Kepulangan Adalah Berbahagia

Larasati, kau sudah perlahan lupa, bukan? tentang sore dimana kau duduk di beranda ini hanya untuk memerhatikan sore, apa masih seperti pada tahun 1988 atau sekarang sudah lebih mendominasi jingganya. Larasati, apa kau sudah semenua ini, seseolah ada bocah kecil berlari kesana-kemari, meanggil namamu dengan sapaan awal 'nek', bocah itu menghampirimu dan kau peluk untuk menicum pipi mungilnya. oh, larasati itukah masa tua yang kau idamkan pada lalu lalang masa-masa mtangmu dulu. Sebab pada beranda sore ini, kau hanya termenung, diatas sofa dengan penuh busa berdebu, jangan-jangan kau sedang mengingat pada hari apa pacarmu kencan kesini, membawakan martabak buatan Terang Bulan yang saat itu larisnya minta ampun, martabak itu pula sebagai alat menyogok ibu agar pacarmu bisa membawamu keluar malam hari. dan setelah diizinkan, ia, pacarmu itu mengajakmu pergi ke pasar malam, ada bianglala disana, ada komidi putar yang kau selalu nantikan, orkes semua diorbitkan sebagai dendangan penutup malam disana, tempat yang ramai sebagai pusat dimana semua kesenangan tercipta. Di pasar malam itu, kau hidupkan segalanya, memuncak sudah rasa rindumu, tak ada teknologi pada masa sekarang: handphone, sebagai penghubung bagaiman rindu tertuah. pada saat itu, kau hanya bisa memendam bukan, Larasati? menanti malam minggu, menanti pacarmu datang menjemput, lalu kau tumpah ruahkan segala rindu yang sudah kau arsipkan berhari-hari, kenangan itu masih nampak jelas diingatanmu, bukan?



Lalu kau diajaknya naik komidi putar, mengahabiskan malam penuh pekat, dengan dekat-dekat dirinya, macam seperti ibu yang tak ingin anaknya hilang, ia pegang erat-erat tangan dan lentik jemarimu, seakan menyatu dan tak tertpisahkan. kau tertawa dengannya, lihat penampilan pacarmu kini, rambutnya keras macam Elvis dimodelkannya, kemeja bermotif bulat-bulat biru dongker, dan celana cutbray andalannya, kini dirimu sedang disibukkan oleh masa-masa itu, kenangan yang memuncak, kau menjadi sangat pemalu, lihat wajahmu sekarang merah merona, semua akan bisa lihat itu, Larasati. Pacarmu membelikan gulali berwana putih dan pink khusus untuk dirimu hanya 500 rupiah harganya, tapi itu adalah pemanis yang mengubah malam itu menjadi lebih intim. kau ceritakan kepadanya bahwa beberapa hari ini telah kau habiskan dengan hari-hari kesunyian tanpa diriku, lalu kau ucapkan

"dikamarku telah tercipta taman kerinduan, yang hanya bisa kau nikmati oleh dirimu sendiri"

Oh, larasati, masih ingatkah kau pernah berkata seperti itu?
pacarmu tertawa, lalu ia senyum untuk membalasnya dengan sebuah gumaman lelaki masa itu

"ah, kau bisa saja dek"

lalu kau merasa malu, memeluk pacarmu, seraya dengan itu, kau perlu tahu bahwa semua yang terkumpul di pasar malam itu serupa sumber air yang kau temukan di padang savana tandus..

Larasati kini hanya bisa mengangis, mengingat segala sesuatunya. ketika ia tahu bahwa hanya ia kini sendiri yang menerjemahkan dirinya sebagai perempuan tua di batas waktu yang sudah berlalu. ia kehilangan percakapan-percakpannya dengan pacarnya, yaitu adalah suaminya. ia kehilangan sebuah mozaik itu. tapi kini dibenaknya tumbuh pepohonan kerinduan baru, sebuah keteduhan yang menunggu di katakan, bahwa ia rindu kepada semua itu, ia ingin segera cepat pulang, menanti hari-hari dimana hanya ada dirinya dan umurnya yang kembali muda bersama surga dan kekasihnya, bersama air terjun di setiap sekatnya, ia hanya ingin itu, bersenggama setiap waktu dengan kekasihanya. 

di atas sofa dengan busa yang sedang memberontak prak poranda keluar, untuk pertama kali mempunyai keinginan bahwa ia ingin pulang. 

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother