Bujang Merawat Pilu

Bujang,

sudah berapa malam kau hirup aromanya? Kau tanam dalam ubun-ubun lalu ia berkembang jadi harapan yang melingkar-lingkar di atas sana. aduhai, bujang kesedendirian bukanlah takdir alam, hanya bayang-bayang hari ini yang sedang kau nikmati dengan sepi. tapi apakah itu yang menuntutmu dalam setiap getir usahamu? Apakah itu yang mengolahmu menjadi seseorang yang akan kau lupakan?


Aduh, bujang
ada banyak serangkai mimpi yang lupa kau tulis di buku harian, kau sambar itu pena dengan mahir kau tulislah mozaik-mozaik yang akan kau wujudukan. janganlah berdiam di kamar terkutuk penuh setan itu, menekuk kaki menggerutu sambil menyalakan rokok, lalu menangis bak anak kecil yang tak dibelikan permen oleh ibunya. Jangan terlalu bersedih bujang, masih ada esspreso lain yang harus kau nikmati esok malam. bersama pevita pearce yang makin mansyur di layar bioskop. Tenang saja penafsiran setiap insan hanyalah opini nalar biasa. Ia lahir dalam racau yang kacaau diseduh oleh manisnya yang hanya tersisia diujung saja, jangan kau terpengaruh akan itu. itu tak akan membantumu, ejekan receh yang mengucil cuma jadi asam sebentar yang kau jilat lalu lupa di buai seperngkatan malam dan isinya.

Tak ada yang lebih baik, dari baiknya seseorang beribadah, berdiri, ucapannya atau bahkan napasnya adalah haru deru sengit pahala yang gemulai jatuh bak durian runtuh. Kau lakukan itulah, bujang. Di setiap malam, tengah hari, seminimalnya lima waktu jangan kau korting jadi 3 waktu atau hanya 1 waktu. tenangkan hatimu, buat dia kemayu, lembut. Tak akan ada yang tahu ketika mereka-mereka menumkanmu di tepi jalan dengan darah sedang asyik berpindah alam. maka dari itu, bujang jangan terlalu sedih, kata penciptaMu juga, Allah, Laa tahzan Innallaha Ma'ana. Sambil mengayam hatimu biar sembuh dan tak porak-poranda, kau rakit pula mimpi dan harapan dengan ikhtiar sampai tembus jauh disana.

Kau langkahkan kaki dengan tegap, dengan perlahan untuk tidak sombong dengan sekitar, membaur dengan siapapun, hidup di belantara lingkungan manapun tetapi tetap pada rukun, tiang, dan prinsip. Bujang mari angkat wajah lebih menengadah lagi, jangan selalu menunduk. memanh perlu sih, hanya untuk sesekali melihat keadaan dibawah, untuk merenung sambil berpikir, kira-kira apa yang sudah salah, dan dimana titik jenuh itu. Kau wajib merangkul dirimu dengan teduh, dengan peluh. Jangan sesekali megeluh dengan masa lalu yang sudah rapuh. Tak ada lagi risau, tak ada lagi langit-langit kelabu di kepalamu. Biarkan masehi mulai membantu dirimu untuk merawat angan-angan, mengarak satu persatu pesan yang kian ragam. 



Bujang kini, di Jakarta, dirimu sedang asyik dengan kesendirian, sedang menikmati lara tapi kau ubah menjadi bahagia melulu. Nyatanya, ditinggal wanita bukanlah perkara sulit, jalani riwayatmu, simpan baik-baik mozaikmu, maka, kau telah menghidupkan jingga pada pelangi yang kadang pudar. maka kau telah mengubah arah layang-layanng yang bisa kau nahkodakan sesuka hatimu, bujang. Jadilah tuan untuk dirimu sendiri, seberapa sulit dunia tak akan mengalahkan apa yang telah kau perjuangkan. 

Bersama doa, yang dipeluhkan, lalu dirangkum dalam sebuah damai yang abadi.

Pesan ini disampaikan oleh orang yang sedang mengatuk jangan ditelan yakin-yakin. muhehehe.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal