20 Tahun yang Lalu

20 tahun yang lalu

Pada hari ini, tuan, puan aku ingin memperkenalkan sekitarku yang sekarang sedang bersamaku di umur yang meraih kepala dua. Di ruang senat atau biasa kau sebut organisasi mahasiswa, aku sedang berempat dengan Bang Doyok, manusia seperti manusia biasa saja yang banyak membawa hijau dikantungnya, kemana-mana ia akan bertemu banyak teman mempermudahkanya dalam transaksi, sering kami bilang bahwa ia adalah sales executive pada penghijauan yang berhalusinasi, wajahnya selalu merasa kantuk, mata beratnya berbentuk hitam pekat dibawahnya, seperti kantung kangguru yang sudah bablas, hampir jebol. Di sampingku, aku bersama mahkluk hidup, bernama Arcel, ia Ketua senat mahasiswa kami, wajahnya mirip sekali Mr. Bean jikalau sedang tersenyum lebar macam  orang tak bersalah dan tak tahu apa-apa, kami sering kesal dengan apa yang membuat wajah Arcel macam itu, kenapa harus begitu wajahnya? O, aku lupa, itu kan perpaduan orang tuanya, biarlah urusan mereka. Sebab wajah juga ciptaan Tuhan. Ashoy.  Dan yang dujung sana ada Fidi dalam aksen sunda mungkin akan kehilangan huruf F nya dan dianulir menjadi Pidi, badan kecil minta ampun, sama seperti Bang Doyok mereka selalu kami bilang tinggal kentut dan tulang di dalam tubuhnya itu. Jalan melayang-layang kalau kemana-mana, tulangnya hampir hilang sedikit lagi. 

Saban hari, aktivitasku akan seperti hal sama dengan apa yang kau jumpai dengan aku di masa lalu, tapi kini beda peran-peran disekitarku, aku hampir mengira orang-orang disekitarku mendapatkan peran antagonis untuk merusak hidupku, merusak masa depanku, aku sempat membuat banyak pilihan selama aku ngampus di Jakarta, untuk mengindari pergaulan-pergaulan yang bengal di kampus, aku coba ambil peran Kupu-kupu dalam sisi baik mahasiswa, acuh sekali sama rakyat-rakyat terjajah, acuh sama sekali dengan  pergerakan-pergerakan mahasiswa yang sedang berjuang akan keadilan di negeri ini. Pokoknya aku ingin kuliah saja. 

Namun, lambat laun, hari berguling ke pada suatu posisi dimana diriku malah terjun (kembali) pada organisasi, organisasi yang mungkin sedikit beda, dengan yang pernah aku alami selama menjadi siswa di Karawang. Malah makin ngacok. Aku berani-berani mencalonkan menjadi ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Dan nasib membawa aku kesini, mendapat amanah dari apa yang sudah aku calonkan. Tuan, puan. Aku semakin mempersempit hidupku untuk terjun pada peran antagonis di dunia ini, menemui pelbagai hal yang buruk dalam hidup, menemui anggur merah, vodka, atau hal memabukkannya, berkenalan dengan apa yang menggarisbawahi apa itu putih atau hijau dalam makna sebenarnya, menejernihkan mata untuk menyaksikan wanita-wanita tanpa perawannya untuk siap dipakai setiap malam. O, Tuhan, pikiranku jauh sekali ya kesana? Ternyata apa yang barusan aku sebut adalah nihil, memang sebagian aku temui tapi sama sekali oknum-oknum tersebut tidak memaksa diriku untuk melakukan hal buruk-buruk seperti yang kubayangkan.

“Pilih hidup lu, berkenal dengan orang seperti kita semua, itu perlu, tapi jangan terejerumus kalau memang elu gak suka” makhluk antah-berantah pernah berpesan itu padaku di jakarta.
O, Tuhan. 20 tahun lalu aku masih mengenal bumi dari doa-doa yang sering dilafalkan oleh ibu dan ayah, beranjak mengenal diksi demi diksi dari tiap pelajaran yang beliau sampaikan tanpa perlu mirip buku beliau ajarkan aku untuk tetap pada tiang agamaku, untuk tetap berbaur dengan sesama,  jangan individualis, tetap terjun kepada  teman siapapun itu dia, darimanapun suku dan rasnya. Agar tetap bertoleransi. 

Sampai pada hari ini, aku yakin sebagian kecil mimpi-mimpiku sudah banyak yang kuraih, dari hal-hal kecil sampai hal yang tak dinyana bahwa itu akan terwujud. Sebagian kecilnya masih ada yang belum terjamah oleh nalarku, atau sisanya sudah berlalu mungkin sudah aku kubur jauh-jauh sebagai suatau harapan yang pupus, tapi setidaknya aku senang punya mimpi sebesar dan tidak wajar macam itu. 

20 tahun lalu

Ketika aku masih duduk di bangku SMP untuk membolos demi melaksankan ibadah bermain point blank di warnet saban hari sampai lupa bahwa aku sedang bersekolah. Masihku ingat pula, aku melakukan kenalan pertamaku di bangku SMP yang mungkin banyaknya siswa SMP pada zamannya sudah pernah melakukannya tanpa kuberitahu. Tahun beputar jauh, isinya tetap kosong ternyata tahun hanya diisi oleh waktu-waktu yang mengabdikan diri untuk keabadian yang nihil atau mungkin fana. 
Aku beranjak melewati masa kejayaanku untuk bergelora di bangku SMK. Mulai kubangkitkan arstiek mimpiku dari tembok-tembok teknik kejuruan, aku tak menyangka akan sekeras ini dan bersumpah akan tidak menjadi lembek dalam setiap episode yang akan kujalani nanti. SMK, aku sibukan diriku untuk ikut aktifitas sana sini, ikut OSIS, ikut teater atau ikut-ikutan orang ngerumpi. Ah, pokoknya itu zaman kejayaan yang akan kukenag hal-hal baiknya bila nanti sudah pindah ruang dimana tak ada okisgen kembali.

20 tahun akan mendatang

Tuan, puan, saksikan apa yang akan kuhadapin diumurku nanti mungkin di 40 tahun, mungkin beberapa tahun yang akan datang. Akan banyak manusia-manusia yang akan kutemui, mungkin membawa peran baru dalam hidupku yang meberi hikmah & makna yang lebih dalam di sisinya. Masih banyak mimpi-mimpi yang berotasi dalam pikiranku, satu persatu ia sedang menjelma menjadi olahan-olahan kemajemukan yang siap dipecahkan pada waktunya. Mimpi-mimpi itu kini silih berganti sedang siap untuk diluangkan dan diudarakan secepatmungkin olehku.

Tuan dan puan. Saksiskan. Doakan. 

Pemimpi ulung ini. Semua dimulai dari tidur.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal