Awal & Kamboja

Saat anak itu berkunjung ke pemakaman, pohon kamboja belum juga berbunga, menggelayut bertangkai dahan kosong dan sedikit meringkuk, seperti sedang melindungi siapapun dibawahnya meski gembur dicium sinar matahari. Si anak menenteng kumpulan bunga dan air siraman. Seorang diri. Anak ini baru saja resmi lulus sekolah menengah. Kelak ia akan menjumpai sesuatu yang lebih nyata dari sekedar buku pelajaran, meja belajar, dan papan tulis; hidup.

Kunjungan ini, sebagai sambutan ramadhan yang hampir tiba. Cepat sekali, batinnya. Serasa baru kemarin jumpanya. Mungkin semua akan mengira seperti itu. Bulan itu seakan merayap, berjalan, atau melompat dari pantulan ke pantulan lain, dan inilah dia, datang penuh kebaikan. Tepat di Blad 16, anak itu berhenti. Lalu membelok menyusuri nisan-nisan disana, setapak gumpalan tanah dijejaki. Ia menghitung langkahnya sebanyak 30 atau barangkali 32 tapakan. Agar sampai di sana. Di patok makam sang ibu.

Sampai sudah sergahnya. Ia lihat patok kuburan itu, kini rimbun dengan rerumputan hijau sebagai alasnya. Ia memanggil seorang remaja yang sedang bekerja, lengkap dengan sapu lidi dan gunting rumput di kedua lengannya. Biasanya memang selalu macam itu. Mendekati ramadhan akan selalu ramai, pekerja lepas yang menyambi mencari jajan tambahan dari membantu membersihkan makam orang. Si Remaja menghampirinya. Dan mulai membersihkan makam itu. Menggunting rumput yang kiranya berbentuk tak wajar terlalu tinggi, membersihkan bebatuan atau mungkin bekas sampah pengunjung sekitar, dan tentu menyirami air sebagai penutup dari itu semua. Setelah itu kelar. Si anak memberi uang secukupnya, remaja mengucapkan terima kasih, dan tak mengindahkan apa yang dilakukan oleh anak sesudahnya.


“Assalamualaikum, bu. Aku datang lagi. Gak kerasa ya bu, setiap kali kesini semuanya begitu terasa laju. Semenjak ibu tak hadir dalam rumah lagi, aku rasa aku semakin begitu sangat kuat dan tentu mandiri. Tumpukan piring yang sering ibu teriakan dahulu, supaya cepat aku mencucinya. Kini, bahkan tak sampai bertumpuk, sudah kucuci. Mengepel dan menyampu menjadi bagianku. Kulakukan pribadi. Semenjak adik berangkat mondok ke Jawa. Rumah nampak menjadi sepi. Aku merasa setiap ruangan begitu sangat lega untuk diriku sendiri bu.” tentu monolog itu sedikit terbata-bata seraya bulir air yang mengendap di ujung matanya. Mendung yang tak kunjung hujan.

“Aku nampaknya tak cukup pandai untuk bercerita. Mungkin salah satau keinginan ibu dulu, untuk jujur dan berterus terang belum bisa kuwujudkan. Aku masih menyimpan kesedihan ini sendiri. Aku berlagak seperti pohon oak, sementara dalam akarnya aku hanya pohon bambu.”

“Adik kini cukup pandai mengaji. Setiap kami melakukan pertemuan lewat gawai. Menatap mata ke mata. Aku seperti melihat kerinduan seorang bocah kepada kakaknya. Apalagi setelah ia sering membahas bahwa ia sering mengirim doa untuk kami sekeluarga. Mataku rasanya hampir basah mendengar itu. Tapi, tentu tak kutunjukan. Sebenarnya, aku iba melihat adik, seusia dia sudah lupa kapan terakhir kali ibu menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkan, mengecup kening sebelum tidur, atau rengkuh memeluk menghangatkan. Kadang aku melakukan itu. Namun, selalu rasa berbeda mungkin dalam benaknya, jika itu ibu yang melakukan.”

Azan sore mengambang, menyeruak dari satu surau ke surau lain. Ia menjeda ucapannya, ia berhenti sejenak dalam penggalan kata terakhirnya. Lalu, ketika semuanya sudah menjadi bias, sayup, dan tak terdengar kembali. Ia ucap lain hal lagi berikutnya

“Ramadhan ini mungkin bakal jadi begitu berbeda, bu. Dulu aku tak begitu khawatir manakala aku melanjutkan sekolahku. Sebab, sekolah negeri di kabupaten perihal mudah, jika memenhui syarat dan sedikit kepintaran. Dan beruntungnya, aku selalu menjadi yang terbaik di kelas. Namun, tahun ini berbeda. Aku masih sering kepikiran, apakah aku bakal lanjut kuliah atau bekerja saja. Tidaklah gampang untuk mendapatkan beasiswa. Aku paham, meski uwak sering mengirimi uang untuk kami dan rela menanggung beban hidup kami selama kami masih ingin sekolah, tapi tentu saja ada ruang kecil yang kurasa tidak pantas untuk tetap bergantung padanya. Biarlah beliau mengurusi adik saja. Dan aku mulai menghidupi dan membenahi diriku sendiri.”

“Barangkali kala ibu muda, ibu pernah merasakan ini pula. Perasaan seorang remaja yang begitu muhal, ingin selalu mandiri dalam dirinya. Sungguh menyebalkan bu. Dewasa, kiranya betul ucapmu dulu. Begitu brutal. Ingin saja aku kembali ke rahimu, melakukan perjalanan kecil, mengelilingi diri sebagai bentuk kesalahan dan pertanyaan mengapa kita dilahirkan bila kemudian kebingungan mencari apa tujuan hidup? Ah, bu. Bagiamana aku sudah begitu mahfum bukan untuk mengolah kata barusan sebagai bentuk filsafah. Dulu, kau selalu menggaungkan itu, atau aku lupa, apa aku menghidu buku-buku di rak lemari malasmu itu. Barangkali bu, berkah dari Tuhan, adalah segala ilmu yang pernah engkau warisi baik dari dongeg sebelum aku terlelap atau dekap kasih mengajariku dalam rumah.”

Ia menyudahi percakapannya sampai disana. Ia lalu membuka tas selendang mininya, dan mengeluarkan buku mini berisi ayat suci. Ia lalu mendoakan ibunya, mengirim al fatihah dan yasin. Ia sangat rindu kepada ibunya. Lima tahun sudah, jika digunakan sebagai satu periode pelaksanaan dalam bernegera, cukuplah lama membuat pusing kepala negara. Dengan sisa air siraman yang diberi remaja tadi, ia sedikit membersihkan batu nisan yang telah berbentuk menjadi marmer indah penuh ukiran nan elok. Ia bersihkan sedemikian rupa. Supaya terlihat cegak dan tak begitu kusam dipandang. Dan sesudahnya, ia cuma bisa termenung diam, meratapi penuh kasih, yang tersisa cuma endapan air basah di ujung matanya namun tak juga deras turun. Selalu begitu. Lalu, kenapa ia tak juga bisa menangis sesenggukkan, sedangkan kasih ibu untuk seorang anak telah lama pergi?

Ia cukupkan untuk ibunya dan berdiri.

Ia jalan lagi sekian depa ke timur makam. Tidak jauh dari sana. Ia duduk kembali, dan melakukan hal yang sama dengan barusan. Dan membuka. “Bapak, kiranya disana tak jua kau temui durian, janganlah sungkan meminta ke malaikat” Sedikit kurva mungil menghidupi senyumnya. Mengingat delapan tahun lalu lelucon kecil apa yang pernah beliau umpatkan kepadanya.

Kiranya, bocah itu mulai memahami, mengapa ramadhan datang selalu cepat. Ini mungkin bentuk pertemuan yang selalu dirindukan keduanya. Kemudian, Ia mendengak sebentar pada pohonan kamboja itu, layu dan tak berbunga. Setelah sekian lama berbunga, ia habiskan dirinya hanya untuk kerelaan sebagai helai yang lingsir. Jatuh dan utuh sebagai bunga. Menghidupi setiap nisan dan gugur dan indah. Sama seperti hari ke depan, kelak manfaat telah ditebar, kecukupan sudi tergapai, sisanya hanya keguguran, dan ranting itu adalah sisa guratan pertemuan setiap insan, menandakan eksistensinya, menunggu kelak kapan kita kan kembali ke haribaan. 

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Yanto Budal

Plaza Marseiles

You Must Be Strong, Brother