Kitab Malam pada Zenith dan Nadir yang Meracau

Pada setiap malam yang manja, kami selalu berdiskusi tentang purnama yang baru-baru saja datang. Malam ini jatuh di akhir desember, akhir tahun. dimana semua sedang merancang gagasan-gagasan atau semangat hidup baru untuk perjalanan di tahun berikutnya. Kami menghabiskannya dengan segelas kopi pahit yang baru saja saji, hangat yang membara dan beberap gorengan bakwan melempem sisa dari jualan. Ngalor-ngidul berdansa pikiran kami yang menerka-nerka mimpi dan asa yang coba kami rangkai dengan semberaut. Makin malam, makin ngacok. Kadang tutur dan penata kata hanya sebagai perisai yang coba kami jaga untuk tetap pada jalurnya, tidak menyinggung orang lebih baik, daripada digebuki habis di hilir jalan. Kami berdiskusi tentang Jakarta, kota yang kami jajaki ini, kota punya Anies-Sandi sekarang, eh atau punya suka betawa yang terpinggirkan nasibnya. Kota yang sedang mengurung kami pada suatu kejadian dimana kami harus berkumpul seperti sekrang. asap dihembuskan dari beberapa mulut kami, seakan merayakan malam yang makin menipis dan akan mulai digoresi pagi menjelang.




Pada setiap nada dan sayup-sayup angin. Kami simpan dengan teguh harapan kami, pada tiang-tiang listrik yang tiap malam dibuahi oleh besi karat itu, kami  simpan harapan pada tiap aspal-aspal debu yang menggerogoti kanan kiri jalan. Kami mulai menata satu persatu bagian bumi ini, seakan tanah sebagai tempat untuk umat beribadah menjunjung tinggi keesaan namun beberapa perkumpulan populasi bumi juga memakai tanah sebagai alas berbohong pada Tuhannya. Lalu kami sepekat oleh semesta malam ini, tentang hitam pekat yang dilebur bintang, ia sedang cantik nan menawan. Pink Flyod kami putar, wish you were here mengikuti nada-nada harapan, ia terus menjalar jauh kesana, ke samudera, ke benua, ke antah berantah bagian bumi yang kami sudah lupakan.

Pada setiap masa lalu yang kelam, kami telah memafkan dengan tolol tertawa ketika itu menjadi bagian hidup paling menyenangkan, setiap mozaik yang pernah kami rasakan di lalu, biarlah dijadikan  sebagai guru yang tanpa mirip buku untuk disimpan rapi dalam rak-rak, kadang puan. sering kau sebut ini adalah kenangan. Jika kau tahu dibalik selimutnya, ini hanya rekaman bodoh yang menarik simpul kurva bibirmu.

Pada setiap kata yang berevolusi menjadi kalimat; kami ciptakan doa sebagai proposal kepada Yang Maha, dengan tertunduk takzim sampai lupa kami bukanlah apa-apa jika nanti sudah berbeda alam. Hany amal & iman yang akan membuat tidur kami tenang di antar sudut gelap liang yang dalam. kami semakin membubung, ngawur sudah apa yang sudah kami bicarakan tak ada yang benar satupun, tiba-tiba kami membahas Pevita Pearce yang jika telanjang akan tidak sebanding dengan perannya dalam tenggelamnya kapal van der wicjk.

Kami membahas paham fasis yang brutal, yang membuat kami turun temurun makin sulit berfikir, seharusnya tak ada malam ini, tak ada kami, tak ada bumi ini. Harusnya manusia bermukim di mars bersama bayangan dan khayal-khayal ceracaunya yang makin anarki. Harusnya kami adalah jasad, dan sedangkan roh kami sedang berdansa disana berputar 2 sampai 3 kali untuk lupa, bahwa besok, lusa, atau beberapa tahun yang akan datang; ada suatu visi untuk melawan apa yang orang pikirkan normal, kami ingin dunia dimana isinya tak ada paham yang menyekat-nyekatkan argument tentang kebebasan berpendapat, tentang rasis kulit dan strafikasi sosial di dalamnya. kami ingin dunia dengan nasi uduk sebagai titik tengah kebuntuan manusia tentang material yang runyam.

Duhai, malam ini kami sedang dibawah pelataran jalan bersama lampu redup yang menyalak bak ide-ide yang sudah membara kian lama. Dan diatas sana adalah zenit yang mengamat doa-doa, bersama nadir berusaha mendobrak raga untuk menguatkannya.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal