Pertemuan Yanto Budal

Nampaknya hari cepat berlalu, semuanya tiba menjadi biasa saja. Tak ada bahasa kasih dan sayang lagi dalam benar Mereka beruda. Selain kesedihan dua orang remaja dan punggung mereka yang saling tatap. Yanto Budal sudah paham akan datangnya hari ini. Ia sudah menyiapkan segalanya, termasuk air mata. Tapi, Yanto Budal masih menyayangi mantan kekasihnya. 

Ia ingat pertama kali bagaimana mereka berdua bertemu. Yanto Budal adalah seorang aktivis mahasiswa di Jakarta Barat. Pemikiranya tentang pergerakan ia mulai dengan akar membaca buku-buku Karl Marx dan mengutip sebagian Mikhail Bakunin. Yanto Budal sudah sering mekakukan aksi, dengan tanpa embel-embel dan anti ditunggangi. Hari itu, Yanto Budal sedang rapat bersama mahasiswa lain. Ia menyusun apa yang harus dituntut dan solusi untuk pemerintah. Yanto Budal menyalakan rokoknya. Kini, semua sudah lengkap. Dan masa aksi akan didominasi dari sebagian alamamaternya dan sebagaian lain aliansi dari kampusnya. Tapi, ada yang aneh, ketika Sri Segara menahan masa aksi itu. Sebab pergerakan Yanto Budal, jujur saja, di kampus sangat menanamkan subversifisme. Ia sama sekali tidak memerlukan izin kepada lembaga-lembaga kampus atau Badan Eksekutif. Kawan-kawan Yanto Budal sangatlah setia akan menemaninya saat aksi. Sudah hampir 9 semester Yanto Budal meangadakan tradisi ini. Dan kali ini, tiba-tiba seorang perempuan dengan wajah semolek dan rambut sebahu menghentikannya. 



Sri Segara mahasiswa aktif di kamusnya. Selain berprestasi dalam prodi Hubungan Internasional. Sri Segara juga aktif dalam mengorganisir sistem yang ada di dalam Kampusnya unutk berbagai kegiatan acara kampus, termasuk demonstrasi. Ia menjabat sebagai ketua divisi Menteri Koordinator Sosial Badan Eksekutif kampus. Riwayat terjangnya dalam diplomasi dan kultur debat sudah tak diragukan lagi. Malah Sri Segara menjadi sangat vokal dalam setiap kegiatan apapun. Usut punya usut, Sri Segara akan dicalonkan sebagai Presiden Mahasiswa periode berikutnya. Dan salah satu yang harus diberantas oleh Sri Segara adalah begundal macam Yanto Bundal. Mahasiswa beraliran kiri dengan akar ‘yang-menurut-Sri Segara-adalah-salah’. Tapi sistem yang dikembangkan oleh Yanto Bundal sangatlah memperluas jaringan kampus ke berbagai organisasi mahasiswa dan organisasi masyarakat. Bagaiamana Yanto Bundal bisa mendapatkan masa Aksi kurang lebih 200 orang kalau bukan jaringannya dan pemikirinanya kepada kelompok tertentu. Bagi Yanto Bundal, melawan atau menjadi budak. Yanto Bundal memberontak maka Ia ada.

Bagi sebagain orang, rumor lama selesainya pendidikan Yanto Bundal bukan karena ia bodoh. Tapi Ia masih ingin untuk tetap menanamkan paham ini kepada mahaiswa kampusnya. Buku-buku di kosan Yanto Bundal juga hampir semua berwadah merah. Teman-teman Yanto Bundal pernah bertanya kepadanya:

“Kenapa kau baca buku dengan paham yang sekarang mungkin tak akan berlaku lagi bahkan bisa diberangus di Indonesia?”

“Kamerad, kau kebanyakan ngelantur, sesekali matikan tvmu. Aku baca buku ini karena aku senang membaca saja. Belum tentu aku menanamkan semua paham itu.” Tungkas Yanto Bundal.

Meski cerita Yanto Bundal sudah tersebar luas di kalangan kampus. Tetap saja sebagaian besar menganggapnya bahwa Yanto Bundal adalah ujung tombak kampusnya saat mengeritik, menjabarkan, atau memberi solusi kepada kampus atau saat aksi melawan kebijakan pemerintah.

“Mana izinmu abang, kertas hitam di atas putih? Mana bisa kau bawa saja mahasiswa aktif ini di kampus dengan seenaknya dan kau menggunakan alamamter kami tanpa ada persetujuan badan eksetkutif kampus” tungkas Sri Segara.

Hampir 5 tahun Yanto Bundal berkuliah dan sering melakukan aksi. Baru kali ada seorang perempuan yang menahannya.

“Macam mana surat? Tri Dharma mahasiswa masih sama seperti dulu, dan kau boleh kembali baca itu. Kita semua berhak, apalagi kita warga negara Indonesia. Lagian kubawa mereka karena mereka semua satu pemikiran denganku”

Sore itu akhirnya perdebatan menjadi sangat panjang. Sampai akhirnya salah satu pihak merasa tersinggung dengan ucapan Yanto Bundal, lalu naik pitam. Tanpa disangka ini menjadi sore yang panjang ketika menuju malam, karena aksi pun ditunda malah pegerakan terjadi di kampus Yanto Bundal. Ia malah mengubah strategi dengan menyerang Badan Eksekutif mahasiswa untuk lebih pro memajukan kampus dengan cara aktif dalam aksi dan mengiritik. Bukan melarang mahasiswanya untuk turun ke jalan. Sampai ruang senat badan eksekutif dihancurkan oleh sekelompok tertentu dari Yanto Bundal. Tapi untuk yang satu ini, Yanto Bundal juga tidak tahu menahu kenapa sampai seberingas itu. Yanto Bundal hanya mengiritik Badan Eksekutif tanpa pernah melakukan penyerangan seperti ini. Sebab baginya yang harus dilawan adalah jajaran rektorat yang salah menerapkan kebijakan kampus. Suasana menjadi sangat kacau dan tak terkendali. Yanto Bundal mengumpulkan lagai kamerad-kameradnya untuk membubarkan dan Ia sangat menyesali dengan apa yang barusan dilakukan.

Dari hari itu, Yanto Bundal jadi merasa iba. Terutama kepada Sri Segara. Wanita itu tidak harusnya dilawan dengan cara seperti itu. Permohonan maaf diajukan oleh Yanto Bundal kepada Sri Segara. Sehingga membuat Yanto Bundal menjadi sangat penasaran kepada Sri Segara, karena surat-suratnya yang ia sering kirim kepada Sri Segara kepada lembaga eksutif kampus tidak pernah disetujuinya. Bahkan tak jarang Ia malah sering melihat suratnya di keranjang sampah dan sudah terobek-obek. Pendekatan Yanto Bundal dan Sri Segara untuk meminta maaf menjadi gunjingan kalangan tertentu di kampus. Terutama kelompok kiri yang biasa Yanto Bundal sebuh “Tak Ada Yang Abadi Di Bawah Matahari”. Kamerd-kamerad “Tak Ada Yang Abadi Di Bawah Matahari” malah mengira bahwa Yanto Bundal terjebak dalam suasana dan memetingkan dirinya. Yanto Bundal mulai jarang mengadakan diskusi, atau biasaanya Ia membuka ‘Kelas Setara’ dengan mengajarkan Proudhon, salah satu iniatif Bakunin dalam membuat pemikirina kolektivisme anarkisme. Ia jarang membuat zen dan bacaan terbaru yang biasa disebarluaskan di Kampus. Pegerakan ‘Tak Ada Yang Abadi Di Bawah Mathari’ menjadi sangat terguncang dan pincang sebab kehilangan Yanto Bundal.

Disisi lain, Yanto Bundal lebih mendekatkan diri secara pribadi ke Sri Segara. Ia malah sering mengirim pesan pribadi lewat Line. Benar kata pepatah sekeras-kerasnya batu jika ditetsi air akan rapuh juga. Sri Segara mulai memaafkan Yanto Bundal dalam beberapa minggu itu. Hingga akhirnya membuat Sri Segara menjadikan Yanto Bundal sebagai teman disukisnya dalam pesan. Sri Segara mulai terpesona oleh pemikiran Yanto Bundal, yang baginya absudirtas. Yanto Bundal bukan hanya memahami pemikiran Bakunin. Ia juga kadang suka menggabungkan pemikiran Rene Decartes tentang eksistensinya, dan bertolak berlakang dengan rebelnya dia yang ia anut dari Albert Camus. Sampai Sri Segara yang lebih banyak memahami tentang ilmu sosial tercengang dengan luasnya pengetahuan Yanto Bundal. Sri Segara banyak mendengar filsuf-fulus pada masa lalu itu. Tapi Ia tak mempelajarinya lebih seperti Yanto Bundal. Padahal Yanto Bundal berkuliah di Fakultas Teknik. 

“Kamu tidak mencintai ilmu pasti sesungguhnya, Yanto” Kata Sri Segara ketika mereka bertemu di tempat makan dekat rumah Sri Segara. Mereka saling ingin mengetahui satu sama lain. Hingga berujung pada pertemuan secara langsung antara mereka berdua.

“Aku mencintai ilmu pasti, aku mencintai teknik. Tapi, aku merasa lupa akan itu semua, ketika bola matamu diam menatapku” Sri Segara senyum tak tentu arah.

Pertemuan itu berlalu. Namun selanjutnya lebih banyak pertemuan akan mereka berdua. Hingga Sri Segara mulai mengagumi Yanto Bundal. Namun Sri Segara tidak mengetahui apa maksud dari pendekatan Yanto Bundal kepadanya. Hingga pada suatu siang Sri Segara merasa Yanto Bundal benar menyukainya. 

Siang itu Yanto Bundal mengajak Sri Segar untuk berkunjung ke kosan dekat kampusnya. Sri Segara mengiyakan. Sampai di kamar Yanto Bundal, Sri Segara terheran-heran dengan seuluruh isi kamarnya. Yanto Bundal benar-benar merawat bukunya yang jumlahnya ratusan. Bukan hanya itu, Yanto Bundal juga menyimpan piringan-piringan hitam musik di kamarnya. Lalu untuk menyamakan suasanan Yanto Bundal mengambil satu vynil The Undergroudn Velvet dengan cover pisang buatan Andy Warhol. Album ini menjadi salah satu terbaik baginya. Bukan hanya musiknya tapi juga pengemasan pada muka album. Lalu suasana mnejadi nyaru ketika I’m Waiting For The Man diputar. Lou Reed berirama pelan disana. Sri Segara hanya diam disana dengan masih mencoba mencari buka-buku kesukaannya. Tanpa dinyana Yanto Bundal memeluk pinggang Sri Segara. Membuat Sri Segara sedikit terkejut. Namun Sri Segara menerimanya dengan anggun. Dua remaja ini mulai menghidupkan kupu-kupu di dalam perutnya. 

“Kenapa kau berani menahanku waktu itu?” Kata Yanto Bundal sambil menatap mata Sri Segara dan memgang pipinya.

“Mungkin karena kau pemimpinya, aku jadi harus” Yanto Bundal tertawa. Tidak hanya itu. Ternyata Sri Segara juga tersneyum dan di akhiri tawa..

Mereka berdua mulai berdansa kecil. Lou Reed pada vokal masih bernuansa mesra. The Velvet Underground adalah nuansa sempurna untuk mereka berdua. Lalu Yanto Bundal mengambil langkah tepat. Dengan perlahan menatap bibir Sri Segara dan memajukan bibirnya menuju kesana. Siang itu bukan hanya cuaca saja yang panas. Tapi mereka berdua juga. Yanto Bundal dan Sri Segara yang mulai mengecup satu sama lain, bermesraan dengan buku-buku yang tak sengaja terjatuh oleh Sri Segara. Dan membuat mereka berdua tertawa. Mereka bernar-benar tenggalam dalam semua pemikiran dan ideologi semu. Helai perhelai baju mereka terbuka. Mereka berdua mulai menjadi satu. Yanto Bundal paham betul pada bagian mana Ia harus bertindak, membuat wanita harus mengedipkan kedua matanya dengan nyaman. Kini mereka berdua sudah menjadi bugil dan tak tertahankan. Siang itu dibalut The Velvet Undeground, Sri Segara yakin betul Yanto Bundal bukan hanya menyukainya namun juga mencintainya. Kedunya membuncah. Mereka berdua menjadi satu. Intim. Mesra, dan Aktif.

Comments

Popular posts from this blog

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother