Mona, Danghulu, dan Sesuatu yang Lupa Dikatakan

Mona, hallo.

Wo zhenme hao xiang ni.

masih ingat puisi Fao mi yang sudah kau translate ini

Finally, we enlarge this paradox
to spirit and flesh, even to all mankind
whenever we borrow our body to solve
a problem the heart
we're the losers

Mona, bagaiamana kabarmu? masih sediakah danau di perbatasan Wu Dan dan Wu Xing itu, tempat biasa kita berbagi cerita sambil bercerita bahwa Maoisme tak seluruhnya dianut oleh para rakyat di negara ini, sambil menghabiskan danghulu yang isinya strawberry dengan lapis gula beku lezat, dan kamu menjilatinya sampai hanya tersisa tangkai.  Kadang kala ketika danau itu sedang lengang suasana kau biasa nyanyikan lagu shi nian nya Easo Chan sambil memandang jauh kesana ke selat lau china yang anginya sedang sepoi-sepoi. Sambil kau bercerita bahwa lagu ini tentang dua insan yang telah lama dekat, namun tak ada niatan satu sama lain untuk menyatakan perasaan, sebab gengsi, atau mungkin ingin lebih mendalami rasa lebih dalam, tahun berlalu, dua insan saling melupakan, dan mereka menemukan kebahagiaan dari manusia baru. Kamu menceritakan dengan bahasa inggris yang lugu dan terdengar sedikit aneh, kadang di campur dengan bahasa mandarin yang sama sekali aku belum mengerti, mungkin satu atau dua kata saja. Sesekali kamu menggunakan Pleco atau google translate untuk kosa kata mandarin yang ingin kau sampaikan padaku. Lalu diselipi  senyum manis yang kau semat bersama kurva lesung pipitmu itu. Aduh Mona, suasananya, senja di sore, burung berterbangan, nyiur angin danau, dan bunyi bising lalu lalang bahasa mandarin, itu adalah diksi yang lengkap untuk dicukupkan sebagai kalimat rindu. Bagaimana Mona kabarnya semuanya itu? apakah masih lengkap?



Masih sediakah, angin sore yang meniup rambut pirangmu itu, sambil terbata-bata kau ajarkan padaku, tentang hanzi, cara menulis pinyin, dan seluruh atribut-atribut mandarin yang ada. Dengan sabar, di danau itu, kau mengajarkan. Setiap kali bersama dirimu Mona, aku lihat Liuzhou nampak dari sini, macam Indonesia yang hangat, dengan secangkir teh yang dibarengi risol atau bakwan meminjamkan harapan untuk kami kala pagi, apalagi ditambah oleh dirimu yang sedang senyum sambil menggunakan syal berwarna putih kecokletan dan menapaki jalan demi jalan di sana, ughhh macam Bandung rasanya, dingin namun hangat tak dinyana.

oiya bagaimana dengan rencananmu untuk pergi ke negeriku Mona saat usiamu menginjak genap 20 tahun? ada niatan dirimu untuk pergi ke Jakarta, mari kuajak ke IKJ menyaksikan teater-teater buatan negara kami, ada rahwana, ada dedes, ada teatrikal yang disajikan oleh para pelaku seni Jakarta atau kala sore disana tersedia mereka-mereka yang sedang berlatih dansa, seperti yang pernah kau ajarkan padaku saat malam natal (aku tak tahu kalau perayan ulang tahun perusahan dibarengi dengan hari natal) tentang tata cara jalan yang baik dan benar diatas panggung untuk catwalk, iya aku ingat betul, itu acara undangan dari beberapa negara untuk mengenalkan kulturnya, mulai dari India, amerika, sampai Amerika, bukan itu saja, acara yang diselimuti anniversary perusahaan otomotif itu juga adalah pertemuan untuk para founder yang ingin mendirikan perusahaan automotif terbesar di Cikarang sana . barangkali, kamu kurang puas untuk pergi ke IKJ, mari sini kuajak kau ke rumahku di Karawang, kita habiskan senja di tepi curug cigentis sampai mengingat-ngingat hari apa yang kau lupakan ketika sedang tak bersamaku dan lalu kau merasa ada rindu menjelit sebegitu tebalnya.

Mona, saban hari aku disini menghabiskan masa kuliahku, dengan meraba-raba kenangan mana yang tertinggal disana? apa boleh kubawa puing-puingnya untuk dijadikan mozaik indah dalam keseharianku, biar kudapat senyum melulu, membayangkan bagaimana aku bernyanyi Indonesia Pusaka sambil menangis dan kau tersenyum, bilang bahwa kau rindu negaramu ya? aku mengangguk, lalu besoknya kau mengajakku untuk memasak rendang dengan mencari daging ayam yang amat susah, karena kebanykan zhi rou, wahaha.

Aduh, Mona, barangkali kau sedang menikmati dinginya Liuzhou yang hampir mematahkan sum-sum tulangku saat itu, barangkali rindu adalah topik hangat diriku malam ini dengan sunyi, biar kutulis pekat-pekat malam ini, sebab mozaik itu kini telah tumbuh menjalar dalam pikiranku, nyatanya yang sudah berlalu, tetap bertalu-talu hidup di danau kenangan.

Semoga, kau baik-baik terus Mona, jia you!

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Awal & Kamboja

You Must Be Strong, Brother