Plaza Marseiles

Sore gelap di suatu plaza kota, menjadi hal yang sangat canggung bagi Dar untuk berjalan. Ia baru saja kehilangan berbagi hal. Lunglai tanpa ampun. Kehilangan memburuk susana Dar saat ini dengan melihat kedua sudut matanya dapat mengihlami itu semua, sedikit menahan awan mendung yang kelak berganti rintik disana. Plaza begitu ramai. Anak-anak berlari ke halaman rumput sehabis membeli balon, tukang balon yang hampir kehilangan senyuman karena asik meniup balon saban hari. Pertokoan di jalan Rue Royale sedang memberikan diskon besar-besaran bagi siapapun yang sedang merayakan ulang tahun, disajikan satu permen raksasa. Tampak buram di mata Dar melihat kedua kakek dan nenek sedang duduk di pinggir plaza dengan bercerita tentang masa muda mereka. Sang kakek veteran perang dan nenek adalah penjual bunga, mereka jatuh cinta ketika membantu Nenek untuk segera bersembunyi dan menutup toko bunganya sebab sekutu musuh hampir tiba kala itu. Pemandangan yang cukup asri, melihat sore yang sedang mengelupas kulit terangnya. Dar cuma berjalan, menunduk seperti sedang ditimpali beban yang sangat berat di kepalanya. Ia hanya ingin segera pulang. Plaza Marseiles cukup megah dengan dipenuhi taman dan bunga-bunga disekitarnya. Itu bisa dilihat dengan petunjuk arah tersebar dimana-mana, agar tidak membingungkan pengunjung yang ada. Namun yang tercipta kini hanya sendu bagi Dar, Ia juga mulai bosan dengan aktivitas bolak-balik Plaza, mengantar koran ke Royale Morouns. Iya, Dar seorang pengantar koran. Tapi untuk kali ini Dar menanamkan ironi pada diri ketika Ia tahu bahwa baru saja sepeda kesayangannya dicuri. Tambahan derita lain, seminggu sebelum sepeda dicuri, yaitu Dar baru saja mendapat kabar bahwa mantan kekasihnya akan diboyong oleh Perwira Angakatan Laut menjadi istri.

Shakespaeare at dusk by Edward Hopper


Dar, ingat betul kabar itu tiba.

Setiap pagi Dar bangun, memeriksa bagaimana suhu diluar sebelum Ia berpakaian dan mengatur rute mengantar koran. Tapi pagi itu tidak biasanya. Pintu kosan yang berada di daerah terpencil kota diketuk. Penjaga asrama mengantar kabar suka cita untuk dirinya. Tapi berbalik keadaan ketika Ia membaca surat itu. Disana tercetak besar, bahwa Larasati mantan kekasihnya membawa kabar duka. Bukan tentang kematian atau sakit. Kertas lesuh berwarna kuning muda dengan nama bercetak miring lalu menempatkan nama Larasati, ditambah kutipan “&” pada kalimat penyambung diantara keduanya. Dar paham betul isi surat itu, undangan pernikahan Larasati. Belum genap 2 bulan mereka berpisah tepat di Plaza Marseiles saat semuanya sedang baik-baik saja. Larasati begitu cepat memberi pintu baru kepada lelaki, Ia beri seluruh hati itu dengan sisa-sisa ampas yang dituangkan kepada Dar. Dar tidak mengambil surat itu dari penjaga asrama. Ia hanya minta tolong simpan saja dibawah sini, menunjuk rak sepatu Dar.

“Saya akan membacanya lebih banyak nanti”

Ia merapati nasibnya. Di sela-sela dinding kamar dengan kaca lumayan besar. Ia pandangi dirinya dengan air mata penuh. Kadang Dar bepikir bahwa nasib adalah bayangan buruk takdir seseorang. Mengapa Tuhan menentukan takdir seseorang begitu buruk, sedangkan lainnya berjalan dengan baik-baik saja. Dari segimana Tuhan menentukan takdir seseorang bahkan sebelum Ia lahir. Pikiran Dar ramai penuh dengan realitas-realitas hidup. Apakah takdir itu benar adanya? Lalu mengapa manusia tecipta kalau bukan untuk mengubah takdirnya sendiri, lalu mengapa nasib lebih pantas menunjukan kegagalan dan lebih banyak menyita harapan?


Dar tersungkur. Ia terjerembab pada sebuah kenyataan yang Ia kira mustahil adanya.

“Padahal baru saja kemarin kau bilang padaku Larasati, menemanimu berjuangan dari menjadi tukang koran adalah kegembiraan buatku. Aku yakin pada dirimu Dar, kamu sudah membuktikanya kepadaku untuk bisa terus hidup manusia hanya butuh harapan dan keyakinan. Kau ambil bagian atas harapan. Biar aku atas keyakinan supaya semua kutumpukan kepadamu. Sama senangnya melihat kau bisa berkuliah dengan membiayai kebutuhan pendidikanmu sendiri”

Mana janjimu Larasati, mana sumpah serapah di hari minggu setiap kebaktian, bahwa Tuhan sangat indah, ia menunjukan anugerahNya di matamu.

Tepat hari ini, semuanya sudah berjalan sebagaimana biasa. Pernikahan Larasati akan terlaksana hari minggu. Lalu nasib bak peluru bertubi-tubi mengutuk Dar kedua kalinya untuk kehilangan sepeda. Dar cuman hanya perlu diam. Dan ia menulis di dinding kamar dengan besar-besar.

“O. Mengapa kita begitu ingin terlihat bahagia? Sedangkan kita hanya punya diri kita yang abadi sebagai organ, sisanya hanya titipan yang Maha kuasa, mungkin. Kita tak punya apa-apa. Kita hanya setia pada ketiadaaan. Bahkan sekarang ketika kita bercermin seseorang di dalam cermin itu juga bukan milik kita”

Ia mengutuk Larasati. Ia menulis besar-besar di kamar kecil itu. Larasati terayu oleh senjata, materi dan kekuasaaan. Benar kata kebanyakan orang, kita butuh lebih banyak harta untuk bahagia. Tak perlu terlalu spritual mencari makna hidup dan manfaat hidup jika hanya lebih banyak menemukan patah dan ironi di atas itu semua.

Plaza Marseiles menjadi sepi. Sebab gerimis kecil mulai turun dan membasahi setiap makhluk hidup disana. Dar masih terdiam di tengah Plaza dekat bunga Flamboyan rinai tumbuh, Ia lupa membedakan air mata dan hujan yang jatuh. Ia berjalan dan ingin segera pulang. Tetapi Ia tidak kuat untuk berlari. Ia hanya ingin berjalan dan itu sudah cukup. Semesta berubah warna menjadi sangat gelap. Tanpa aba-aba tengah kota menjadi sunyi dan dingin di Bulan April mulai menyentuh setiap lapisan udara.

Dar tiba-tiba berhenti. Lalu Ia seka kucuran air yag tak dapat terbendung di matanya. Nasib hanya butuh bagian dimana setiap insan merasa dirinya tetap bisa hidup dan bangkit. Dar menunda sebentar keinginan pulang. Ia hanya berhenti di tengah Plaza Marseils dengan duduk di bangku taman yang basah. Ia tak perlu dikasihani oleh siapapun. Dirinya penunjang atas dirinya. Dar hanya menunggu semuanya berlalu; hujan, amarah langit, dan juga warna gelapnya. Ia menunggu harapan dan keyakinan. Badai akan berlalu. Dar menunggu pelangi dalam hidupnya. Dar menunggu kasih sayang baru atas semua yang telah terjadi, pelangi pertama dalam hidupnya adalah nafas yang masih bisa dihembuskan saat duka ini tercipta. Dia bersyukur atas harapan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.