Catatan Senin

Senin.

Ada hari senin dalam 7 hari setiap minggunya. Ada hari senin dalam 30 hari setiap bulannya. Kurang lebih sih gitu. Ada The Velvet Underground memainkan Femme Fetale, Lou Reed lantang sebagai vokal disana. Ada semut lewat di atas mejaku, bersalaman. Mereka benar-benar tidak melaksanakan social distancing, bukan? semua makhluk hidup, selain manusia, sedang berjaya-jayanya. Mungkin. Ada satu buah buku The Age of Reason di atas mejaku, hampir tamat sudah triologi karangan Jean Paul Satre, tinggal Iron In The Soul belum kubeli juga bukunya. Sebenarnya membaca buku yang diterjemahkan itu sedikit sulit dimengerti. Ada satu bungkus rokok Mild dan botol Radler. Ada pulpen, celengan merah jambu, gelas kuping pemberian saat magang, earphone biru laut, earphone putih pucat, buku-buku, jurnal, charge hanphone, terminal listrik, name tag panitia event kampus, gooidebag, tumbler Starbucks, dan fokopion surat lainnya di atas meja. Semuanya komplit di hari senin. Hanya kali ini aku tak boleh kemana-kemana, kau juga, mereka juga, dan mungkin hampir semua orang lebih memilih diam di rumah. Corona bajingan, asu, anjing, taik kucing, brengsek. Kita semua terjebak dalam keseharian yang menyenangkan pada awalnya, lalu makin hari makin menjenuhkan.


Karena aku tinggal di kosan, dialetika dengan diri sendiri lebih banyak terjadi. Ketimbang video call zoom bareng temen. Tempat kerja juga jarang menggunakan zoom untuk meeting conv. Aku sudah menghabiskan banyak aktivitas untuk menghabisi bosan; menamatkan wishlist film, main game mobile legend, membaca buku-buku yang belum usai dibaca, menghitung hari dengan menulis di tembok, menghafalkan kata baru dari kamus bahasa inggris, dan rebahan. Tapi, serius. Bagiku, kali ini keadaan yang begitu suntuk tapi aman dan nyaman. Terkadang aku lupa dengan hari, sebab hitunganku tentang waktu hanya hari ini, besok dan kemarin. Semuanya benar-benar sepi. Sekarang aku sedang mendengarkan Jimi Hendrix, kata anonymus dalam kolum Youtube milik orang "Jimi Hendrix is not dead, God just needed guitar lessons". Disamping itu, pemberintaan tentang melonjak angka positif Covid-19 masih melonjak naik, ekonomi memburuk, banyak yang terkena pembersihan atau dipecat, segelintir pemerintah mulai bergerak untuk menangkal virus ini membeludak, ajakan untuk kita tetap menjaga kesehatan, mencuci tangan, dan jangan keluar kalau tidak begitu penting. Pemerintah dari sebelum virus selalu begtiu sih, menandakan semuanya baik-baik saja, padahal hmmmmmm........

Ramadhan kali ini pun sedikit terasa hambar. Tanpa ada petasan dimana-mana, masjid dekat kosan tidak mengadakan taraweh, lantunan quran yang biasa ramai setiap malam sekarang kurang terdengar, Kabbah sepi dikunjungi kemungkinan musim haji tahun ini bisa dibatalkan, Ratapan tak ada yang menyenderkan kepalanya di tembok untuk berdoa, Vatikan sunyi dari petuah para Paus, dan pelbagai hal yang biasanya lumrah menjadi tersekat oleh karantina. Huaaa…. Aku hampir bingung ingin melakukan apalagi, selain bekerja, mendesain, menulis dan main game. Rasa-rasanya ruang sendiri menjadi active campagin dari lagu Tulus dewasa ini. Atau mungkin lagu Mbah Surip juga termasuk visioner menggambarkan bangun tidur, tidur lagi tanpa kemana-kemana. Dan aku atau mungkin kita bisa merasakan itu. Semuanya tersekat, semua terisolasi. Tapi, doa-doa mungkin tidak. Mereka masih sebagai alat penyambung antar Tuhan dan manusia, manusia dan manusia, dan manusia ke dirinya sendiri. Tuhan memang tidak ada di tempat ibadah dan persembayangan kali ini, tapi Ia di hatimu, pada kelapanganmu menerima ini semua. Lho...kenapa jadi religius begini? Aku kehabisan kata-kata soalnya. Tapi untuk terlihat lebih panjang catatan ini. Biar aku tutup dengan penggalan cerita dari Luis Sepulveda dengan judul buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

Paul menciumi gadis itu penuh nafsu sementara si pengayuh gondola, kaki tangan perbuatan nekat temannya itu, pura-pura menoleh ke lain arah, dan gondola yang dijajari bantal-bantal empuk itu pun meluncur gemulai sepanjang kanal-kanal Venesia. Mereka berdua percaya cinta bukan hanya kepak kasih sayang, namun ketika kepak itu melebar dan terbang, cinta menyiramkan seluruh romansanya ke bumi, bukan hanya untuk gondola di Venesia.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother