Ringkih di atas Gundukan

Aku mulai ringkih, di batas sore yang mulai gelap sunyi. sore itu, aku bersama dirinya bekerlana, memuja tuhan habis-habisan, sambil riyya, dirinya berkata begini: bagaimana ibadahku? ritual yang sering kulakukan, apakah tuhan akan menerimanya dengan sempurna?. aku menimang-nimbang, manaku tahu, aku hanya menyakasikan dia, menyembah lewat sujud, dan itu kebaikan bagi setiap orang yang melihatnya. 

lalu,

bagaimana kalau besok kita semua mati? dirinya mulai memukul-mukul pintu sambil menggerutu, dirinya belum siap, apa yang sedang dirinya lakukan di bumi ini seperti cerminannya bila nanti sudah tak ada jasad yang menghidupkan arwahnya. aku juga bingung, barusan dia bertanya tentang amalnya, sekarang ia mulai takut dengan kematian. aku hanya berdiam diri memerhatikannya, sambil bergumam pada diriku yang sebenarnya 'lebih rendah' pahalanya dari dirinya, jika memang ingin diperhitungkan bagaimana ia bersujud, berdoa kepada tuhannya. 

pada suatu sore yang lain,

aku bertemu dengan kawan-kawanku di sebuah persimpangan, dimana banyak kerumuman manusia yang sedang membicarakan tentang hari akhir dan surga yang ia puja-puja setiap pagi, malam, sampai sore. aku membaca kitab suciku, malamn-malam menumi diksi-diksi yang romntasi pada ayat-ayat yang teresdia disana. aku memahami diriku, aku memahami kalau Tuhan yang kuanut hidup di dalam diriku, ada dimana-mana, kapanpun, sampai kapanpun. tapi aku masih memikirkan petanyaan Dirinya tentang bagaimana kalau besok kita mati, dan usai dibungkus kain kafan putih. lalu aku mengetuk-ngetuk kamar ibunda, menanyakan perihal ini.

ibu, duduk di kursi sambil menjelaskan:

pahami, pada semesta yang luas dan meluber ini, kita hanya sebagian dari serangkaian rencana-rencanan tuhan. entah mati besok, entah bertemu dengan siapa lalu berjodoh, kita hanya bagian dari bongkahan besar yang dipecah lagi menjadi lebih kecil, lalu di sekat-sekatkan lagi menjadi partikel yang sebesar atom. ibu mengajariku untuk tetap menjalaninya saja.

aku duduk termenung, melihat semesta sambil bingung,

tapi apa tujuan hidup jika kita semua akan menemui kematian? apa guna ilmu, harta, dan tetek-bengek di dunia jika nanti akan hilang dan sirna, menguap, terlupakan. bahkan takkan tercantum dalam sejarah. apa tujuan aku menjadi manusia, apa yang akan kudapatkan jika saripati hidup telah kuraih gilang-gemilang? mengapa tuhan menciptakan manusia untuk hidup di dunia ini, lalu berakhir di akhirat nanti. mengapa tidak lansgung saja di akhirat, jadi, jika nanti salah langsung di siksa, jika nanti benar, langsung diberi kenimaktan. mengapa aku ada disini, mewariskan agama orangtuaku, berkelana dengan ilmu, dituntut untuk tidak bodoh dan tolol. mengapa manusia sukses diukur oleh materi yang telah ia raih dan banyak harta, menumpuk. apakah ada tolak ukur lain selain itu?

pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak, mengisi pikiran, memenuhi kepalaku:

akhirnya malam tiba, aku dipanggil kawan-kawanku kesana

"sudah selesai kau melamun tentang dunia?"

"hampir selesai"

pintu lalu ditutup rapat-rapat, oleh mereka, aku melihat diriku hanya berupa nama, tertancap di atas gundukan tanah. 

sambil tertawa-tawa aku bilang.

"aku sudah selesai"

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Awal & Kamboja

You Must Be Strong, Brother