Perayaan Suaka Rakib

Rakib datang sedikit telat. Jas ia rapikan, biru dongker tampak rupawan nan tampan, sepatu ia cuci sebelum hari itu tiba, dasi kupu-kupu kepunyaan kakeknya nan jadul itu tercatut pantas di bawah dagunya. Tampan sudah. hari itu. Rakib datang sendiri, mengendarai mobil dengan sendu dibawanya kehulu, diderainya lagu-lagu masa dimana masih bersama Lankia, ia ingat kembali jenaka mereka berdua dalam atap mobil, menengadah langit bercerita tentang hari apa yang kau sukai, mengapa Lankia bisa jatuh cinta kepadanya. Kenangan itu deras mengalir dipikirannya, ingat lagi betapa manis senyum Lankia kala tiap pagi menyapa sambil lembut berkata "Selamat pagi, kasih", diusap-usapnya ubun-ubun kepala Rakib saat tiap bertemu, atau terjun dalam singgasana mata indah Lankia yang kadang menyapu rindu hingga lupa bahwa hari itu tidak ada Lankia disisinya. Hanya ada bantal kepala untuk bersandar yang sudah sebulan penuh lupa ia cuci. Rakib memasuki daerah Menteng, menerjang jalan-jalan kenangan bersama Lankia, saat ia ingin membelikan ice cream di beranda Masjid Agung Sunda Kelapa, atau ingat saat pagi benderang dengan keringat saat berlari bersama di Taman Surapati Menteng. Deras sekali. Sampai lagu Queen- Love of Mylife berdendang, ia mulai riskan. Kenapa suasananya jadi sedramatis ini? Padahal niat utamanya hanya ingin datang ke pernikahan Linka, ucapkan selamat menempuh hidup baru, menaruh amplop, bercakap ria dengan kawan lama, atau menikmati hidangan, dan pulang. 

Sampailah Rakib pada lokasi, lagu-lagu pernikahan, senyum bahagia sanak saudara, aroma makanan, bahagia meraup di atas angkasa bangku mempelai lalu jatuh terjun bebas membasahi kedua mempelai dan hadirin yang hadir pada saat itu. Rakib datang dengan sendu yang dibawanya dari rumah. Masih ia ingat 5 tahun berpacaran tak mengajarkan apa-apa, tak memberikan apa-apa, hanya patah hati yang ia ilhami, genap sebulan sesudah mereka putus. Lankia langsung mempunyai teman hidup, lelaki serius yang berani-beraninya melamar Lankia dengan tanpa memikirkan bagaimana hati Rakib saat itu. Rakib memasuki gedung pernikahan itu, bertemu kawan lama. Kawan-kawan mulai bercanda tentang seberapa lama mereka pacaran lalu akhirnya jatuh pada pelukan orang lain. Rakib hanya terkekeh tertawa takzim. Lalu langkah demi langkah, ia tekuni tanpa berani memandang lurus ke arah pengantin, hingga pada antrian segerombolan untuk hanya sekedar salim memberi ucapan selamat, Rakib beranikan memandang Lankia. Gaun itu, harusnya aku yang berada disampingmu. Gemuruh hatinya bergolak lebih laju. Bukan lagi Rakib yang mengucapkan selamat malam setiap berdansa bersama Lankia setiap malam, bukan lagi Rakib yang mengingatkan bahwa jangan terlalu sedih, aku disini, disekarnya air mata, diterjukan kepala Lankia kepada pundak Rakib, lalu dengan lembut Rakib bilang "aku yakin kamu bisa". Bukan lagi Rakib yang menguggus, menggagas, setiap masalah, kebuntuan Lankia dalam menjalani hidup. Kini Rakib sudah bebas dengan itu semua.

Sambil tersenyum. Rakib bilang, selamat menjalani kehidupan barumu, Lankia bersama lelaki paru baya itu. Iya, lelaki yang akan memperawakan Lankia sudah 30 tahun lebih tua dari Lankia, keriput sudah merajai mukanya, hampir habis pula giginya digergogti zaman, tak ada kuat mungkin ia lagi sekamar bersama Lankia, mungkin lendirnya hanya tinggal sebanyak biji kacang ijo. Bisik Lankia pada akhir malam bersama Rakib bahwa, Pak Faqar, mempelai yang sekarang bersama Lankia adalah lelaki yang sudah menyukai Lankia sejak umur 14 tahun, ia menitip kepada ibunda Lankia bahwa jodohkanlah ia bersamaku, aku takkan menikah dengan wanita lain, selain dengan Lankia. Sudah habis masa mudanya, harta sudah melimpah kesana kemari, Pak Faqar pun tak mempunyai istri satu macam pun, bahkan uzur dari umur buah zakarnya sudah hampir kadaluarsa pun, wanita yang seumurnya pun akan menolaknya, lebih baik menunggung ajal daripada menikahi lelaki semacam Pak Faqar, tapi Pak Faqar sangat baik dengan keluarga Lankia, setiap budi tak dapat dibalaskan oleh keluarga Lankia, setiap kesulitan terjadi, Pak Faqar selalu hinggap disana memenuhi segala kebutuhan keluarga yang sekiranya masihlah kurang, maklum anak dari Ibunda Lankia ada 6. Dan Pak Faqar teguh pada pendiriannya, hingga pada umur Lankia yang sudah menginjak kepala dua, dan Pak Faqar sudah melampaui setengah abad. Mereka akhirnya menikah, dan patah hati Rakib bukan hanya sampai situ, Pak Faqar adalah Dosen di universitasnya, yang ia kenal dengan prinsipnya yang tabuh betul, tak ada ingkar dari setiap mulutnya itu.

Dengan guyonan-guyonan kawan-kawan seprjuan Rakib. Rakib yang lihai bermain gitar akhirnya bersedia menembangkan sebuah lagu untuk Lankia di singgasananya kini. Love of My Life ia dendangkan, sampai hati betul Rakib bernyanyi, seperti seraub hidupnya ia persembahkan untuk lagu itu, diseuntuhnya nada-nada merdu nan merona, di jangkitnya hari-hari penuh damai yang akan kedua mempleai jalankan dengan romantis.Sehabis menyanyikan lagu itu, Rakib pamit pulang, sudah terbendung banyak pula patah hati dalam jangkar hatinya itu yang akan menjadi penyakit tiap malam, mengenang kenangan dalam taman kerinduan.

1 Tahun lamanya, Pak Faqar dikabarkan tewas dalam keadaan terjangkit asma yang gawat, ia dilarikan ke rumah sakit dengan terbuur-buru namun nyawa sudah berpindah diarak malaikat maut. Sesampainya di rumah sakit, Pak Faqar tinggal jasad melompong tanpa nyawa. Kematian Pak Faqar membuat Lankia begitu teresendak, karena Lankia sedang mengandung bayinya Pak Faqar sudah berumur 8 bulan. 1 bulan lagi bayi itu akan terjun ke bumi dan penuh tangis nantinya. Namun, tak ada bapak dari bayi itu. Lankia hanya bersedih pada hari itu. Sampai pada makan Faqar, Lankia menebar bunga, dengan lunglai dengan lemas, sambil usap-usap perut nan bucit itu kini dibisikannya dengan diam "Nak, kau harus tumbuh walau tanpa bapak" Faqar bin Karub sudah tergeletak disana, tumpuk oleh tanah-tanah, menyatu dengan bumi, dibumihanguskan oleh sejarah manusia. sebentar lagi. Faqar akan dilupakan oleh orang-orang, kecuali kebaikannya selama di Bumi. 

Mendengar kematian Pak Faqar, Rakib turut pilu, ia sedang menjalani kegiatan kerjanya di Canberra, Australia untuk sebuha penilitan yang akan ia buat sebagai pewujudan ilmu baru pada dunia teknik. Sebulan dari kabar itu, Rakib dengan izin pulang ke Indonesia untuk melepas rindu sambil ziarah ke makam dosen terdahulunya. sesampai di Jakarta, pertama yang ia kabarkan adalah Lankia bahwa ia ingin berkelana ke makam Faqar, tapi ia ingin ditemani Lankia. Lankia bersedia, dengan catatan harus penuh hati-hati karena Lankia sedang masa matang-matangnya akan kandungannya. Sampai di rumah Lankia, Rakib sedikit mengenang cerita kembali waktu masa puncak bersama Lankia, di dalam mobil, Rakib bercerita ngalor-ngidul tentang banyak hal selama di Canberra, bahwa orang Australia sangat menyukai orang Indonesia dengan keramahan, santun, murah senyumnya, disanapun Rakib mengikuti organisasi Persatuan Pelajar Indonesia, ditunjuk sebagai Ketua. Lankia turut senang, meski masih terkandung raut wajah sendunya mengenang Pak Faqar yang telah tiada. Sampai di Makam Faqar, ia tabur bunga, mengirim doa kepada lelaki tua yang pernah mematahkan hatinya sampai rusak. Tiba-tiba Lankia bergeming sungguh deras, kencang dan tak terelakan

"ah, perutkku" teriak Lankia

"Kamu kenapa kia?" Kata Rakib.

