Usaha Menulis Jakarta Cantik

Kalau kamu punya uang lima puluh ribu, kamu bisa membeli hasis di pertigaan jalan itu. Sebelumnya, tentu harus berhati-hati, banyak yang mengawasi. Tapi, daerah kampus tak perlulah dicurigakan. Dengan jumlah uang sekian, kamu sudah mendapatkan dua linting, kalau pintar melinting tentu bisa dapat tiga. Jangan lupa membeli kertas papir sebagai pembungkusnya. Dan bakarlah. 

Lima depa di sebrang jalan, kamu juga bisa membeli minuman keras: Bintang, Heineken, Anggur Merah, dan pelbagi merek lainnya. Salah satu resep favorit kesukaanmu adalah Abidin (Anggu Merah campur bir dingin). Itu pula kesukaan rakyat sekitar sini untuk teler berantakan. Tapi, janganlah kau melakukan itu semua kalau belum cukup umur.

Kamu pun dapat membawa batang kayu dan melemparnya, disana ada seekor anjing menggonggong kilafah berlalu, bukan itu harfiahnya. Anjing itu akan sudi mendekatimu. Jangan lupa, kau beri anjing itu makan, mungkin kaldu tulang atau jeroan. Dengan begitu, kamu sudah bersedekah. Sesederhana itu kamu dapat menikmati senja sureal tenggelam di jakarta yang cantik.

Badan telentang mendengak ke atas, membentangkan diri menghadap utara di langit atap rumahmu, memandang bumantara sambil mengisap lintingan tadi, dan matamu menjadi berair, memerah, lalu tawa meledak membahana. Kamu menertawakan angkasa yang sedang teduh pelita, begitu suram katamu, sama seperti masa depanmu di sini. Kamu tambah lagi tawa kedua dengan membual

 “Ah tai!.”     

Itulah monolog pertamamu saat patah hati. Tak ada prestasi, melainkan umpatan frustasi.

Kamu masih disana tepat sekitar setengah lima, menyetel lagu Sore dengan judul yang sama. Mengawang-awang dan dirimu makin tinggi menuju zenit. 

Kamu ingat pertama kali bagaimana ia menyukaimu. Saat mengenakan kaos Rage  Against The Machine, jeans biru bolong di dengkul, dan rokok membara di mulutmu. Ia bilang kamu keren, Rockstar, Rockstar bajingan tepatnya. Setelah itu, kamu mengajaknya jalan mengelilingi Jakarta. Sekitar pukul dua pagi tentunya. Akan sulit menamatkan kota ini saat pulang kantor atau jam sibuk malam.

Pelesrian dimulai. Kamu menuju ke sana, ke bypass, daerah Rawasari, tepat dimana kampung terpadat di Asia Tenggara berada, yaitu Tanah Tinggi Johar Baru. Kamu melewati itu, membeli nasi uduk tepat di sisi kali berwarna cemani pekat, sekitar jam satu pagi. Kamu habiskan itu nasi uduk, menutupnya dengan teh hangat dan rokok. Sekonyong-konyong kamu terkesiap ketika ia meminta rokokmu. Ia bilang, pagi ini aku ingin merokok denganmu, asapnya menyembul, asap kalian berdua mesra bersetubuh menjadi satu di langit. 

Kamu menyalakan lagi motormu, kamu laju itu motor punya gas. Tepat dibelakangmu, ia memelukmu rengkuh mesra, dekap, dan penuh hangat. Kamu terkekeh ringan. Melewati Pasar Pramuka, dimana bukan cuma perkakas pramuka dijual di sana, malah dominan penjual burung, berbagai jenis burung. Lovebird, kenari, parkit, nuri atau burung dara enaknya nyambung terus. Itu barusan iklan. Kamu memasuki Matraman, dimana The Upstairs membuat lirik patah hati yang menjadi puncak kejayaannya kala itu.

Kalau kamu berada di jalan layang Matraman, kamu boleh menengok kiri melihat Gramedia, terusan Otista, dan terus menuju Cawang.  Kalau hendak memandang kanan kamu dapat melihat Salemba UI, arah Pasar senen, terus menuju Ancol pada tujuan akhir. Tapi, tergantung dari arah mana kamu berkendara.

“Aku senang punya kamu,” ia bilang sambil menaruh kepalanya ke atas bahumu.

“Aku senang punya motor ini, bisa bawa kamu dan jadi senang punya aku.” katamu mencoba membalas.

Kalian berdua serupa junai emas yang siap mengepakan sayap dan lekas berputar-putar menari. Kini, kamu memasuki gerbang kekayaan, kearifan, keningratan bagian Jakarta, yaitu Menteng. Dibuka oleh Tugu Proklamasi dekat dengan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, lalu lebar-lebar jalan terbuka dimana rumah megah bertengger. Lampu merah disini berjubel-jubel, kamu selalu kesal. Sebabnya jika melanggar akan gampang kena karena banyak CCTV.

Dan kamu sekarang sudah berada di jantung kota ini. Bundaran HI, jalan Sudirman, dimana gedung pencakar langit tersedia dimana-mana. Sempat, kamu bersumpah bahwa kamu tak akan mau kerja disini, tapi malah karma yang kau dapat. Kamu tetap di Sudirman sebab jalannya cukup panjang. Ada juga SCBD semacam induk khusus yang ditinggali untuk para budak coorprate dan ahensi. Ada lapangan Gelora Bung Karno, iya, itu nampak dari luar dan sekumpulan pemuda sedang bermain skateboard di sekitar pendestrian sampai sekitar pukul dua pagi. Jangan heran, ini malam minggu! Semuanya akan begitu.

Kamu lanjut terus melewati Plaza Senayan dan Senayan City, salah dua mall yang kamu gemari. Lebih karena mall ini tidak terlalu memusingkan dibanding Grand Indonesia dan Lotte Shopping Avenue yang macam labirin itu. Sekarang kamu di Blok M, dewasa ini mulai terkenal M Bloc yang dulunya bekas bangunan Peruri Indonesia, dialihkan jadi trempat kreatif muda mudi. Kamu sempat tidak menyukai tempat itu. Kamu pernah melempar koin tepat di depan gedung itu dan malah yang datang para preman memalakmu, bukanlah wangsit. 

“Istrahat dulu ya,” ucapmu di pelataran Melawai, little Tokyo sebagian orang bilang.

“Kamu mau nitip sesuatu? Aku mau ke Circle K.” tambahmu lagi, kemudian ia hanya ingin air mineral. Tapi, yang tidak ada manis-manisnya.

Lalu kalian disana, di pelataran itu, berkisah bahwa gerai-gerai ini adalah tempat karoke, juga para pekerja hostes, tunasusila, gongli, dan cabo. Semuanya ada, kamu dapat menyanyi sambil ditemani mereka atau penari striptis. Mungkin, dapat juga menjadi bugil di atas seloki Martini koktail atau Chivas Regal campur coca cola sedikit.

Sumber Foto

x

Ini Jakartaku, ucapmu. Sebab kamu lahir disini, Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas kamu disini, bahkan berkuliah disini. Pernah suatu ketika dahulu, kamu ikut tawuran dengan SMA daerah Jakarta Barat, salah satu temanmu sekarat, hampir mati setelah koma berminggu-minggu. Mungkin kamu mengingatnya, kamu pun pernah ikut memukul anak yang sering merundungi temanmu di sekolahnya, dengan imbalan seratus ribu, beberapa hari kemudian kamu masuk penjara, dan dikeluarkan dari sekolah. Setelah hampir seminggu kamu mendekam di penjara, akhirnya kamu dikeluarkan karena cuma ikut-ikutan. Ibumu hanya menangis, dan ayah menggamparmu sambil bersenggak “Jadi lelaki harus bertanggung jawab!”.

Itu malam romantis kita bukan? 

Kala dimana rokoknya penuh merah nyala api, namun asapnya tak ia hembuskan ke langit, melainkan ke mulutmu. Mesra betul kedua bibir kalian di pelataran Melawai pagi itu.

Kini kamu sudah menghabiskan satu botol bir Bintang sendirian di loteng. Menangis sejadi-jadinya. Mengingat itu semua.

Ia — si mantanmu itu — lebih memilih lelaki baru yang lebih terlihat masa depannya. Seorang insinyur lulusan dari Univeristas ternama. Orang tua jelas asal-usulnya, yang punya jabatan bahari di kantor. 

Lalu di loteng itu kamu bersumpah pada dirimu, yang sedang beranjak menuju 21 tahun. Ini akan menjadi bagian terakhir dari penyesalan, kesalahan, dan perbuatan burukmu. Kemudian hari, kelak kamu akan sugih, kaya raya, kaya hati, popularitas menjulang melangit, dan bermanfaat bagi sekitar. Kamu akan secanggih itu. 

Tawang Jakarta sedang indah, awan menggumpal mendominasi, burung-burung mengarak kawanannya kembali ke sarang, bunyi klakson tumpah ruah di jalanan, dan suara azan ashar mengambang tanda Tuhan memanggil. Bagaimana kamu menyesali itu semua? Semenit kemudian kamu termenung dan mengetahui bahwa hidup begitu menakjubkan. Tapi sayang, kamu belum betul-betul menyadari itu.

***

Delapan tahun kemudian, aku bertemu dengan “kamu” dalam cerita ini. Saat aku masih kerja parttime designer di salah satu instansi negara. Ia Tenaga Ahli sekarang, dan sudah sugih tentunya. Aku pun tak menyangka masa lalunya nampak sesuram itu. Ia bercerita penuh gelak tawa, tapi, hatinya tidak, jika mengingat-ingat itu kembali. Ia hanya berpesan “Jalani aja hidup lu, jadi yang terbaik dalam hidup lu. Gak ada yang tahu apa yang bakal terjadi di depan.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

You Must Be Strong, Brother

Plaza Marseiles