Si 'Lenin' Ditelanjangi Malam

Di Jakarta.

Tak ada lagi, paham-paham -isme yang menacap dan beraroma, tak ada lagi partai sosialis yang berupaya memerdekakan kaum buruh yang terpinggirkan. Kami-kami sedang lupa, bahwa Jakarta punya jalan besar, tapi lengang ketika malam mulai menyapa. Yang kencang datang dari ruang-ruang padam dengan desahan, gemulai ria disapa kenikmatan yang aduhai. Tak ada lagi -isme -isme yang mengkafirkan pancasila, menghianatai sang garuda, merdeka sudah. Alhamdulillah, ya Allah. kini kemerdekaan adalah hal paling nyata. Yang sudah kita raih hampir 73 tahun ini. Wah,wah.

Lalu Tan Malaka tiba-tiba hidup bersama kami, jadi perbincangan renyah. yang satu-dua diselipi asap, supaya lebih keren nongkrongnya -kata remaja penuh borjuis disana-. Kami orang, mulai lupa bahwa pada hakikatnya manusia semuanya sama-sama telanjang, kalau tidak memaki baju. Eh, tapi sebentar, apakah mereka yang memakai baju ketat juga telanjang? tentu saja, sudah kami perkosa oleh pikiran, dan ditelanjangi oleh syraf. nikmat seperti madu. lalu pergi ke kamar mandi untuk memulai ritual. Komunis-komunis mulai bangkit lagi, sekarang begitu rumornya, mereka datang lagi, katanya. tentu rumor kebangkitan komunis tersebar dari jarkoman pengguna whatsapp, yang menyalurkann ke kawan-kawannya tanpa pernah membaca berita yang super duper panjang, bagi mereka, kalau dimulai paragraf pertama sudah efektif, cacthy, dan menambah wawasan langsung di sebar. subhanallah. bagaimana jika pesan-pesan itu hanya sebongkah kebohongan yang dibungkus dengan rapi oleh kata-kata. dasar kata-kata, bisa saja mengelabui. aku pun menggunakannya. muhehehe

komunis bangkit, dikelakar malam kali ini, pada sendi-sendi pemikiran kami, kami ingin serupa jadi komunis dalam satu malam ini, yang bukan membunuh-bunuh orang, melainkan menggukana cara pikir para 'kiri' melihat semesta, tentunya Indonesia. Dihembuskan dari Rawamangun penuh kelabu, penuh ujar, dan wejangan hangat si bajingan jalanan. apakah yang dipikirkan Lenin ketika ia tahu bahwa pahamnya kini terus menerus disahkan oleh para pengikutnya menggunakan caranya belajar, mendirikan negara, memerjuangkan kekayaan pada bangsa? apa yang dipikirkan Stalin ketika membunuh Trotsky dengan menyuruh pemuda di nun jauh di Mexico sana? aduh rumit. pikiran mereka nyatanya bukan tentang paham, tahta telah mengurat pada syaraf mereka orang. lupa kalau hati adalah penjamin segalanya. Oiya, tapi malam ini aku adalah serupa komunis, sebentar lagi akan dibunuh, dihabisi, ditembak di tepi pantai, atau jadi buronan lalu hilang. Tapi, kau tahu tuan puan? Pancasila masih erat dalam darah, warisan leluhur yang pernah direnggut dari oranye, malam ini tak bisa kuusir paham negaraku, nyatanya paham itu hidup disana bersama kerisauan dan kegundahan tentang demokrasi yang kadang beurbah-ubah.



Jadi, apa keuntungan dari membaca ini? kamu hanya menikmati pikiranku yang sedang bingung, dan terbelenggu oleh bosan tak menentu, aku sudah resmi pancasila lagi, sebab ini sudah pagi bodoh! pagi-pagi orang-orang bekerja, sekolah, berletih-peluh, berolahraga, mereka akan sampai hati membunuh kalau mereka tahu aku semalam jadi serupa komunis, serupa para kiri yang penuh nalar, penuh anarki. mereka akan tahu tentang keberadaanku, lalu mengejarku sampai jauh ke Kalimantan, Sumatra, Bone, bahkan perbatasan Malaysia, atau hidup bersama sepi dibelantara hutan. sebab mereka akan lupa bahwa sejarah kemerdekaan dibantu oleh para aktivis 'kiri' yang memengaruhi gagasan-gagasan yang ada sekarang. mereka akan buat kabar berita lagi, lewat media, share ke teman-teman lewat whatsapp, facebook, twitter mengubah-ubah berita, atau menambah-nambahkan kata-kata negatif nihil di dalamnya, lalu melaporkan kepada pemerintah. aduhai, mereka akan mengintai kita yang berpaham lain, tapi bukankah Pancasila menjujung tinggi perbedaan? jadi, bolehkah ada yang ikut -isme lain? hehe.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles