Sesekali Menulis Jakarta

Ayok, bang, 2 jam di mobil, 500rb aja” 

itu adalah tukang gojek dibelakangku, yang barusan menawarkan cewek sewaan di Jakarta. Oh, kawan tentu aku akan ditawarkan seperti itu, sebab ini sudah jam 1 malam, maksudku pagi. Sebentar lagi kau akan lihat ada ayam berkokok, ada akan adzan, ada matahari yang mulai muncul. Tapi itu adalah aku dan kawan-kawanku, yang sedang mencoba membuat malam lebih inovatif dari biasanya, ya kami berlima coba JJM(Jalan-jalan Malam) di Jakarta. Rutenya adalah mengikuti arah angin, dan kemauan Arif, teman sekelasku membawa kami kemana saja ia mau. Sebab ia adalah kuncen Jakarta, yang berdiam di utaranya Jakarta, wilayah Jakarta paling ngeri.

Sehabis makan nasi perang di daerah tanah tinggi, yang bisa dibilang daerah penuh dengan kepadatan penduduk macam semut bertumpuk-tumpuk berusaha ambil gula di atas meja, disana kalau kau keluar rumah pasti akan ada sepeda yang teriak “misi dong bang” karena sempitnya jalan, O, Jakarta kenapa marak sekali manusia yang ingin menduduki, menempati, membuang lendir-lendir di bagian tubuhmu atau bahkan hanya semata berfoya-foya denganmu. Di tanah tinggi aku makan nasi perang bersama kawan-kawanku, itu bukan kebiasaan kami makan seperti itu, dan bukan kebiasaan kami pula untuk berofya-foya makan junkfood di resotran ternama. Pokoknya kami makan, karena kami lapar dan melihat ada tukang nasi disamping kami.

“telor, ikan teri, gorengan sama kuah. Abis berapa bu?” kataku
“8rb aja bang” Kata ibunya.
harga murah meriah tak perlu pusing memikirkan kesehatan, dan itu makanan yang pernah kujumpai di Jakarta dengan formasi makananku memakai telur plus ikan teri. Aku juga tak berpikir tentang kebersihan, kesehatan, atau pengcekan apapun yang berbau kesehatan, yang penting aku makan dan laparku hilang. Sehabis makan nasi perang, sebenarnya rencana kami mau pulang ke senat mahasiswa, lalu istirahat dan tertidur pulas di senat , karena masih ada serangkain kegiatan yang harus kami jalani selama kami menjabat menjadi pengurus ormawa. Tapi entah mengapa, angin pada malam itu berkubu pada setan, hembusan udaranya lebih nyinyir dari wanita yang sedang mens manapun, otak-otak kami pun sudah pulas untuk memikirkan hal baik atau positif, akhirnya rencana untuk jalan jalan malam tetap berlanjut, dan kami menuju ke sana. Ke jalan dimana aku ikut saja. 

Jakarta begitu senyap malam itu, bagiku. Sesekali hanya kudengar motor yang sedang ngebut, mungkin dari knalpotnya aku paham, orang itu hanya ingin pamer bahwa ia bisa menarik gas sangat kencang di keadaan jalan sepi. Apa hebatnya? Bocah yang baru belajar motor pun akan melakukan hal yang sama jika jalan sepi. Atau aku hanya menemukan sudut monas yang sudah tutup gerbangnya, wah ternyata kami sudah melewat daerah Menteng, daerah dimana para pejabat dan para borjuis tinggal, yang kalau kau lihat rumahnya bisa dibangun lapangan bola kelas kabupaten di Karawang. Dari Menteng kami lurus terus dan menuju daerah cikini gondangdia yang terkenal dengan lagu dangdutnya, ah pokoknya aku lupa siapa penciptan lagu dangdut itu, tapi intinya jari bergoyang ketika mendngarkannya. Lalu tiba-tiba kami sudah di monas, di depan istana sang tuan rumah yang mungkin sedang tidur, atau pusig memikirkan rakyat yang makin kesini makin cerdas dan tangkas tentang pergerakannya yang begiti-begitu saja, hey bapak, kami disini sedang naik motor ngebut-ngebut depan rumahmu, sambil tertawa memecah malam. aku tertawa

Aku menembus malam yang mulai ganas kawan, ketika kami mulai masuk daerah Hayam wuruk, biasanya kau sebut dengan Harmoni, atau mangga besar. Daerah dimana jalan protokolnya sangat lebar dan memuaskan untuk kami yang ingin naik motor dengan tidak serius, berteriak-teriak, memecahkan malam yang hening, menegur tukang gojek di jalan, atau kadang kami lakukan seolah-olah ingin mengajak balap orang yang tidak kami kenal. Dan ketika aku memasuki Hayam wuruk, tepatnya disebrang halte buswaynya, kadang dipelataran itu aku bisa lihat segelintir orang berjualan lukisan, atau mainan. Disana pula kau akan menjupai perempuan-perempuan malam dengan pakaian ketat, menonjolkan bagian-bagian tertentu, siap di book untuk memuaskan gairah si Iminmu, make up dibuat dengan tebal seperti kami lupa bahwa mereka memang secantik itu, rok mini dibuat sedikit lebih ke atas untuk memamerkan dan menjualkan betis-betis yang tak berdosa. Di samping perempuan itu sudah tersedia motor dan pengendaranya yang siap mengantar wanita itu memenuhi panggilan-panggilanmu, bisa dibilang ojek itu adalah jokinya mereka.



Pada hayam wuruk itu aku ditawarkan oleh tukang gojek untuk belok kanan sedikit masuk ke jalan lebih kecil lagi dengan tawaran yang sudah kujelaskan dibait pertama tadi. Ya Tuhan, its firs time for me, ada orang yang menawarkan macam itu. Tapi aku bilang saja ke gojek itu

“Oke bang, gue ambil uang dulu di atm depan sana” dan sehabis itu aku belok ke kiri menemui keramaian yang lain, serta merta pulang ke kampus, ke senatku, untuk tidur. kami berpisah di jalan Hayam wuruk, karena lupa pada ngebut.

Oh malam, ini sangat inovatif sekali ide kami semua, menjelmakan kegilaan kami pada kegiatan yang di depan mata dengan mengubahnya ke dalam aktivitas yang begitu rumit dan tak dibayangkan sebelumnya
.
Jakarta semakin sunyi, aku sekarang hanya bersama tubuhku dan pikiranku. Di dalamnya terbesik satu pertanyaan kafir yang menggontai sampai sekarang 

“kenapa tidak dicoba saja ya?”

Comments

  1. YEUU!

    Kayanya seru juga ya jalan-jalan keliling jaarta tengah malem,melihat jakarta dini hari kota yang katanya tak pernah mati. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkw sesekali keluarr adiba, rasakan jakarta versi malam tanpa perlu mimpi tapinya

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal