Menemui Si Tukang Onar Dalam Bentuk Masygul

Saya berjumpa dengan Si Tukang Onar saat mas Eka Kurniawan mengunggah foto ucapan selamat Hari Buku Internasional. Saat itu beliau unggah dua buku yang diterjemahkannya dari penulis John Steinbeck berjudul Cannery Row dan Si Tukang Onar karya Marxim Gorky. Dua-duanya langsung saya beli di layanan perdagangan elektronik terbaik saya: Tokopedia. Seharusnya saya terkesima tak habis-habis dengan Cannery Row karena merupakan salah satu buku peraih Nobel Sastra. Tapi, Si Tukang Onar atau judul aslinya Tales of Italy lebih mematil saya, kumpulan cerita pendek di dalamnya lebih licin, mungkin karena banyaknya percakapan antar satu tokoh ke tokoh lainnya. Mas Eka juga berhasil mengalihbahasakan dengan apik, tanpa mengubah makna kata — yang menurut saya, kalau tidak disesuaikan oleh bahasa Indonesia yang baik dan benar bakal tidak ngena artinya.

    Lompatan dari cerita satu ke cerita lain, memilik alur yang mencekam, dominan gelak tawa, menuai pertanyaan-pertanyaan usil setelah membaca, atau termenung karena begitu menyedihkan. Salah satu yang terfavorit, berjudul Bagaimana Giovanni Menjadi Seorang Sosialis, latar belakang awal mengisahkan dua lelaki, Vincenzo, si tukang cat rumah dan Giovanni, si tukang bubut, sedang duduk menghadapi kendi anggur. Giovanni yang kini adalah seorang sosialis — juga kalau melihat keadaanya, ia seorang proletar. Keduanya, seperti biasa pekerja kebanyakan, ngobrol ngalur-ngidul, meminum anggur sebagai penghangat tubuh sebab italy sedang dingin, terdiam saat salah satu dari mereka timbul hasrat ingin bercerita tentang masa lalunya.

    Dalam paragraf bunga-bunga berwarana biru dan emas mekar di sekeliling mereka, sinar matahari bergertar di udara; anggur Alamandine berpercikan dalam gelas kendi; dan dari kejauhan datang bisikan suara laut. Giovani memulai ceritanya bahwa ia dulunya adalah seorang periwira, dalam percekapannya;

“Lahir setelanjang dan sebodoh kau dan orang-orang lainnya. Ketika masih pemuda aku bermimpi mengawini seorang perempuan kaya. Ketika, di ketentaraan, aku bekerja keras untuk bisa menjadi perwira. Aku berumur dua puluh tiga tahun ketika mulai merasa bahwa semua itu tidak benar di dunia ini, dan sungguh memalukan untuk terus jadi orang bodoh”.

    Pada kelanjutnya, Penulis (Gorky) ingin menyampaikan betapa Giovanni cukup plin-plan atas cita-citanya dahulu atau mungkin cukup jenaka kalau dipikir ia rela mati-matian menjadi tentara sebab tak ada pilihan hidup saat itu. Karena Giovanni cukup percaya mistis saat ia dan teman-temanya masuk dalam kesatuan yang dikirim ke Bologna, tanpa ada angin tanpa ada aba-aba sebuah genteng, batu dan tongkat jatuh menibannya serentak, membuat mereka terkujur sekarat. Mereka dibawa oleh kesatuannya ke sebuah rumah. Giovanni memberi alasan bahwa seorang wanita tua, yaitu Tukang Sihir yang memberi serangan tersebut. Ketahayulan itu mungkin tak akan dapat dipercaya oleh Komandan, maka dari itu ia berbohong. Seorang Dokter datang memberi bantuan kepadanya, karena kondisi sedang tidak kondusif saat itu, Giovani akhirnya segera dirawat dan terpaksa harus menggantungkan impan semunya menjadi seorang periwra yang hebat, sebab kondisinya makin hari kian memburuk. Selama itu, ia dirawat oleh perempuan berambut pirang yang di dalam percakapannya 

“Ia merawatku, tapi ia tak menganggapku sebagai manusia! Demi kepentingannya akan menanggung rasa hina sebagai prajurit, dan dia berani menginjak harga diriku. Dia menyangkal hak martabat kemanusiaanku. Demi melingundi harga bendanya kupertaruhkan nyawaku….”

    Berselang musim, Giovanni lebih banyak membuat puisi atau syair-syair di masa menuju tuanya. Salah satu penggalan dari Vicenzo yang membuat saya sedikit termenung juga tertawa di waktu yang sama “Ketika seorang lelaki telah melintasi perjalanan dari dada ibunya menuju dada kekasihnya, maka ia harus berjuang untuk kebahagiaan yang lain”. Akhir dari cerpen Bagiamana Giovanni Menjai Seorang Sosialis ditutup dengan sesuatu yang membekas dikepala saya;  semua orang dapat menulis hal baik, tapi yang paling baik bagi manusia, lagu tentang orang-orang baik. 

    Salah satu bagian terbaik bagi saya dari cerpen ini adalah judulnya sendiri, penggalan cerita tentang Si Tukang Onar cukup membucahkan tawa saya beberapa kali, penuh intrik satir, dan sempat terdiam lumayan lama setelah tanda titik di akhir cerita. Cerita bermula saat dua tokoh berada di sebuah restoran. Si Insiyur sebagai insinyur dan Trama sebagai seorang pekerja alias si tukang onar(firasat saya Gorky lebih memihak kepada Trama). Percakapan antar kedua tokoh cukup membuat kesal dan kental akan kebandelan Trama sebab kekakuan insiyur dalam menghadapai dunia. Itu dapat digambarkan dalam percakapan

“Tidakkah kau sepakat bahwa mesin membebaskan energi fisik manusia sebagaimana buku yang baik membebaskan jiwa?” ucap Trama.

    Setelah basa-basi Trama yang cukup memancing dan sedikit merendahkan pemikiran Insinyur, akhirnya Insinyur geram berlagak, yang tadinya enggan menanggapi obrolan orang yang sering melakukan propaganda, pemogokan-pemogokan, dan kerusuhan menjadi balas idealisme antar satu sama lain. Perdebatan mulai dapat diredam ketika pelayan datang ke arah mereka dengan meja bersebalahan. Pelayan wanita sedikit berbisik kepada Trama bahwa seharusnya ia mempunyai isi kepala yang baik tapi sayang ia seorang idealis yang ulung. Lalu, mereka berdua kembali berdebat tanpa mengurangi rasa pertemanan — Trama selalu bertemu Insinyur saban ia ke restoran ini, Trama tetap melakukan perlawanan dalam setiap pertanyaanya kepada Insiyur, tentang hidup ini indah adalah bagian terunik bagi saya, sebab Insinyur skeptis ketika ia bertanya balik “Karena apa yang dijanjikan?”.

    Lalu, dengan impulsif Trama menjawab “Hidup itu indah, karena semua yang aku cintai padanya! Persetan semua, Sobatku, kata-kata bagiku tak hanya suara dan huruf; ketika aku membaca buku, melihat lukisan, atau memegang sesuatu yang cantik aku merasa seolah-olah menciptakan itu semua dengan tanganku sendiri”. Saya melonjak, tertawa sebentar, dan merasa ini cukup masuk akal dalam kategori menyinggung.

    Insinyur terganggu dengan sedemikan pertanyaan yang dilemparkan kepadanya. Juga semua jawaban yang dengan cepat Trama jawab. Insinyur pergi terlebih dahulu menninggalkan restoran. Cerita ini berakhir dengan nasihat Insiyur agar giat belajar, tidak melakukan hal-hal yang merepotkan, dan merugikan perusahaannya. Trama tetap menjawab, kalaupun dirugikan seharusnya perusahaan tidak melakukan penambalan-penambalan dana untuk merajakan perusahaanya, lebih baik dialihkan sebagai tambahan upah pekerja agar pangan, sandang dan papan terpenuhi.

    Ya, Si Tukang Onar bukan hanya menarik saya, ia menenggelamkan saya pada upaya-upaya manusia usil yang cukup berani menyentil hak-hak mereka yang terampas. Konklusi dari kisah ini cukup sederhana; pertemanan antara Trama yang memimpin organisasi buruh (mungkin) dan Insinyur yang selalu mementingkan benda-mati-bergeraknya ketimbang kebutuhan pekerja, beradu pemikiran di sebuah restoran tanpa perlu muskil mencari celah untuk menyembunyikan kepura-puraan yang sebetulnya sudah geram maksimal terhadap sistem.

    Ketika saya menamatkan buku setebal 147 halaman ini, saya malah ketagihan untuk membaca ulang kisah-kisah pilihan saya. Dan akhirnya memutuskan untuk membuat resensinya disini. Maxim Gorky sendiri disebut-sebut beraliran realisme sosialis, dan ia aktif dalam aktivitas sosial politik menentang sistem pemerintahan yang mencederai kemanusiaan.

Judul : Si Tukang Onar diterjemahkan dari Tales of Italy
Penulis : Marxim Gorky
Penerjemah : Eka Kurniawan
No. ISBN : 978-602-6486-27-1
Penerbit         : BACA
Terbit : Februari 2019
Halaman : 147

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Bule dan Jomblo Kesasar.

Plaza Marseiles