Pada Sebuah Lubang Tali

Jambon berada di sudut kamar dengan kondisi mengepal tangan lalu memegang kepalanya macam orang gila, yang muncul begitu banyak pertanyaan dan penyataan pilu. Beberapa minggu lalu istrinya baru saja minggat karena tak tahan akan kemiskinan yang mereka bangun bersama, kencan dengan lelaki lain tanpa sepengatahuan Jambon hingga pada suatu subuh yang buruk istrinya pulang dengan kondisi tak terkendalikan, sempoyongan, dan mabuk. Jambon baru selesai memahat patung jualanya untuk dipajang di toko besok. Tiba tiba dari beranda depan, sang istri selonong tanpa aturan dan menegtuk, dibopong seorang pria yang tak dikenalnya, dilemparkan begitu saja istrinya dan ditinggalkan. Hingga pada meja hakim, mengetuk palu dan memutusukan kisah pernikahan mereka berdua tamat. 


Gambar dari sini

Di atas kepala Jambon, sudah tergantung tali yang disimpulkan dan diberi lubang pada bagian tengahnya, semcam jebakan tikus namun sekalanya kini lebih besar, yaiut kepalanya sendiri. Ia, hari ini, Jambon hendak bunuh diri. Permasalahanya akan kehidupan bukan soal menyoal istrinya saja, tetapi Sorali, anaknya yang baru berusia 18 tahun dan baru saja lulus sekolah menengah atas, perut bengkak dan berisi, Sorali bunting tanpa tahu siapa yang melakukannya, entah sudah berapa lelaki yang menggunakan tubuh Sorali dengan cuma-cuma, kemaluan lelaki telah mengajarkan arti kenikmatan bagi Sorali, sampai ia lupa tentang hidupnya, yang ada hanya hasrat dan napsu bercinta setiap malam. Bahkan Jambon pernah menemukan kondom dan tissue ajaib di kamar Sorali, ia sudah menyiapkan itu semua, bila-bila lelaki yang ingin menyetubuhinya lupa membawa alat penangkal sperma itu. Setelah mengetahui bunting, Sorali kabur dari rumah, ia tak kenal siapa bapak dari anak yang sedang di kandungnya. Hingga sampai rumor pada telinga Jambon, bahwa Sorali menjual dirinya di pijat plus-plus Mari Mampir.

Jambon makin keras memegang kepalanya, pikiran-pikiran tentang kenangan yang ia alami selama ini hanya omong kosong tentang manisnya kehidupan dan semua yang diceritakan di telvisi atau novel telenovela. Isak tangis Jambon makin deras seraya hatinya, semakin yakin bahwa jalan salah satunya untuk menyelesaikan masalah ini hanyalah menggantung leher lalu melepaskan kursi yang dipijaknya. Mati menjadi solusi dan juga ketenengan baginya. Di samping Jambon, kucing anggora putih pucat peliharaan, yang ia beri nama Melati hanya diam melihat majikannya penuh sendu sedan, raut muka muram dan penuh kecewa sampai isak tangais Jambon kehilangan airnya, ia sudah tak punya air mata lagi, ia hanya punya kepunahan atas harapan-harapan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warramah.

Toko pahatan patung: Maju Jaya Sukses Terus, berlokasi di rumahnya sudah 2 minggu ini tutup karena tak punya modal lagi, semua harta diembat oleh Sorali, dibawanya kabur uang-uang tabungan Jambon yang ia simpan di lemari cokelat. Tak sesuai akan namanya, toko itu tak pernah maju, jaya, suskes, malah menjadi antonim dari semua lawan kata tersebut. Jambon sekarang hanya punya patung-patung, Melati dan dirinya. Terkapar sekarat menentukan mati atau tidak ya.

Lalu tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk, pintu reyot itu tidak dikunci, sehingga tamu yang datang tinggal masuk ke beranda. Jambon segera keluar dari kamar, mengunci rapat-rapat kamar, dan yang ia temui adalah Laras, tetangganya dari masa kecil. Laras, karib mainya dari kecil, ia sering bertukar cerita dengan Jambon ketika diledekkan oleh lelaki-lelaki bajingan sebab payudaranya muali tumbuh ranum yang sudah besar dan sering dipegangi semena-mena oleh mereka. Jambon hanya bisa mendengarkan cerita itu tanpa tahu betapa kenikmatan payudara yang sedang ranum itu pada masanya. Tapi Laras selalu mempunyai rasa cinta kepada Jambon, diam-diam semua pertemuanya semasa kecil dengan Jambon, Ia tulis di buku catatannya, bahwa di dunia ini lelaki tercipta menjadi brengsek, tetapi berbeda dengan Jambon. Laras menyukainya dari sejak itu. Jambon pun seperti itu, Ia merasa selalu ada ikatan batin dengan Laras, ia selalu menerka-nerka, apakah ini cinta? atau hanya sebetasa persahabatan.

Hingga Jambon menikah dan punya anak, Laras tetap teman baik Jambon, rumah Laras tak jauh dari Jambon hanya berselang tiga rumah saja. Laras tak pernah punya suami, ia tak percaya lelaki, semuanya hanya hidung belang, mematil, meniduri, dan buaya yang dapat bernapas lama di daratan.

Kau sedang apa, tanya Laras. Jambon menjawab, merapikan kamar. Pikiran Jambon kacau, semua itu bisa terlihat dari mukanya, sehingga Laras tak mungkin bertanya kenapa kau sedih. Jambon menjelaskan ia tak apa-apa. Setelah melewati begitu banyak hal-hal buruk dalam hidup Jambon, ia berpikir mengapa tidak sebelum saya mati, saya ungkapkan perasaan saya dari masa kecil kepada Laras, dengan terbata-bata ia ucapkan, bahwa Jambon menyukainya namun semua terhalang pagar persahabatan dan istri Jambon, begitu pun Jambon adalah lelaki setia, tak pernah ingkar atas ucapannya.

Tiba-tiba Laras menarik baju Jambon, Jambon mencoba melakukan sedikit perlawan awalnya tetapi bibir Laras terlalu lembut untuk ditolak, libido mereka berdua naik dan Jambon lebih napsu unutk membuka baju Laras, payudara yang ukuranya hampir seperti buah kelapa itu begitu sangat nyata, sensasi ini tak pernah ia dapatkan dari istrinya yang minggat. Laras tidak melawan, tiba-tiba dibawah selangkangan telah masuk peluru lelakinya Jambon, dan Laras hanya mendesah. Sambil menikmati Laras bilang, nanti istrimu tahu. Jambon dengan gamlang, ia sudah minggat bersama bajingan baru, lalu cairan itu muntah dan luber.

Mereka berdua lalu telentang kiri kanan di atas Kasur. 

“itu tali apa?” kata Laras yang masih telanjang

“aku ingin pergi dengan tali itu”. Ucap Jambon.

“Aku ikut”

“Kau yakin?” sambal memebrikan baju kepada Laras

“yakin”

Tiga hari kemudian, mayat mereka ditemukan di kamar Jambon dengan posisi 2 tali bunuh diri yang terisi kepala Jambon dan Laras, badan mereka sudah biru, seperti bukan wujud mereka. Melati, kucingnya hanya terus mengeong setia menunggu mereka berdua di kamar yang telah mati tergantung, sampai akhirnya Pak RT datang untuk memberikan undangan pengajian, dan malah menemukan mayat mereka tanpa busana yang untuk di ngajikan juga.


Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother