Berharap dalam Tiada

Sebab yang pudar sudah menjadi pendar, menyeluruh ke bagian-bagian rusuk kehidupannya. Ada janji di palang panji. bersama suci yang berkerumuh di tebing-tebing keneleangsaan. Kau jalan lebih jauh, telanjang tanpa apa-apa, bajumu sudah diuraikan, selendangmu sudah kau sebarkan ke lantai putih pasi di persempingan itu. kini yang ada adalah gambaran rona tubuhmu dengan liukan dan gumpalan yang tersusun pada fungsinya. Kau melarat kini, tak ada rona, tak ada bahagia yang meluapkan dirimu. Semakin kau jauh berjalan, semakin ku mencoba untuk menyusun diksi untuk sebuah perpisahan yang linglung. Sebab tak ada lagi jarak pada dogma, do'a, dan dosa.

Bayanganmu makin nyaru dan sangat menyala. Kau menjelema sebagai idola bagi para pemusik yang lupa kunci, lupa irama, amnesia lirik. Kau telah menejalajahi segala tubuh, semua peringai dalam ambigu tak bertuturan, tak beraturan. beringas dalam markas yang di uraskan. Pernah suatu senja kau ceritakan ini kepadaku, tentang ular dan kijang yang berkelahi dalam gurun pasir, meyakinkan mana pemenang mana pecundang, kau ucap bahwa aksara pada mereka itu adalah anatomi antara diriku dan dirimu, dimana napsu, dan hawa adalah sisa-sisa sayap burung belantik yang gugur gerai demi gerai. luntur, puan. 

luntur.
luntur sudah.

mana ada harapan dalam terang, harapan hanya tercipta pada gelap gulita dimana ia menjadi lorong dan pintu untuk para pencarinya, meski secuil, kerdil, dan kadang tak terlihat. harapan hanya untuk mereka yang sering berdoa, memberi proposal kepada Tuhannya agar cepat dikabul permintaanya, contohnya, ingin sugih cepat, ingin lulus denga nilai puas. harapan tercipta untuk proletar kelaparan, terpinggirkan, meminta-minta di sisir jalan. tapi apakah harapan tak tercipta oleh orang borjois, kaya raya yang sudah punya semua. apakah mereka kaya raya tenpa meminta dan berharap.  puan tapi untuk kasusku yang satu ini, aku ingin menghidupkan harapan sebagai nadi dalam gairah kita berdua,



semisal, saat kau berucap bekas gincu siapa di ujung pelipis bibirmu?
entahlah,
lalu kujawab, bolehkah ku menghapusnya dengan bibirku
lalu kau mewujudkannya, dalam gelap, bayang dan mesra.

barangkali, aku juga sempat berpikir, apa palang yang menghalangi antara aku dan dirimu pada dini hari, ketika embun fajar mulai menjadi kawan, menghidupkan suasana demi melangsungkan rutinitas untuk menghangatkan ironi-ironi manusia. barangkali jika kau lupa, tentang dunia gemerlap semalam, ketika kau usai nonton konser efek rumah kaca, dengan sisa minuman yang lupa kau buang sbeab kau pulang dengan sempoyongan digotong.

aku perlahan lupa, mana jatuh cinta, mana patah hati. ketika ku paham bahwa dirimu ada di ambangnya, hidup di tengah-tengah jurang bunuh diri. terlalu jatuh bisa patah hati, terlaluh patah hati, bisa menimbulkan jatuh cinta. ah aku bingung

kau betul-betul, mengusap laraku saat ini.
kau betul-betul menjadi larang dalam garang, menjelema nyala dalam bara. 
kau kerlap-kerlip di kepalaku, mengisi kekosongan, selang-seling.

tetaplah menjadi gelapku, agar aku paham caranya berharap.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal