Dipan Terakhir

Mengapa Begitu Bahagia? Jika Sedih Lebih Manusia


Kita tertawa terbahak-bahak menghabiskan waktu di ujung jalan dekat danau. Pernah aku tanya padamu, apakah yang sedang kita lakukan ini adalah bentuk bahagia? Kamu mengangguk dengan yakin. Lalu, kembali tertawa setelah menghitung berapa kali orang yang memakai baju biru di seberang sana akan lompat saat ia dikejutkan oleh temanya sebab ia latah. Tebakanku selalu salah, begitu pula dengan tebakanmu. Namun, tentu kau selalu bisa memberi alasan bahwa tadinya aku menebak sekian tapi dalam hati, setelah itu aku pasti mengacak-acak rambutmu sambil kesal. Kita dua remaja yang saling melengkapi hari itu, juga mengiyakan teori tentang bumi yang berhenti sebentar ketika sedang bahagia, terutama jatuh cinta. Tapi, pertanyaannya apa ini akan selamanya? 

Gelap resmi turun, merayap dari sisi-sisi langit bagian tengah menjalar dan menyeluruh. Kau mengajaku untuk pulang, seharusnya aku dapat menolaknya. Aku dapat bahagia sampai besok pagi atau lusa, atau mungkin sampai dua hari sebelum kiamat. Tapi, motor sudah kau nyalakan dan kau memakaikan helm dengan tidak lupa menguncinya hingga klik kepadaku sambil megusap-usap jidat dan mencubit hidungku. Maksudmu itu apa aku tak pernah tahu, tapi itu ritual setiap kali kamu memakaikan helm kepadaku, manja bukan? Dalam perjalanan pulang kamu nyanyi dengan nada yang tidak jelas, suara fals merobek malam di Rasuna Said, dan aku selalu memukul-mukul pundakmu kalau sudah kelewat waras. Selebihnya aku peluk erat kamu. Sambil berucap

“Ini perut kamu sama punggungnya boleh aku bawa pulang gak buat guling?” Kataku.

“Enak aja, nanti perut buncitku hilang dong” Katamu sambil berdehem.

Perjalanan cepat sekali, rasa-rasanya baru saja tadi kau ajak aku bertemu sore ini. Sekarang sudah di rumahku saja dan kamu pamit untuk pulang, yang tersisa kini hanya punggungmu di atas motor dengan jaket varisty baseball biru gelap dan helm abu-abu yang menatap mataku yang sedih. Kebahagiaan baru saja usai.

Di malam-malam selanjutnya kau selalu menelfonku dan sepertinya suara terakhirmu sedikit serak malam itu. 

“Kebahagiaan itu sebenarnya semu, kita gak akan bisa hidup dengan kebahagiaan selamanya. Apalagi gantungin itu kepada orang lain. Bahkan, ketika aku tahu setiap sesudah main bareng kamu, aku pulang kerumah, yang tersisa cuma hal-hal sederhana yang biasa aja. Kurva senyum manismu dan suara keanak-anakan cuma jadi letupan memori yang jenaka kalau dingat. Jadi, kalau nanti mungkin, amit-amit ya, kita udah enggak, kamu harus bahagia atas diri kamu sendiri yaa” ucapmu.'

Benar kata kamu, aku mencoba berbahagia atas diriku. Namun, itu hanya berhasil untuk sementara. Kecemasan hadir di sela-sela akan usainya kebahagiaan. Bukankah sisanya hanya tinggal hal-hal biasa bahkan kesedihan, kesedihan lebih manusia bukan? Seraya aku menabur beberapa bunga anyelir di atas dipan terakhirmu dan merapal lagi doa sebanyak-banyaknya.

Desember, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

Bule dan Jomblo Kesasar.