Rakib mulai peka dan sadar bahwa sudah waktunya makhluk yang berada diperutnya keluar, langsung Rakib bersigap, dan membawa Lankia dengan laju menuju rumah sakit terdekat, Lankia sudah mulai kesakitan luarbiasa, keringat tercurahkan kesana-kemari. Sampai pada ruangan untuk mengeluarkan janin itu, diluar Rakib merapalkan doa-doa yang ia ingat, sambil ia berkabar pada ibunda Lankia untuk segera datang ke rumah sakit tersebut dan memberikan dukungan penuh energi pada anaknya itu. dokter keluar dari ruangan dan bilang mana ayahnya, Rakib menjelaskan bahwa ayahnya sudah lama tewas, Lankia butuh dukungan moral untuk mengeluarkan bayinya, dengan cepat Rakib memberanikan diri untuk masuk, dan memeberikan dukungan tersebut. 

"tenang, lankia, ttarik napas, tenang" Ucap Rakib

ia memberi semangat dengan memegang tangan dan mengusap-usap kening Lankia

"tarik napas, terus tenang Lankia, aku yakin kamu bisa" ucap Rakib lagi 

Kata-kata menjurumus seperti kenangan kala Rakib masih bersama Lankia, pada setiap kesempatan Rakib selalu berkata sedemikan untuk meyakinkan Lankia bahwa pada setiap posisi sesulit apapun percayalah pada diri sendiri untuk bisa melaluinya dengan damai. 

tak selang beberapa menit kepala bayi itu keluar dilanjutkan dengan organ tubuh lainya, dan teriakan maha sendu terdengar dari bayi itu, penuh suka  dan bahagia Rakib menyambutnya, betapa senang hatinya dapat membantu Lankia melahirkan janinnya meski janinya bukan hasil dari persilangan bersama Lankia. Tanpa ia sadar Lankia tersenyum sebentar lalu, matanya meredup, menutup segala kemungkinan napas berhembus, tanpa ada aba-aba, baru saja malaikat maut mengajaknya untuk berpindah tempat, ke alam lain. Lankia meninggal setalah melahirkan bayi itu. belum sempat ia memberi nama bayi itu, belum ada sepatah atau dua kata untuk merayakan kelahiran anaknya itu, dengan senyum yang hanya sepenggal, lalu Lankia pamit. 

Perasaan Rakib campur aduk tak karuan, dibendungnya air mata, lalu dicurahkanya dengan seterjang-terjangnya mengalir sampai tak ada lagi air yang menjinakan matanya itu. Lankia pergi, kekasih hatinya yang tak sempat membuai dirinya. Lankia pergi tanpa pernah ia jadikan sebagai istri. Rakib mendung, matanya penuh hujan, tak ada senja berwarna dalam hidupnya kini. dokter menegur untuk segera memberikan nama pada bayi itu. tak lepas dari itu, orang tua Lankia datang, dan langsung pingsan seketika tahu kabar di dalam ruang salin itu. penuh duka dalam suaka kelahiran bayi itu. akhirnya tak jelang berapa lama, Rakib bersedia memberi nama, atas izin kedua orangtua Lankia pun

"Harum Kia Palka" Itu adalah nama yang cocok untuk bayi perempuan dari Lankia.

Dengan janji dan tak penuh ingkar, Rakib bersungguh akan merawat sampai besar betul itu bayi tak peduli apa yang akan dicemooh orang demikian nanti, baginya merawat Palka adalah seperti merawat cintanya kepada Lankia yang tak tertutur, disamping itu, sebagai pengabdianya terhadap dosennya yang sering memberikan banyak kebahagian atas nilai-nilai dari Rakib. Merawat Palka adalah menunjang segala harapan, merawat cinta yang akan tumbuh dengan terjal, penuh suaka, penuh berita yang membara, sebuah perayaan bagi setiap insan untuk  merawat kebaikan pula, dan ia akan selalu menjadikan Palka sebagai anak kandung meski bukan dari lendirnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother