Baju Lebaran untuk Setan

Pada tempat pembelengguan, setan berdiskusi dengan setan lainnya. Mereka sedang menggosipkan manusia-manusia di bawah sana. Sebab mereka sering mengikuti aktivitas manusia ketika belum melaksanakan puasa di bulan suci Ramadan, seperti sedang di warteg dan merokok, dengan posisi kaki di atas, rokok di tangan kanan, dan kopi di depannya. Begitulah posisi para setan saat ini, di tempat belengguan mereka sambil menggosipkan, sambil juga melakukan ibadah ngudud, dengan api neraka, kopi dari cairan api, dan tak lupa kaki di angkat ke atas kursi. pesis sekali.

Dikusi setan pada tempat pembelengguan tak lain, tak bukan tentang keaktifan manusia, mereka sering mencibir jika ibadah manusia makin kesini meningkat habluminallah-nya. Tapi pada sore yang panas itu, topik utama para setan adalah baju hari raya.

"Bagaimana tidak, tan? Hari raya masih jauh, mereka-mereka malah memikirkan memakai baju lebaran apa, trend apa yang sedang muncak"

"Iya, apa mereka tidak memikirkan jauh kesana ya, tentang amalan apa yang sudah mereka kerjakan, apakah puasanya mendapatkan fadillah ya, tan"

"Aku sedikit heran ya dengan diri kita ini ya, tan. Kenapa kita mahluk yang dibenci Tuhan, malah memikirkan macam ini, apakah efek berpuasa terkena kita juga ya, tan?

Salah satu setan tertawa terbahak-bahak, mereka seakan menjadi manusia bahkan satu tingkat suci di manusia kebanyakan.

"Tapi, tan. Kalau memang baju lebaran sebagai utama dari mereka berpuasa, jadi apa yang disebut Al-quran bener dong bahwa ada segelintir orang yang hanya mendapat lapar dan haus saat berpasa"

"Iya, itu kalau aku sering dengar, ustad Nurdin setiap pengkajian membahas hadits itu melulu"

Sambil menyundud lagi rokok yang entah terbuat dari apa, sehingga nyala apinya tak habis-habis,  Baju Lebaran bagi mereka mulai menjadi anatomi sendiri, sehingga Ramadhan adalah Baju Baru. Entah telah berapa kali Ramadan adat istiadat itu tidaklah luntur ketimbang iman yang baru. Bahkan jikalau memang diizinkan oleh para malaikat, setan keluar dari pembelengguannya sebelum seminggu hari raya, agar Setan tahu antuasiasnya manusia ketika berbelanja sambil minum Teh Pucuk di pojokan, atau sisa dari uang belanja mereka rayakan dengan buka bersama siang hari di Hoka-hoka Bento. Aduhai. Seakan-akan sandang adalah harkat tertinggi ketika ramadan datang. Apakah ini definisi dari matrealistik membutakan mata?

Lalu, kini setan mulai menuangkan lagi arak cap jahanam. Ugh, itu adalah hasil fermentasi anggur yang sedikit di campur oleh aliran api jahannam. Mereka kini menikmati lagi malam di tempat pembelengguan dengan kondisi sudah teler, dan mulai bersendawa sebab minum yang kebanyak, sehingga dapat kau lihat perut-perut mulai berubah menjadi kendang-kendang, jika kau tepuk akan bunyi tempurung yang kosong. mirip dengan manusia saat kekanyangan. Dialog mereka kini makin intim dan mulai mengkrtisi manusia dengan hal senonoh dan semborno lainnya.

"Sungguh-sungguh, mereka, itu setaan. heuhue. aku greget bangets." untuk bagan ini aku sedikit terkekeh menyebut manusia setan dari subjek si Setan itu sendiri, jadi mana yang setan? Ah, Jangan menyetakan setan jika memang setan hidup dalam diri.

"Kenapa kau, nampaknya kau marah kesal sekali?"

"Kalau puasa hanya mengincar baju lebaran saja, dan melupakan nilai lain di dalamnyaa, aku pun ingin puasa, untuk mendapatkan baju!!!"

Mereka bertiga tertawa terkekeh, bahkan sambil muncrat sekali lagi itu arak cap jahanam, salah satu setan tersungkur dari kursinyaa ketika mendengar penyataan seperti itu, ada juga yang mengepak-ngepak meja dengan gaduh. mereka tertawa sampai menangis, tapi apakah mereka bisa menangis? hahaha.

"Kau itu tan, benar jugaaaaaa, kita semua telanjangg!!! tak punya bajuuu"

Gaduh itu bergema jauh menyulut ke dasar bumi, terdengar oleh manusia sebagai bencana, manusia-manusia yang sedang berbelanja Baju Lebaran menganggap bahwa itu gempa bumi, halilintar atau pelbagai hal buruk.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal