Nona Kemayu & Tuan Kelabu

Adalah sebuah kota dimana kerumunanya layak semut berbaris, menuntut keadilan kehidupan. Dimana kau bisa memanjakan tinjamu sedikit berharga disini, dimana air manimu pun harus dibayar saat kau mengeluarkannya. Adalah Kota yang ramai dan klakson bajaj menjadi sang juara jalanan. Jakarta. Tempat dimana Tuan Kelabu tinggal, ialah Rakhi namanya. Seorang lelaki bertinggi semampai dengan hidung mancung, kulit sawo matang penuh, wajahnya tak begitu  tampan tapi dengan ia tersenyum bisa saja ia buat perempuan disekitar rela membayar senyumannya itu. Rakhi, adalah manusia yang kelabu, penuh kelabu hidupnya, tak tentu arah, lintas sana-sini, ia tak pernah punya tujuan hidup kecuali merokok dan menulis nomaden di berbagai kafe, bahkan satu setanpun tak  ada yang tahu kemana ia akan jalani hidupnya, mengakhiri dengan surga atau ingin merantau saja ke neraka. Rakhi, hanya menjalani hidupnya, menjelajahi kehidupan penuh warna ini, lebih ingin saripati hidup, yang lebih, yang banyak. Dan itulah Rakhi, Tuan Kelabu yang akan kita kisahkan dalam cerita pilu ini. Mana ada yang tahu bahagia tersdia didalamnya? Ah, kau seperti Rakhi saja, nikmati saja.

ambil darisini


Jakarta sedang mendung kala itu, awan mulai pekat mengabu, memburu manusia-manusia yang tak membawa payung atau tak ingin berteduh, sesekali petir mulai satu persatu memainkan nadanya, seperti Do Re Mi Fa So La Si Do namun dinaikan satu tingkat minor, tapi sore di Jakarta tetap seperti itu, macet berhamburan, mobil-mobil bertumpu pada padatnya jalan, terkadang klakson menyaembara kesana-kemari seperti bersafari melewati kuping-kuping manusia. Namun itu adalah sore yang tak dipedulikan oleh Rakhi, ia tak takut hujan, tak takut macet, tak takut bising dan ramai. Sebab sore itu ia akan naik busway, untuk pertama kalinya, sebab motor kesayanganya ia sudah gadaikan kepada saudagar kaya raya asal Jawa Timur yang selalu memakai gelang rantai sampai 5 tumpuk di tangan kananya, belum lagi di tangan kirinya. Bukan tanpa alasan, Rakhi menggadaikan motor itu, untuk bisa membayar uang perkuliahan, 3 bulan jangka waktunya untuk bisa menebus kembali motor kesayanganya itu, jika tidak maka motornya akan tewas melayang di saudagar kaya raya asal Jawa Timur itu.

Sambil menyalakan rokok filter yang sedari tadi ia pegang, Rakhi menyusuri garis-garis jalan itu, mengikuti marka jalan menuju halte busway, adalah tempat dimana hal yang sama terjadi seperti yang terjadi di jalan raya kini, yaitu padat. Antrian pintu masuk itu sangat padat,  padahal itu sudah menggunakan sistem tap card, mudah, dan sangat tak memerlukan tenaga. Tapi tetap saja penuh. Rakhi hanya memerhatikan sambil memainkan asap rokoknya dan mulai menyalakan rokok episode keduanya untuk menunggu antrian itu sepi melompong. Tak berapa lama, mulai mengalir dan kosong, Rakhi melakaukan tap  dan masuk, lalu ia berpikir, apa yang tadi membuat manusia-manusia tanpa nama itu lama masuk ke halte busway? Mungkinkah mereka bepikir setelah mereka tap, aka nada mesin pendorong tubuh agar terlempar ke halte busway, atau mereka berpikir akan ada koin keluar setelah tap  itu. Ah entahlah, manusia disini menurut Rakhi: terlalu peduli pada peradaban, sehingga membuat dirinya menjadi harus berpikir bahwa peradaban melulu soal kemajuan, padahal tidak semuanya seprti itu.

Rakhi adalah perokok aktif, hampir satu hari ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok, terkadang bisa satu setengah bungkus rokok filter atau mild(jika paru-parunya mulai terasa sakit). Namun Rakhi pun menghargai lingkungan, ketika ia tahu, disekitar halte busway itu tak ada yang merokok, ia langsung mematikannya dan tak lupa membuang puntugnya itu ke tong sampah. Ia menuju ke pintu ujung dan berniat duduk pada tempat tunggu disana, namun tak lama dari langkahnya itu, kemudian seorang perempuan itu, si Nona Kemayu, tiba-tiba menduduki tempat tunggu itu, anggun nian pakaian ia kala itu, kemeja putih dengan levis putih, dibalut rambut hitam yang sengaja digerai, ditambah oleh alis tebal dan mata cokelat, di tangan kananya tersimpan satu buku seperti makalah tugas, dan pada tangan kirinya sedang sibuk memainkan iphone-nya sambil menggantungkan sebuah earphone kepada kedua kupingnya itu, kini lengkap sudah, perempuan itu menjadi perempuan ideal dambaan lelaki macam Rakhi, sepatu converse yang ia pakai sengaja diinjak ujungnya seperti  perempuan masa kini, ia menunggu di tempat pintu yang sama dengan Rakhi. Entah apa yang sedang beputar-putar pada angkasa pikiran Rakhi, ia tiba-tiba saja mulai memerhatikan perempuan berbalut penuh putih dan memesona itu, entah apa yang sedang Rakhi pandang, namun satu hal yang tak luput dari mata Rakhi ketika melihat permepuan itu: adalah kalung salib yesus yang ia gantungkan pada lehernya.

Lalu, tiba-tiba dengan berani dan rasa penuh nekad, Rakhi  hampiri perempuan itu dengan lantang dan tegak berjalan lurus, karena Rakhi tahu ia sedang mendengarkan musik, maka sebelum memulai obrolan alangkah baiknya Rakhi sedikit menyentuh seperti menegor perempuan itu, lalu menyapa:

“Hey,kau tak pengap?” kata Rakhi sambil tersenyum penuh kecut.

“hah?” perempuan itu memastikan siapa yang barusan mengajak ngobrolnya, mungkinkah teman laman atau teman satu kampus?

“iya, kamu tak pengap?” Rakhi mengulang lagi pertanyaan itu sambil sedikit memulai senyuman klasik para lelaki

“maksudnya? Aku tak pengap, pengap kenapa emang?” Dasar nona kemayu, ia mulai meladeni lelaki kelabu itu.

“Bukannya kamu habis keluar dari karung Santa Clause?” Rakhi ketawa rintih

“Hah? Maksudnya, aku ini mukjizat?” Permepuan itu mulai tertawa sedikit, tak banyak

“iya semacam itu lah” Rakhi sambil sedikit tertawa.

“Kau kenapa sangat cantik, nona?” Rakhi menambahkan.

“hah nona?” Perempuan yang barsusan dipanggil Nona oleh Rakhi itu tertawa, dan mulai merah memalu

“boleh hari minggu, kuantar kau ke geraja?”

“Memangnya kita satu gereja?” kata perempuan itu sedikit bingung

“Tidak, aku ini muslim, tapi mengantar orang berbibadah itu kebaikan, bukan?” tambah Rakhi

“biar kau beribadah, dan aku beribadah juga di rumah Tuhanku, dekat gerejamu” tambah Rakhi lagi

“Maksudmu di  masjid?”

“iya betul, nona” Rakhi mulai nyaman berbicara

“mengapa aku harus percaya kalau kamu boleh mengantarku pergi ke gereja? Siapa tahu kau penculik?” Perempuan itu menatap heran

“sebab aku telah membuatmu bahagia” Rakhi tegas menjawab

“darimana?”

“itu kamu tertawa tadi, nona”

“tertawa bukan berarti bahagia, tuan”

“tapi kita akan menuju kesana, nona”

Perempuan itu diam, seperti sedang berpikir menerima tawaran Rakhi atau tidak, sebab tak banyak orang yang dapat dipercaya di kota metropolitian macam Jakarta ini, yang kau taruh tas sebentar saja akan hilang dalam waktu hitungan detik. Tak gampang pula percaya lelaki di kota macam Jakarta ini, yang kau anggap baik dan pantas menjadi imam saja bisa-bisa ia adalah penculik moral disini. Tak gampang percaya orang disini, maka dari itu, perempuan itu diam sebentar sambil mulai memerhatikan tubuh Rakhi, melihat matanya: kosong, yakin, atau pudar tak bermakna. Perempuan itu semakin bingung ketika tahu di kantung Rakhi ada sebungkus rokok filter yang sengaja Rakhi taru disitu agar gampang ketika merokok, dan lengkap dengan koreknya. Bagi perempuan itu, lelaki merokok harkatnya mulai turun satu derajat dimata, sebab baginya mereka yang merokok adalah mereka yang mulai menuntun dirinya menuju kematian. Tapi ia lihat lagi mata Rakhi, kali ini seperti terisi, serbuk keyakinan yang sedikit mengeristal disana

“aku belum bisa jawab sekarang” perempuan itu mulai melanjutkan percakapan

“jika besok atau lusa kita bertemu lagi, maka jawabannya adalah kau boleh antarku ke gereja” tambah lagi perempaun itu

“Oke, nona” Rakhi tersenyum kuda

“Kamu ambil jurusan apa?” perempuan itu mulai penasaran. WOW!

“Arsitektur, nona. Kalau kau?”

“Aku ambil Teknik Kimia” ucap perempuan itu

“Kita satu fakultas, nona”

“Iya” tak lama busway datang.


Perempuan itu naik terlebih dahulu, dan dalam hitungan beberapa detik busway itu telah penuh dan mulai menipis oksigen bersih di dalamnya. Rakhi tak sempat naik, kuulangi lagi, Rakhi tak suka manusia yang suka berkerumun, maka ia lebih baik menunggu busway selanjutnya datang, dan perempuan itu meninggalkannya, sambil berkata: semoga kita bertemu lagi, tuan. Tentulah Rakhi tertawa, mana ada perempuan selancang dia yang berani memanggil lelaki tak bertujuan arah ini sebagai sebutan Tuan, kau pikir aku ini apa? Kata Rakhi dalam hati. Tapi itu adalah sore yang baik ketika hujan sudah mulai turun hilir demi hilir lalu menjadi hulu yang menggerentak dan ramai-ramai datangnya, tanpa ampun, tanpa konfirmasi. Begitu saja, bersama hujan itu, Rakhi mulai tersenyum mengingat perempuan itu, yang tentu saja ia sangat tunggu untuk bisa beretmu lagi di esok hari atau lusa datang. Mungkin jika Rakhi menjadi perempuan itu, ia akan melakukan pertimbangan yang sama ketika melihat orang yang sedang ia hadapi adalah orang semacam Rakhi, yang tak beradab, tak punya aturan. Rakhi tertawa. Dan hujan datang kian ramai. 

berlanjut~

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Awal & Kamboja

You Must Be Strong, Brother