Sebuah Tautologi untuk Kekasihku

Dari suamimu
Afjar

Tani Subana, kekasihku yang (mungkin) sedang duduk di beranda, barangkali pesanku ini adalah yang akan kau ingat sesudahnya. dan jangan menangis sebelumnya. Sewaktu aku bertemu dirimu pada persimpangan jalan di sore yang sudah mulai gelap, dan bagaimana selampaimu jatuh tepat di depanku. Aku berpura-pura mempraktekan adegan film untuk membuat suanana lebih bagus nan dramatis dan sekirannya kau akan anggap romantis, lalu aku mengambilnya sambil bilang selampaimu jatuh, dan diakhir diksi kutambah hati-hati ya dengan senyum. Kau tau Tani Subana pada waktu itu pikiranku mulai meronta dengan menyangka bahwa dirimu adalah apa yang sering orang ceritakan di telenovel sehabis pertemu manja itu. tapi pertemuan itu ku yakin kau tak merasakan debar-debar yang bertalu-talu, seperti aku yang habis semalaman memikirkanmu, melihat dirimu yang memesona, membayangkan bahwa kau ada disampingku, ah bertemu denganmu macam padang savana yang sedang dituruni hujan. teduh.

Tani Subana, kau perlu tahu bagaimana aku mulai menyukaimu dengan sangat mulai saat itu. ku tunggu kau saban hari di persimpangan dekat warung-warung tegal itu, 1 jam, 2 jam atau bahkan lebih hanya untuk menunggumu pulang atau tak sengaja melewati jalan itu. tapi nihil adanya dirimu disana, hingga kusadar bahwa bertemu denganmu adalah sebuah kebetulan, bak hujan di pertengahan tahun, hanya kemarau panjang yang menyelimuti. Tani Subana, aku mulai heran dan mempertanyakan nasibku dan takdir yang saling bertolak belakang dengan keadaaan yang terjadi. aku padahal sudah mulai menerka-nerka bahwa kau adalah yang selama ini kunanti dalam mimpi, dan proposal-proposalku kepada Tuhan.

Akhirnya yang kuterima adalah kosong melopong. kau semakin jauh, mendekati jurang-jurang mustahil bagi diriku. hari berlalu, menghidupkan pepohonan, menyburkan rumput-rumput, menghidupi cahaya pada setiap mozaiknya. hingga pada suatu masa, aku menemukanmu di taman, yang akhir-akhir ini sering kusebut Taman Firdaus, karena di taman itu aku temuka surga duniaku. Wajahmu yang molek, senyum kurva di kedua ujungnya, rambut teruarai, dan mata biru bak lautan di malam yang penuh debar. aku menemukan dirimu disana, seorang diri. Berdiri di dekat kuncuran air mancur dan sedang memainkan gadgetmu. Mana mungkin kutolak takdirku untuk yang kedua kalinya, maka dengan garang, kuajukan diriku, kuberanikan nyaliku, tekadku ku tekan lebih tinggi, dan menemuimu adalah pelbagai hal yang menyenangkan. 

Kita berekanalan, dengan embel-embel bahwa aku pernah membantumu untuk mengambil selampaimu yang terjatuh dan kau lupa bawah selampaimu terjatuh. Kau dengan cerdas mengingatnya, wah, betapa bahagianya diriku saat itu dunia sedang berpihak pada diriku, nyonaya, betul kan? ku buka percekapan dengan hal receh, klasik, dan memang tak ada isinya hanya sebagai intro atau peringai pada dirimu. Tani, Subana, kau pahamlah bagaimana lelaki jatuh cinta, dan kuyakin kau bisa melihat gelagatku saat itu, macam alergi manusia pada hewan tapi seakan memeluk hewan itu dengan penuh harap sebab lucu yang tak berkesudahan. ugh, Tani Subana. Jatuh cinta kepadamu macam kuaci, sekali mengunyah tak bisa berhenti.

Kita betukar kontak dan melewati waktu-waktu paling filosofis bagiku, dimana setiap hariku jika bersama denganmu selalu ada kalimat-kalimat filosof yang tumbuh. Tani Subana, kalau memang kau tak percaya silakan cek isi kamarku, dan bagaimana tembok benda mati itu -jika ia dapat berbicara- akan memberitahu betapa rindumu sungguh harum dan hangat disana, foto-fotomu ku pajang yang tak senagajku ambil dari Facebook dan instagram mu, semua hidupku adalah dirimu.

Pada suatu malam nun sepi, kuputuskan bahwa kuingin melamarmu, menjadikanmu permaisuri pada kehidupan yang suram ini, merajut asah, mengasaah harapan, mengaharap cerita nun bahagia bersama. memabngun arstiek rumah tangga dengan sederahana, menggarapanya penuah suaka bersemi cinta. Duh, Tani Subana aku yakin akan lebih indah jika kau mengiyakannya saja tak perlu banyak berpikir Tani.

Tepat pada mei yang masih suka mendung tiba-tiba, aroma tanah yang nyaru dan langit merah marun penuh mesra, aku mendatangi rumahmu, dan kita berbicara tepat pada beranda yang sedang kau duduki sekarang, dengan kursi cokelat pekat disampingnya, busa-busa yang mencuat dari saranganya, meja keropos yang menyajikan teh hangat. itu suasana paling estetika untuk menyatakan hal penuh etika, kalau boleh kulukiskan dalam kanvas. saat kunyatakan padamu. hening sejenak, burung-burung keambli kesarang, ikan kembali ke samudranya, angin sayup berlalu, bertalu-bertalu, menjorok ke hulu dan hilang di angkasa. mulutmu, gesturnya. O. kau jawab bahwa kau menerminnyaaaaaaaaa

hingga kini sampai pada masa ini, aku tetap mencintaimu sebagai istriku. menyangimu selalu. dan akan terus. Jika Sartre pernah bilang bahwa cinta hanya mengobjektifkan hal yang subjektif dari pribadi, aku sangat tidak setuju Tani Subana, aku yakin tak ada objektifitas atau pun subjektifitas diantara kita. sebab kita telah menyatu dan menyetir alur jalan hidup malihgai kehidupan cinta kita. kita telah menghidupkanyaa, mewujudkannya sebagai entitas yang nyata. 


Sumber gambar

Tani Subana menutup surat itu, ia diam sementara. Matanya kini penuh ombak yang tak bisa terbendung, lalu meronta-ronta mendobrak terjun mengalir dengan deras begitu saja. isak ia habiskan semalaman dan memeluk surat itu dengan hangat mengunggu esok penuh kelam dan peluh. Seraya dengan itu, sura tahlil menyatu, bergerumuh mengiringi pengajian dan pemakaman yang akan dilaksanakan. di atas kain  yang menutupi seluruh tubuh jenazah itu terpampang sebuah foto lama, lelaki berparas sopan, dan senyum ramah yang meneyeringai pada alasnya dengan tulisan dibawahnya;

Afjar Subagandi



Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother