Jarot, Rumah Bordil, dan Keranda


“Ah,” Sambil mengehela napas dan tubuh sedikit bergetar.

Ini adalah ejekulasi ketiga dari malam yang cukup sengit di rumah bordil HayMas, perempuan di atas Jarot adalah eksperimen ke 31 selama hidup di Jakarta, padahal usut punya usut dulu Jarot datang ke Jakarta menanam janji pada dirinya untuk tidak melakukan hubungan seks sama sekali keculai dengan istrinya nanti, tapi sudah ganjil pula koleksi nama pada angkasa pikirannya untuk berhubungan seks hampir tiap malam minggu.

Jarot lemas lalu tergeletak ke samping tempat tidur bersama wanita yang bahkan ia tak tanyai namanya, sebab birahi sesampai di rumah bordil HayMas sudah sampai ujung, tak tertahan, tak dinyana. Dia memandang langit-langit kamar sambil memikirkan kegiatan organisasi di kampusnya besok dan beberapa tugas yang belum rampung dikerjakan. Tak banyak berkata-kata, ia langsung mandi dan menggunakan pakaiannya, memberi tips kepada lawan mainnya malam ini, dan pergi begitu saja. Perlakuan biadab nan aduhai ini bermula dari buah hasil bercanda Jarot dengan temannya, saat perjakanya masih dijaga ketat dan berprinsip pada ketaatan agama, Jarot bilang kepada Nuri

“kadang onani tidaklah enak ketika sudah selesai” ujarnya

Nuri yang sudah tak asing dengan seluk beluk dunia hiburan malam, menyeletuk

“sesekali kau pakai punyamu itu dengan fungsi sebenarnya dan carilah lawan mainnya”

“ah gila lu, gue bercanda kali”

“kubayarkan untuk kali ini, cobalah dulu, kalau tak mau lagi, kau kembali pada keseharian onanimu, kan gampang”

Percakapan berakhir dengan geleng-geleng yang khidmat dari Jarot, ia pun pulang ke kosan. Namun percakapan dan tawaran tadi masih menggantung di semesta pikirannya, sampai terlelap dan pagi buta tiba. Ia lekas mengirim pesan kepada Nuri, menanyakan apakah tawarannya masih berlaku?. Jawaban Nuri sangat singkat, padat, dan jelas. “kutunggu kau di Hay Mas” dengan attachment location maps. Semua berubah pada malam pertama ia lepaskan lendirnya pada lubang yang tepat, Jarot merasakan hal lain dari berhubungan seks, lebih enak, katanya. Ia mulai melunturkan tradisi mengusap sabunya, dan mulai menyisihkan sisa uang kiriman orang tua untuk jajan di HayMas, mulai hari itu Jarot kadang mendapatkan julukan baru: Monster. Julukan ini muncul karena setiap ia jajan di HayMas, selalu wanitanya yang kewalahan dan nagih terus setiap Jarot kesana.

Nuri hari itu ulang tahun, setelah melaksanakan kegiatan kampus dan mengumpulkan beberapa tugas, nuri memberi pelayanan spesial kepada Jarot untuk menraktirnya jajan di HayMas, tentu tawaran yang sangat asik, menggiurkan, sudah tak akan ditolak. Jarot berangkat sehabis isya, ia main dan jajan seperti biasanya, namun malam itu beda ketika ia pulang dengan membuka pintu HayMas, ia menemukan keranda sedang dibpopong oleh jamaah bertemakan lafazh Allah berjalan tepat ketika Jarot membuka pintu keluar HayMas, pihak keluarga dari belakang nangis mengumpatkan setiap lara yang ada dan kehabisan suara untuk meneriakan sang mendiang yang sedang dibopong menuju liang lahat.

Jarot cuma bisa berdiam diri, menahan tubuhnya untuk tidak berani melangkah, kakinya kaku. Ia ingat teori tentang hidayah manusia bisa datang dimana saja dan kapan saja; semua perbuatan buruk suatu saat akan ada penunjuk cahaya terang untuk kembali kepada jalan kebenaran. Ia juga jadi ingat, bagaimana tetangga samping rumah mati dengan posisi alkohol di tangan dan perempuan yang masih berbaring di Kasur. Betapa takdir begitu sangat elegan membalas apa yang harus dibalas. Keranda sudah berlalu, itu adalah teguran yang sangat nyata baginya. Jarot masih beridiri di depan pintu dengan kaku, kini air di matanya telah menjadi sungai riak, tak sadar semuanya begitu saja terjadi, mungkin beberapa orang akan heran melihat Jarot, muncul sebuah pertanyaan mengapa sehabis jajan seks ia menangis tersedu sedan.



Jarot jadi ingat pepatah lama arab: “Orang-orang menari dan bersenang-senang, tanpa pernah sadar, bahwa di sebuah tempat, kain kafannya sedang ditenun.”

Maut ternyata bukan hanya berbakat menjadi pemenang. Ia juga sangat berbakat untuk dikenang.

Jarot melangkah dan pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Awal & Kamboja

Kamu Diculik Alien?

Pertemuan Yanto Budal