, lalu kamu buka tirai disampingmu, melihat satu pasien yang umurnya lebih tua darimu, muda, tampan, tapi sama sekali tak ada raut sedih di wajahnya, padahal sedari tadi alat kelaminnya telah dimasukan selang untuk buang air kecil, padahal barusan saja kakinya diamputasi, padahal barusan saja kawan-kawannya meninggalkannya dan menguatkannya. Tapi parasnya tetap tersenyum lembut, ketika kusapa


“您好?”

“你好” sambil tersenyum lebar.

Kututup lagi tiraiku, apalah aku barusan tadi, membuat sebuah penilaian kepada diriku bahwa ini akan berakhir begitu cepat di masa mudaku. Kulihat lagi sekujur tubuhku, lengkap, tapi isak tangisku tak kunjung-kunjung selesai ketika mengetahui sebuah penyakit yang hinggap ditubuhku. Cemen.  Apalah aku tadi barusan, ya Tuhan. Menjadi pesimis akan sebuah keadilan, menjadi layu dalam sekerumunan manusia, menjadi tak berdaya ketika kawan-kawan menjengukku padahal dulu akulah yang sering menghibur mereka.

Kulihat lagi mesin disampingku, mesin yang menentukan denyut jantungku, tubuhku sekarang sudah lengkap dengan temple-tempelan oval yang sesudahnya adalah kabel untuk memeriksa detak jantungku. 



Sekarang kubuka lagi tirai itu, lalu kulihat lagi ia tersenyum, mungkin ada dua kemungkinan, ia sangat senang bertemu warga beda negera atau memang ia sekuat itu untuk menghadapi semuanya. Bahkan sekarang jika kupikir, dia sudah tak bisa lagi bermain bola, mencoba lari dengan sekencang-kencangnya, atau mengikuti olahraga renang.

“Why you always smile?you dont have a leg now” .

Dia hanya tersenyum, lalu berbicara dengan terbata-bata.

“You must be strong, brother”.

Jadi, ketika kuterpuruk sejauh ini,  kuingat lagi lelaki tampan tanpa kaki itu yang barusan saja ditutup dengan kain dan dipindahkan ke ruang mayat karena sebuah penyakit yang tak bisa kujelaskan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal